Minggu, 04 Mei 2014

secuil kasih tak sampai

Suasana senja di Yogyakarta,,, siluet jingga begitu nampak dari pesantren tempat ku nyantri “Darus Salam”. Yah sebuah pesantren yang terletak dipojok Malioboro, tempat yang memang selalu menjadi incaran para wisatawan jika berkunjung ke kota gudeg ini. Sbuah bangunan yang terlihat begitu anggun ditengah keramain Malioboro. Gapura yang memikat hati siapaun yang menatapnya untuk masuk dan menjelajahi isi bangunan anggun itu,
“Mbak Ghina, ditunggu mbak Sakina di depan ndalem tuh”.
“Oh iya Ci makasih”.
Aku bergegas meraih jilbab kuningku yang tergantung dipintu lemari dan mengenakannya, sudah menjadi rutinitas ku setiap ba’da ashar aku dan Sakina salah satu teman asrama ku dipercaya pengasuh untuk membersihkan ndalem. Ndalem pengasuh memang bisa dibilang cukup jauh dari asrama ku.
“Maaf Ki, rada telat. Masih ada sedikit kerjaan barusan”.
“Iya gak papa kok Ghin, kamu bersihin kamar ning Hilmi ya aku masih ditugasi buat ganti sprei bunyai”.
Seeerr,,, seperti ada aliran hangat yang mengalir kedalam tubuh ku, ning Hilmi adalah putrid ketiga dari kyai yang beberapa bulan lalu menikah dengan putra seorang kyai di luar jawa. Gus Dyas, begitulah kami sering menyebutnya.
“Eh,,, kok malah diem, ayo cepet ntar keburu malem loh”.
“Oh iya Ki”
Aku harus menyiapkan mentalku terlebih dulu sebelum melangkahkan kakiku masuk kekamar ning Hilmi, aku harus siap merasakan sebuah rasa cemburu. Yah cemburu ketika melihat sebuah foto yang terpajang dan nampak begitu romantis dan serasi satu sama lain. Gila memang, aku sadar tak seharusnya ada perasaan seperti ini di dalam hatiku. Sadar Ghin,,, dia itu suami dari putri gurumu. Selalu saja ada pertentangan setiap kali aku membicarakan cinta yang terlarang ini.
# # # # #
Aku sangat mengharapkan seorang laki-laki yang kelak bisa membuatku bahagia dunia akhirat. Sekilas aku menatapnya dan hanya mendengarkan cerita- dari orang yang dekat dengannya. Sebut saja namanya Dyas. Beliau adalah menantu dari guruku sendiri, jadi jika dilihat dari silsilah guru, dia juga guruku. Tapi apa yang hendak dikata saat hatiku bergetar untuk mencintainya. Aku sadar bahwa cintaku ini bukanlah cinta yang wajar, bahkan bisa di katakan cinta yang terlarang. Iya ….. aku tau itu , aku sadar kalau dia sudah beristri. Tapi sudahlah … ini juga bukan cita-cita ku , tapi salahku harapan yang kurang lengkap, seandainya aku dulu berharap seorang laki-laki yang bisa membahagiakan dunia akhirat dan masih “perjaka”, mungkin aku gak akan mencintainya. Dan sekarang semuanya sudah terlanjur, biarlah perasaan ini aku simpan saja jauh didalam hatiku sendiri.
“Ghina,,,
Sebuah panggilan yang sempat membuat aku sedikit gugup dan enggan untuk menoleh, suara yang sudah aku kenali siapa pemiliknya. Namun aku harus menghormati si empunya suara itu, dan dengan berat pun aku menoleh.
“Iya gus ada apa?”.
“Tolong angkat kan barang-barang itu ke kamar ya”. Tunjuk gus Dyas ke arah beberapa tas yang ada didepan pintu masuk ndalem.
“Inggih gus”. Aku bergegas menuju tumpukan tas itu dan mengikuti langkah gus dyas yang menuju ke kamarnya.
“Terima kasih ya Ghin, oh iya tempo hari saya menemukan ini. Dan saya pikir ini barang kamu”. Gus dyas menyodorkan sebuah kalung yang bertuliskan namaku.
“Masya Allah terima kasih gus, ini memang kalung saya yang hilang tempo hari. Mungkin terjatuh ketika saya membersihkan kamar jenengan”.
“Iya gak papa, ini kalung mu”.
Canggung, bahagia, gemetar, semua perasaan itu campur aduk dalam hatiku, ya Robb,,, janganlah kau hukum aku atas perasaan yang telah lancang aku hadirkan kepada sosok adam yang tengah berdiri didepanku ini.
“Kalo sudah selesai saya permisi keluar gus”.
“Oh iya,,, terima kasih ya Ghina”.
Sediki terhuyung aku melangkah menuju asrama, tak habis-habisnya aku pandangi kalung ku ini. Kalung yang sempat dipegang oleh sosok lelaki yang aku idamkan menjadi imamku. Namun aku sadar bahwa hal itu tidaklah mungkin menjadi sebuah kenyataan.
# # # # #
“Ghin ayo cepet,kita dipanggil ning Hilmi, disuruh ke kamarnya”.
“Iya Ki, kamu duluan deh. Aku masih sholat dulu sebentar, abis sholat aku langsung kesana”.
“Oke”.
Sepeninggal Sakina aku bergegas menunaikan sholat, beberapa menit kemudian aku bergegas menuju kamar Ning Hilmi. Ada apa gerangan ning Hilmi memanggil kami ke kamarnya jam segini. Sesampainya disana aku melihat ning Hilmi, gus Dyas, dan Sakina serta tumpukan baju yang sebagian sudah dimasukkan kedalam koper.
“Assalamualaikum ning…
“Waalaikum salam mbak Ghina, masuk aja mbak. Ini masih belum kelar kerjaannya”.
“Maaf ning saya agak telat”.
“Iya mbak gak papa, lagian aku juga manggilnya mendadak”.
“Kenpa baju ini dimasukkan kedalam koper ning?”. Tanya ku tanpa sadar
“Gus Dyas dipindah tugas keluar kota mbak, jadi aku dan Mas Dyas mau pindah”.
Deg,,, ada rasa sakit di hatiku, seperti palu godam yang menerjangnya berkali-kali, gus Dyas akan pergi dari pesantren ini??. Lelaki yang aku idamkan menjadi sosok imam ku akan meninggalkan tempat ini??. Kenapa harus sesakit ini ketika aku mendengar kabar ini.
“Kapan berangkatnya ning?”. Tanya sakina memecah keheningan
“Besok mbak “.
Sejenak aku tatap wajah nan tampan itu, ssubhanallah… kenapa cinta ini harus ada untuk mu gus??, kenapa pula aku merasa engkau sangatlah sempurna??. Mungkin ini sudah jalan terbaik bagi aku dan hati ini, mungkin dengan keidakadaan gus dyas disini takkan ada lagi sejumput cemburu yang selalu aku nikmati kehadirannya, mungkin dengan ketidakhadiran gus Dyas disini bisa membuat hati ini tak begitu merasakan sakit lagi. Yah,,, aku ikhlaskan perginya engkau wahai lelaki idaman dan cinta pertama ku, biarlah cinta ini aku pendam dan nikmati sendiri saja. Cukuplah pesantren yang berdiri dengan kokohnya ini mnjadi saksi cinta ini, pesantren yang berdiri dengan gagahnya di tengah-tengah keramain Malioboro den kemegahan kota Yogyakarta ini turut menjadi tempat aku memendam cinta pertama ku yan terlarang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar