Senin, 15 Desember 2014

Bintang dan Kau

Sirius,,,Canopus,,, dan Arcturus,,,,
Bintang-bintang itu indah,cantik, menawan dan mengagumkan
Disaat malam dinaungi awan yang berwarna gelap dan kepekatannya
Bintang-bintang itu dengan manja menggelayut mesra
Seakan membuatku iri dan mengagumi keindahan mereka
Mereka memang indah, canik dan menawan,
Namun bagiku,,,.
Semua keelokan itu hanya bisa aku tatap dan kupandang, tanpa pernah bisa tuk aku rengkuh dan ku gapai.
Kaupun seindah, secantik dan bahkan kau jauh lebih menawan dari bintang-bintang itu
Dari kejauhan pun, keindahan itu begitu memancar dan menyilaukan mata
Mendengar nama mu pun sudah cukup membuat hati ini bergetar dan bimbang
Pada hakikatnya kau dan bintang memang selalu tampak indah dari kejauhan
Dan bagiku engkau dan bintang adalah keindahan yang tak pernah bisa ku rengkuh sampai kapanpun
Untaian kata teruntuk bitang yang paling benderang dalam hatiku


Jumat, 31 Oktober 2014

Surat dari si bungsu

Untuk : Kakak Sulungku
Dari : Si Ragil

 Gak terasa yah cak, sekarang sudah tanggal. 31 oktober. Tepat 34 tahun lalu Almh. Ibu memberikn kesempatan untuk sosok kakak laki-lakiku terlahir kedunia. Kakak yang bisa di bilang tegas dalam setiap perkataannya, kakak yang bisa dikatakan sedikit dingin (meski itu hanya menurut pendapat pribadiku mungkin ^_^) tapi masih sangat peduli dengan keluarganya, sosok kakak yang sangat menyukai KOPI, dan sosok kakak yang suka bekerja keras. Sudah 13 tahun aku menghabiskan waktu bersama cacak, tapi sepertinya aku masih belum bisa memberikan hadiah terindah disetiap pertambahan umurmu, aku hanya bisa memberikan untaian do’a yang tidak akan pernah ada habisnya, akupun tak pernah bisa membuat mu tersenyum bangga karena aku, dan bahkan aku tidak pernah bisa membuatkan secangkir kopi untuk cacak. Tapi tenang cak, mbak ita sudah mengajariku cara membuat kopi, ya meski rasanya tak seenak buatan mbak ita dan mbak fitri tapi yang jelas kopiku masih bisa cacak minum, gak seperti kopi yang dulu sempat aku buatkan -__-“ .
 Teruntuk cacakku “MUHAMMAD ISHAQ” terima kasih untuk semuanya, untuk semua kasih sayang dan segalanya yang tak bisa aku sebutkan satu persatu. Untuk semua kebahagiaan yang tak pernah bisa ku dapatkan jika aku seorang diri, dan pastinya terima kasih untuk menjadi sosok cacak yang begitu hebat untuk kami. Semoga dengan bertambahnya umur cacak, bertambah pula segala kasih sayang dan keridhoan_Nya untuk cacak, keluarga, dan keluarga kita. Amin ya Robb…. Sekali lagi “SELAMAT ULANG TAHUN YANG KE-34 CACAK”


Kamis, 04 September 2014

Kisah lain pelabuhan baru

Pelabuhan baru Probolinggo, Mungkin ada beberapa orang-orang tidak asing begitu mendengar tempat ini. Tempat yang terkenal dengan wisata mangrovenya, tempat pelelangan ikan, bau amis dan masih banyak mungkin definisi yang dilontarkan oleh orang-orang yang mendengar nama tempat ini. Setiap orang pasti punya pendapatnya masing-masing mengenai tempat ini, begitu juga aku. Bagiku tempat ini bukanlah hanya tempat wisata semata, ditempat ini aku punya sebuah keluarga. Yah meski tak ada keterikatan darah antara aku dengan mereka, mereka yang telah menganggap aku sebagai salah satu anggota dari keluarga besar mereka. Aku hanya teman baik dari salah satu putri mereka, dan mereka sudah menganggap aku sebagai salah satu keluarga mereka.
Keluarga ini sama dengan keluarga kebanyakan, ada ayah dan ibu yang begitu hangat kepada putra-putri mereka tak terkecuali aku. Ada Merry si anak sulung dari keluarga ini, Rama si anak lelaki satu-satunya dan ada juga Kiki si bungsu yang bisa dibilang sedikit “bandel”. Selain mereka ada juga bibi dan paman, sepupu, dan keponakan dari Merry (teman satu kampusku), mereka juga tidak kalah ramah terhadapku. Keluarga yang bisa dibilang cukup besar ini memang tampak sama jika dilihat oleh mereka yang tidak mengenal mereka sepenuhnya, tapi ada satu hal yang sangat aku kagumi dari keluarga ini. Setiap ba’da isya’ keluarga besar ini selalu menyempatkn waktu mereka untuk berkumpul dirumah bibi Merry selaku saudara tertua. Seperti malam ini, ibu Merry seperti biasa memintaku menginap dirumahnya jika aku sendirian di tempat kostku, dan jadilah malam ini aku menginap dirumah mereka. Seperti biasa, setelah makan malam Merry mengajakku untuk berkumpul dengan keluarganya. Awalnya memang aku merasa sedikit canggung berada ditengah-tengah mereka (secara akukan seorang gadis yang pemalu >,<). Tak banyak yang mereka lakukan “diperkumpulan” ini, sekedar berkumpul membicarakan kegiatan mereka selama satu hari ini, jika ada yang punya tugas kuliah tak jarang mereka membantu mengerjakan tugas itu. Sederhana sekalikan ?? tapi bagiku mereka begitu hebat, mampu menyisihkan waktu mereka untuk berkumpul dengan sanak keluarga yang mungkin untuk saat ini jarang dilakukan oleh keluarga kebanyakan. Untuk Merry, sampaikan salam terima kasihku kepada keluargamu yang sudah mengajarkan begitu banyak makna dari kelurga sebenarnya, dan salam juga untuk keluargamu yang sudah begitu hangat dan ramah menerima aku sebagai salah satu bagian dari mereka.

Minggu, 10 Agustus 2014

Tentang Janji

“Ketika Seseorang Berjanji, Mereka Harus Siap Dengan Segala Resikonya Hingga Yang Terburuk Sekalipun” mungkin ini satu lagi ilmu yang bisa aku ambil dari pengalamanku sendiri. Aku memang terbilang salah satu orang yang begitu gampang mengucapkan sebuah janji tanpa memikirkan terlebih dahula apa dampak dari janji yang aku lontarkan itu. Hingga suatu ketika sebuah janji gila telah aku lontarkan, dan secara spontan janji itu telah merubah hidupku 90% mungkin dari kehidupan normalku. Aku sempat berpikir, mungkin ini karma Tuhan kepada ku yang begitu gampang melontarkan sebuah janji. Namun aku berpikir kembali, ini bukan karma, ini bukan hukuman untukku, melain kan sebuah cara terindah Tuhan untuk mengingatkan ku akan kelalaian yang sempat aku perbuat tempo hari. Akibat janji paling gila yang aku lontarkan itu aku harus benar-benar berjuang untuk kembali memutar poros kehidupanku seperti semula, meski tak sepenuhnya hidupku itu kembali seperti semual karena telah terkikis oleh janji itu. Ah,,, andai saja doraemon itu benar-benar ada aku pasti akan menghampiri dia untuk meminjam alat pemutar waktu, sehingga aku bisa kembali pada waktu dimana aku melontarkan janji gila itu dan aku akan memilih untuk tidak pernah melontarkan janji itu. Dan mulai saat ini aku bertekad dalam hati kecilku <3 bahwa lidah, hati dan pikiran haruslah sejalan seperti ucapan shizuka "aku tidak bisa menjanjikan hal yang tidak ku inginkan". 100814

Selasa, 05 Agustus 2014

segores kisah

   Saat pagi, ku segera beranjak untuk menatap sang mentari dan bertanya apakah kau tidur dengan nyenyak tadi malam. Dan saat malam mulai datang, aku menatap skali lagi semburat cahaya sang rembulan, dan aku titipkan sebuah mimpi indah untuk tidurmu. Semua aku lakukan karna aku sangat ingin tau kau mendapatkan segala hal yang terindah meski tanpa ada diriku dalam hidup dan hati mu :') . Mungkin dengan cara seperti inilah aku bisa mengetahui semua keadaanmu, setiap sore aku duduk menanti senja, yah,,, senja yang mambawa aku untuk bernostalgia tentang keindahan dan tawa yang sempat kita ciptakan ditengah warna jingga senaja. Tapi ,,, mungkin hanya aku yang mengingat dan begitu lekat dalam ingatanku tentang segala hal indah yang pernah kita lewati dulu. Ya dulu,,, waktu dimana aku dan kamu masih menjadi kita, waktu dimana sakit mu adalah sakitku juga, wktu dmana bahagia mu adalah bahagiaku dengan melihat seyummu saja aku merasa teramat bahagia. Namun  sadar, kau dan aku tak lagi menjadi kta, jalan yang kita tempuh tak lagi beriringan.:) Inilah hdup, akan tba saatnya kita terjatuh, namun itu bukan alasan kta tk ttap terpuruk :)

Saat pagi, ku segera beranjak untuk menatap sang mentari dan bertanya apakah kau tidur dengan nyenyak tadi malam. Dan saat malam mulai datang, aku menatap skali lagi semburat cahaya sang rembulan, dan aku titipkan sebuah mimpi indah untuk tidurmu. Semua aku lakukan karna aku sangat ingin tau kau mendapatkan segala hal yang terindah meski tanda ada diriku dalam hidup dan hati mu :')


Rabu, 07 Mei 2014

hvent Lomba Puisi Tentang Indonesia oleh Pena Meta Kata DL 08 Mei 2014.
LOMBA PUISI : TENTANG INDONESIAKU TERCINTA OLEH PENERBIT META KATA17 April 2014 pukul 16:41Tiga hal apa yang terbesit di pikiran Anda kala ada yang menyebutkan kata ‘Indonesia’? Negeri yang makmur, subur dan rakyat yang ramah. Benarkah? Rasanya tak pantas di negeri makmur dan subur bila masih banyak rakyat miskin dan kelaparan di setiap sudutnya. Rakyat yang ramah pun rasanya bukan kata yang tepat karena kejahatan merajalela dan tak segan saling menjatuhkan satu sama lain. Oleh karena, pergeseran arti Indonesia tersebut, kami mengharapkan teman-teman sekalian untuk berpartisipasi menyampaikan uneg-uneg, harapan atau pun doanya tentang Indonesiaku tercinta. Krisan dalam bentuk puisi tersebut dengan tema sebagai berikut (pilih salah satu):


1. Pengangguran


2. Pendidikan


3. Kemiskinan


4. Kerusakan Lingkungan


Adapun persyaratan lomba sebagai berikut:


1.Lomba terbuka untuk umum.


2.Lomba dibuka dari tanggal 17 april sampai dengan 8 mei 2014 (pukul 23:59 WIB). Hasil lomba akan diumumkan pada tanggal 15 Mei 2014.


3.Membagikan info lomba ke minimal 25 teman facebook, twitter, atau posting di blog pribadi (pilih salah satu).


4.Like FansPage “Penerbit Meta Kata” dan bergabung dalam grup Pena Meta Kata


5.Naskah dalam bentuk puisi terdiri dari 16 baris  (boleh dalam bait tapi maksimal 4 bait). Dibawah naskah dilengkapi biodata narasi sebanyak 50 kata (termasuk di dalamnya akun facebook dan alamat email). Naskah dan biodata narasi tidak boleh dipisahkan.


6.File naskah menggunakan format Ms. Word 2003/2007, A4, Time New Roman 12pt, spasi 1.5cm.


7.Naskah yang sudah memenuhi persyaratan di atas, dikirim ke email: event.metakata@gmail.com (berupa attachmant, bukan di badan email).


8.Tulis subyek sama dengan nama file yaitu : nama pena/penulis


9.Setiap peserta hanya boleh mengirimkan satu naskah terbaiknya dan update peserta akan diadakan setiap senin dan kamis.


10.  Akan diambil 2 pemenang terbaik. Pemenang 1 : buku ‘Kepada Calon Presiden Kami’, e-sertifikat dan voucher penerbitan sebesar Rp 100.000. Pemenang 2 : e-sertifikat dan voucher penerbitan sebesar Rp 100.000.


11.  Seluruh kontributor tidak mendapatkan royalty tapi hanya mendapatkan diskon 10%  dalam pembelian buku terbit. Bagi kontributor yang membeli (menghargai karyanya) akan sertiikat dalam bentuk printout (jika memberli 1 eksp) dan mendapatkan sertifikat dan e-sertifikat (jika membeli 2 eksp atau lebih).

#Catatan: Hadiah dalam bentuk VOUCHER PENERBITAN, hanya berlaku selama 6 bulan setelah pengumuman pemenang dan tidak dapat diuangkan juga tidak dapat digabungkan dengan voucher lainnya.  E-sertifikat untuk pemenang akan diberikan serentak dengan kontributor yang membeli buku pada masa setelah preorder.

Yuk ikutan berpartisipasi!



Salam,


a.n.


Penanggungjawab


Penerbit Meta Kata
hvent Lomba Puisi Tentang Indonesia oleh Pena Meta Kata DL 08 Mei 2014.
LOMBA PUISI : TENTANG INDONESIAKU TERCINTA OLEH PENERBIT META KATA17 April 2014 pukul 16:41Tiga hal apa yang terbesit di pikiran Anda kala ada yang menyebutkan kata ‘Indonesia’? Negeri yang makmur, subur dan rakyat yang ramah. Benarkah? Rasanya tak pantas di negeri makmur dan subur bila masih banyak rakyat miskin dan kelaparan di setiap sudutnya. Rakyat yang ramah pun rasanya bukan kata yang tepat karena kejahatan merajalela dan tak segan saling menjatuhkan satu sama lain. Oleh karena, pergeseran arti Indonesia tersebut, kami mengharapkan teman-teman sekalian untuk berpartisipasi menyampaikan uneg-uneg, harapan atau pun doanya tentang Indonesiaku tercinta. Krisan dalam bentuk puisi tersebut dengan tema sebagai berikut (pilih salah satu):


1. Pengangguran


2. Pendidikan


3. Kemiskinan


4. Kerusakan Lingkungan


Adapun persyaratan lomba sebagai berikut:


1.Lomba terbuka untuk umum.


2.Lomba dibuka dari tanggal 17 april sampai dengan 8 mei 2014 (pukul 23:59 WIB). Hasil lomba akan diumumkan pada tanggal 15 Mei 2014.


3.Membagikan info lomba ke minimal 25 teman facebook, twitter, atau posting di blog pribadi (pilih salah satu).


4.Like FansPage “Penerbit Meta Kata” dan bergabung dalam grup Pena Meta Kata


5.Naskah dalam bentuk puisi terdiri dari 16 baris  (boleh dalam bait tapi maksimal 4 bait). Dibawah naskah dilengkapi biodata narasi sebanyak 50 kata (termasuk di dalamnya akun facebook dan alamat email). Naskah dan biodata narasi tidak boleh dipisahkan.


6.File naskah menggunakan format Ms. Word 2003/2007, A4, Time New Roman 12pt, spasi 1.5cm.


7.Naskah yang sudah memenuhi persyaratan di atas, dikirim ke email: event.metakata@gmail.com (berupa attachmant, bukan di badan email).


8.Tulis subyek sama dengan nama file yaitu : nama pena/penulis


9.Setiap peserta hanya boleh mengirimkan satu naskah terbaiknya dan update peserta akan diadakan setiap senin dan kamis.


10.  Akan diambil 2 pemenang terbaik. Pemenang 1 : buku ‘Kepada Calon Presiden Kami’, e-sertifikat dan voucher penerbitan sebesar Rp 100.000. Pemenang 2 : e-sertifikat dan voucher penerbitan sebesar Rp 100.000.


11.  Seluruh kontributor tidak mendapatkan royalty tapi hanya mendapatkan diskon 10%  dalam pembelian buku terbit. Bagi kontributor yang membeli (menghargai karyanya) akan sertiikat dalam bentuk printout (jika memberli 1 eksp) dan mendapatkan sertifikat dan e-sertifikat (jika membeli 2 eksp atau lebih).

#Catatan: Hadiah dalam bentuk VOUCHER PENERBITAN, hanya berlaku selama 6 bulan setelah pengumuman pemenang dan tidak dapat diuangkan juga tidak dapat digabungkan dengan voucher lainnya.  E-sertifikat untuk pemenang akan diberikan serentak dengan kontributor yang membeli buku pada masa setelah preorder.

Yuk ikutan berpartisipasi!



Salam,


a.n.


Penanggungjawab


Penerbit Meta Kata

Minggu, 04 Mei 2014

secuil kasih tak sampai

Suasana senja di Yogyakarta,,, siluet jingga begitu nampak dari pesantren tempat ku nyantri “Darus Salam”. Yah sebuah pesantren yang terletak dipojok Malioboro, tempat yang memang selalu menjadi incaran para wisatawan jika berkunjung ke kota gudeg ini. Sbuah bangunan yang terlihat begitu anggun ditengah keramain Malioboro. Gapura yang memikat hati siapaun yang menatapnya untuk masuk dan menjelajahi isi bangunan anggun itu,
“Mbak Ghina, ditunggu mbak Sakina di depan ndalem tuh”.
“Oh iya Ci makasih”.
Aku bergegas meraih jilbab kuningku yang tergantung dipintu lemari dan mengenakannya, sudah menjadi rutinitas ku setiap ba’da ashar aku dan Sakina salah satu teman asrama ku dipercaya pengasuh untuk membersihkan ndalem. Ndalem pengasuh memang bisa dibilang cukup jauh dari asrama ku.
“Maaf Ki, rada telat. Masih ada sedikit kerjaan barusan”.
“Iya gak papa kok Ghin, kamu bersihin kamar ning Hilmi ya aku masih ditugasi buat ganti sprei bunyai”.
Seeerr,,, seperti ada aliran hangat yang mengalir kedalam tubuh ku, ning Hilmi adalah putrid ketiga dari kyai yang beberapa bulan lalu menikah dengan putra seorang kyai di luar jawa. Gus Dyas, begitulah kami sering menyebutnya.
“Eh,,, kok malah diem, ayo cepet ntar keburu malem loh”.
“Oh iya Ki”
Aku harus menyiapkan mentalku terlebih dulu sebelum melangkahkan kakiku masuk kekamar ning Hilmi, aku harus siap merasakan sebuah rasa cemburu. Yah cemburu ketika melihat sebuah foto yang terpajang dan nampak begitu romantis dan serasi satu sama lain. Gila memang, aku sadar tak seharusnya ada perasaan seperti ini di dalam hatiku. Sadar Ghin,,, dia itu suami dari putri gurumu. Selalu saja ada pertentangan setiap kali aku membicarakan cinta yang terlarang ini.
# # # # #
Aku sangat mengharapkan seorang laki-laki yang kelak bisa membuatku bahagia dunia akhirat. Sekilas aku menatapnya dan hanya mendengarkan cerita- dari orang yang dekat dengannya. Sebut saja namanya Dyas. Beliau adalah menantu dari guruku sendiri, jadi jika dilihat dari silsilah guru, dia juga guruku. Tapi apa yang hendak dikata saat hatiku bergetar untuk mencintainya. Aku sadar bahwa cintaku ini bukanlah cinta yang wajar, bahkan bisa di katakan cinta yang terlarang. Iya ….. aku tau itu , aku sadar kalau dia sudah beristri. Tapi sudahlah … ini juga bukan cita-cita ku , tapi salahku harapan yang kurang lengkap, seandainya aku dulu berharap seorang laki-laki yang bisa membahagiakan dunia akhirat dan masih “perjaka”, mungkin aku gak akan mencintainya. Dan sekarang semuanya sudah terlanjur, biarlah perasaan ini aku simpan saja jauh didalam hatiku sendiri.
“Ghina,,,
Sebuah panggilan yang sempat membuat aku sedikit gugup dan enggan untuk menoleh, suara yang sudah aku kenali siapa pemiliknya. Namun aku harus menghormati si empunya suara itu, dan dengan berat pun aku menoleh.
“Iya gus ada apa?”.
“Tolong angkat kan barang-barang itu ke kamar ya”. Tunjuk gus Dyas ke arah beberapa tas yang ada didepan pintu masuk ndalem.
“Inggih gus”. Aku bergegas menuju tumpukan tas itu dan mengikuti langkah gus dyas yang menuju ke kamarnya.
“Terima kasih ya Ghin, oh iya tempo hari saya menemukan ini. Dan saya pikir ini barang kamu”. Gus dyas menyodorkan sebuah kalung yang bertuliskan namaku.
“Masya Allah terima kasih gus, ini memang kalung saya yang hilang tempo hari. Mungkin terjatuh ketika saya membersihkan kamar jenengan”.
“Iya gak papa, ini kalung mu”.
Canggung, bahagia, gemetar, semua perasaan itu campur aduk dalam hatiku, ya Robb,,, janganlah kau hukum aku atas perasaan yang telah lancang aku hadirkan kepada sosok adam yang tengah berdiri didepanku ini.
“Kalo sudah selesai saya permisi keluar gus”.
“Oh iya,,, terima kasih ya Ghina”.
Sediki terhuyung aku melangkah menuju asrama, tak habis-habisnya aku pandangi kalung ku ini. Kalung yang sempat dipegang oleh sosok lelaki yang aku idamkan menjadi imamku. Namun aku sadar bahwa hal itu tidaklah mungkin menjadi sebuah kenyataan.
# # # # #
“Ghin ayo cepet,kita dipanggil ning Hilmi, disuruh ke kamarnya”.
“Iya Ki, kamu duluan deh. Aku masih sholat dulu sebentar, abis sholat aku langsung kesana”.
“Oke”.
Sepeninggal Sakina aku bergegas menunaikan sholat, beberapa menit kemudian aku bergegas menuju kamar Ning Hilmi. Ada apa gerangan ning Hilmi memanggil kami ke kamarnya jam segini. Sesampainya disana aku melihat ning Hilmi, gus Dyas, dan Sakina serta tumpukan baju yang sebagian sudah dimasukkan kedalam koper.
“Assalamualaikum ning…
“Waalaikum salam mbak Ghina, masuk aja mbak. Ini masih belum kelar kerjaannya”.
“Maaf ning saya agak telat”.
“Iya mbak gak papa, lagian aku juga manggilnya mendadak”.
“Kenpa baju ini dimasukkan kedalam koper ning?”. Tanya ku tanpa sadar
“Gus Dyas dipindah tugas keluar kota mbak, jadi aku dan Mas Dyas mau pindah”.
Deg,,, ada rasa sakit di hatiku, seperti palu godam yang menerjangnya berkali-kali, gus Dyas akan pergi dari pesantren ini??. Lelaki yang aku idamkan menjadi sosok imam ku akan meninggalkan tempat ini??. Kenapa harus sesakit ini ketika aku mendengar kabar ini.
“Kapan berangkatnya ning?”. Tanya sakina memecah keheningan
“Besok mbak “.
Sejenak aku tatap wajah nan tampan itu, ssubhanallah… kenapa cinta ini harus ada untuk mu gus??, kenapa pula aku merasa engkau sangatlah sempurna??. Mungkin ini sudah jalan terbaik bagi aku dan hati ini, mungkin dengan keidakadaan gus dyas disini takkan ada lagi sejumput cemburu yang selalu aku nikmati kehadirannya, mungkin dengan ketidakhadiran gus Dyas disini bisa membuat hati ini tak begitu merasakan sakit lagi. Yah,,, aku ikhlaskan perginya engkau wahai lelaki idaman dan cinta pertama ku, biarlah cinta ini aku pendam dan nikmati sendiri saja. Cukuplah pesantren yang berdiri dengan kokohnya ini mnjadi saksi cinta ini, pesantren yang berdiri dengan gagahnya di tengah-tengah keramain Malioboro den kemegahan kota Yogyakarta ini turut menjadi tempat aku memendam cinta pertama ku yan terlarang

Kamis, 17 April 2014

Sajak Kedua ....

Panas yang begitu membakar, siapaun pasti akan serasa gerah jika masih keukeuh untuk menentang mentari. Sang mentai masih berdidri dengan angkuhnya diatas sana, menunjukkan kebolehannya dengan panas yang begitu membara. Tubuh ini pun seakan enggan untuk menjalankan tugas hariannya. Tapi,,, ada satu hal yang aneh dengan "mereka", yah "mereka",,, sekumpulan kecil gadis remaja. Gadis remaja yang terlihat begitu asyik dan telihat sangat energik. Dalam balutan gaun yang mungkin terlihat menarik bagi mereka dan kawanannya. canda tawa yang renyah, ciri khas dari remaja yang masih belum begitu paham "akan arti kehidupan yang sebenarnya". Namun ,,, ada sedikit pemandangan yang sedikit menganggu ditengah-tengah mereka. Sekumpulan lelaki yang mulai tak terlihat muda lagi, yang sesekali mencemari canda tawa itu dengan tawa, atau lebih tepat disebut "menyeringai" layaknya serigala yang hendak memangsa umpan empuknya. Risih memangbagi siapapun yang melihatnya, tak terkecuali sang mentari yang masih menunjukkan keangkuhannya kepada mereka.Namun apa hendak dikata, inilah duniaku saat ini, tak ada yang perlu diherankan. Tak ada suatu alasan yang memperbolehkan aku atau salah satu dari ribuan makhluk di bumi ini untuk menyalahkan mereka Keadanlah yang mampu membimbing mereka hingga menjadi diri mereka yang saat ini.

Selasa, 11 Februari 2014

SAJAK PERTAMA


Tatapan mereka...
Setiap lekuk wajah yang tergurat dalam wajah mereka....
Ada banyak cerita yang aku dapatkan.
Lelaki yang tertidur pulas diatas becaknya ....
Tak peduli kebisingan dan lalu lalang kendaraan disekitarnya.
Wanita tua itu, yah seorang wanita tua yang berusaha menunjukkan sisa kecantikan dimasa mudanya
Bocah kecil yang tak pernahkehilangan seulas senyum tulus san manisnya kepada setiap orang yang dia jumpai
Banyak cedrita yang mereka tunjukkan, meski terkadang masih ada beberapa mozaik dari kehidupan mereka yang ditutupi agar tak sembarang orang yang melihatnya dan lagi lagi di tutupi dengan senyuman.
Aku... yah tentu saja ada cerita yang mungkin bisa ditangkap oleh mereka yangmelihat senyumanku
Namun...ada beberapa sekat yang memisahkan antara duniaku dengan dunia mereka.
Ada pembatas yang terkadang hanya orang-orang tertentu yang bisa menyelami dan menjamah keunikan duniaku ini.

Selasa, 28 Januari 2014

Kicau burung itu ....
Gemericik air itu ....
Bunyi semilir angin yang berdansa dengan dedaunan itu ....
Semua suara-suara merdu itu ....
Mengapa kini aku tidak bisa mendengar suara merdu mereka ?
Aku masih merasakan detak jantungku ....
Akupun masih mmerasakan denyut nadiku 
Aku masih mampu memijakkan kaki di tanah bumi pertiwi ku ini
tapi ....
Aku tidak pernah mereka anggap
Apa ada yang berbeda dengn diriku ?
Atau mungkin saja ada keanehan pada diriku ?
Haruskah aku berteriak agar mereka mendengarku ?
Haruskah aku berlari secepat mungkin kehadapan mereka, agar aku terlihat ?
Sudah kulakukan semuanya 
Dan taukah kau, semua itu tak pernah ada hasilnya.