Mungkin ada dari beberapa kalian yang tidak asing lagi mendengar nama Romeo-Juliet, ya kisah sepasang kekasih yang hidup di Italia dan harus terpisah karena keegoisan keluarga mereka. Sedangkan di Indonesia sendiri kalian pasti sudah tidak asing lagi dengan kisah Sitti nurbaya dan kekasihnya Samsul bahri yang cintanya tak bisa bersatu karena keegoisan keluarga si Sitti Nurbaya. Namun ada sebuah kisah yang tak setenar kisah Romeo dan kekasihnya Juliet, kisah yang tak melanglang buana layaknya kisah Sitti Nurbaya dan Samsul Bahri. Kisah pengorbanan seorang lelaki untuk wanitanya.
“Bagaimana keadaan lo Dit ??.” ujar seorang lelaki berusia sekitar dua puluh tahunan, pada seorang kawannya yang tergeletak diatas kasur.
“Ah,,, entahlah Ren, rasanya kepala gue kayak dihantam palu pak hakim”.
“Ya udahlah kalo gitu mending lo istirahat”.
“Oke, oh iya Ren. Tolong jangan bilang sama Hilma tentang masalah ini”.
“Beres,,,beres, rahasia lo aman sama gue. Ya udah lo istirahat aja, gue mau keluar dulu. Kalo butuh apa-apa bilang aja sama gue”.
Lelaki yang tergeletak diatas kasur yang dikelilingi tembok-tembok putih yang kokoh, layaknya selimut raksasa yang menyelubungi seorang kurcaci yang tak berdaya. Lelaki itu mengalami perdarahan yang hebat, kata dokter dia sudah kehilangan begitu banyak darah, dan pada akhirnya ada seorang relawan yang bersedia mendonorkan darahnya pada lelaki itu.
∞ ∞ ∞ ∞ ∞
“Gimana kepala lo ?? udah baikan kan ??”. Ujar Reno seraya memukul kepala teman disebelahnya.
“Yaelah,,, kalo terus-terusan lo getokin gitu. Bisa bocor nih kepala gue”. Canda lelaki itu
“Dito,,,
Sesosok gadis dengan rambut terurai panjang berlari kecil menghampiri kedua lelaki itu. Dilihat dari segi penampilan gadis itu bisa dikategorikan gadis yang canik, blus biru muda dipadu dengan celana jeans warna senada, rambut panjangnya dihiasi bandana berwarna merah jambu yang mungkin menandakan kerinduannya yang membucah kepada sosok lelaki yang kini ada dihadapannya.
“Hilma,kamu ada kuliah hari ini?? Bukannya hari rabu kamu gak ada jadwal”.
“Iya aku emang gak ada jadwal, aku kesini mau ketemu kamu”. Ujar gadis itu dengan penuh manja .
“Kalo gitu gue pulang dulu Dit”. Lelaki yang sejak tadi merasa canggung berada diantara dua sejoli itu pun akhirnya memutuskan untuk meninggalkan mereka berdua
“Oke Ren”
Sepasang kekasih itu kini melangkah meninggalkan gedung megah itu dibelakang mereka.
“Aku denger dari Siska kamu sakit Dit ??bener ??”.
“Sakit?? Emang pernah kamu denger aku sakit ?? enggak kan ?? itu pasti Cuma candaan Siska”.
Aku tau Dit,lo gak bakal cerita sama gue. Tapi gue yakin maksud lo baik, lo gak mau buat gue khawatir kan. tapi jujur dengan lo bohong gini justru bikin gue sedih. Batin gadis muda gitu
“Hey, kok malah ngelamun. Jadi traktir makan gak nih ?’. Dito melambai-lambaikan tangannya didepan wajah Hilma.
“Eh iya, kenapa aku ngelamunin kamu yah. Kan kamunya ada disini J. Ya udah yuk makan”.
Hilma dan Dito, sepasang remaja yang telah merajut kisah kasih yang tidak bisa dibilang baru, kedua belah pihak keluargapun mengetahui hubungan dan keseriusan mereka masing-masing. Tak pernah ada sedikit pun keinginan mereka untuk menghianati kepercayaan satu sama lain, meski terkadang ada pertengkaran yang mengisi kisah kasih mereka. Tapi,, bukankah perbedaan pendapat itu juga perlu?? Karena tak selamanya kebahagiaan yang akan mengisi perjalanan kasih seseorang
Tapi siapa yan tau takdir Tuhan. Jalan hidup kalian sendiripun tak pernah ada yang tau, termasuk perjalanan cinta kedua sejoli ini.
“Dit, kamu kenapa?? Kayaknya akhir-akhir ini kamu makin kurusan deh. Kamu juga sering sakit kan akhir_akhir ini??”. Ujar Hilma gelisah mengkhawatirkan lelakinya
“Gak papa Hil, sekarang kan musim hujan. Wajar dong kalo aku rada gak enak badan”. Alasan klise yang mungkin sering diucapkan oleh kebanyakan orang
“Nanti sore aku anter ke dokter ya”.
“Gak usah deh, biar nanti aku pergi sama Reno”.
“Iya Hil, biar Dito pergi sama gue aja. Gak baik anak perawan kelayapan malem-malem”.
“Bener ya Ren, lo ajak dia periksa. Kalo dia gak mau, lo paksa, pokoknya dia harus periksa”.
“Siap nyonya”.
Obrolan singkat itu yang menutup pertemuan mereka. Memisahkan sepasan kekasih yang nampaknya masih belum bisa menumpahkan seluruh kerinduan kepada sosok yang mereka cintai.
“Setelah saya mendengar gejala yang saudara sebutkan, sebaiknya kita harus melakuakan pemeriksaan darah pak”.
“Apa seserius itu dok, saya hanya mengalami demam, sakit tenggorokan, sakit kepala, seta mual-mual biasa dok. Apa masih perlu dilakukan tes darah?”.
“Iya pak saya sarankan anda melakukan tes darah untuk mengetahui penyakit anda lebih lanjut”.
“Baiklah dok, kalo memang itu yang diperlukan”.
Setelah semua peralatan dipersiapkan , dokter pun mengambil sampel darah Dito. Memeriksanya lebih lanjut demi mengetahui apa sebenarnya yang terjadi pada lelaki itu.
“Tuan Dito berdasarkan hasil laboratorium, anda positif menderita HIV”.
Hening, Dito seakan tidak bisa mencerna dengan jelas apa yang telah dokter itu katakana padanya. Dia menderita HIV?? Bagaimana bisa ?? apa dokter ini tidak salah menentukan diagnosanya ??
“Tapi dok, bagaimana mungkin saya bisa mengidap penyakit itu, saya tidak pernah melakukan hubungan seksual dengan siapapun, saya juga tidak menggunakan narkotika atau barang-barang sejenisnya. Bagaimana mungkin saya bisa mengidap penyakit itu”. Suara Dito mulai terdengar bergetar.
“HIV bukan hanya bisa menular lewat hubungan seksual, atau pun penggunaan narkoba pak, bisa juga melalui darah atau cairan tubuh yang lain. Mungkin beberapa bulan terakhir ini anda melakukan pendonoran darah.
“Baiklah dok kalo begitu saya permisi dlu”. Ujar Dito setelah mendapatkan resep obat yang bisa dia konsumsi.
Sepanjang perjalanan pulang Dito lebih banyak diam, mengingat kembali kejadian-kejadian yang pernah dia alami beberapa bulan terakhir ini. Hingga dia mengingat satu hal, dia pernah kecelakaan dan mendapatkan transfusi darah dari seorang lelaki yang tak dikenalnya.
Dia menanyakan perihal itu kepada Reno, dan akhirnya mereka pun memutuskan untuk menanyakan hal itu kepada pihak rumah sakit yang menanganinya. Tapi sayang, tampaknya fortuna tidak sedang memihak kepada mereka. Setelah melakukan interogasi dengan pihak rumah sakit mereka memperoleh informasi bahwa lelaki yang mereka cari ternyata telah ditemukan tewas bunuh diri beberapa minggu lalu.
“Oh tuhan, kenapa Engkau mengutukku dengan cara seperti ini?? Apa salahku sehingga kau memberiku pelajaran dengan cara yang begitu menjijikkan ini??”
“Sabar Dit, semua ini pasti ada jalannya”.
“Gimana gue bisa sabar Reno, gimana caranya gue ngomong sama orang tua gue, dan Hilma…ya Hilma”. Tangisnya kembali pecah
Suasana hening sunyi, hanya memperdengarkan isak tangis pilu Dito meratapi takdir yang seakan-akan mempermainkan dia. Bagaimana caranya dia memberitahu Hilma, tidakkah dia akan membenci dirinya?? Bagaimana mungkin dia bisa meninggalkan gadis itu?? Tidak mungkin juga dia meyakiti gadis itu dengan menularkan penyakit yang menjijikkan ini.
Jika kalian pernah merasakan seperti apa dilemanya ketika kita dihadapkan kepada sebuah pilihan? Mungkin hal itu yang kini tengah dialami oleh Dito. Dia harus memutuskan melanjutkan hubungannya dengan Hilma dan menularinya penyakit yang menjijikkan ini atau justru meninggalkan sosok gadis yang telah mengisi hari-harinya dengan kenangan yang mungkin tidak pernah bisa dia lupakan sampai kapanpun.
“Tuhan selalu mempunyai skenario yang indah untuk semua umatnya, mungkin kejadian ini adalah bagian dari skenario Tuhan untuk Dito”. Hingga akhirnya Dito memutuskan utnuk pergi meninggalkan Hilma dan membiarkan dia mencari cinta lelaki lain yang bisa melindungi dia. Membiarkan dirinya menikmati penyakit yang kini mulai bersarang dan mulai akrab dengan tubuhnya. Dia korbankan cintanya demi menjaga keindahan kekasih hatinya, dan kini lelaki penyakitan itu sudah mulai lemah, dia hanya tinggal menunggu ajal menjemputnya. Dan ada sebuah rahasia yang tak pernah diketahui oleh kalian, bahwa lelaki malang itu adalah AKU.
“Bagaimana keadaan lo Dit ??.” ujar seorang lelaki berusia sekitar dua puluh tahunan, pada seorang kawannya yang tergeletak diatas kasur.
“Ah,,, entahlah Ren, rasanya kepala gue kayak dihantam palu pak hakim”.
“Ya udahlah kalo gitu mending lo istirahat”.
“Oke, oh iya Ren. Tolong jangan bilang sama Hilma tentang masalah ini”.
“Beres,,,beres, rahasia lo aman sama gue. Ya udah lo istirahat aja, gue mau keluar dulu. Kalo butuh apa-apa bilang aja sama gue”.
Lelaki yang tergeletak diatas kasur yang dikelilingi tembok-tembok putih yang kokoh, layaknya selimut raksasa yang menyelubungi seorang kurcaci yang tak berdaya. Lelaki itu mengalami perdarahan yang hebat, kata dokter dia sudah kehilangan begitu banyak darah, dan pada akhirnya ada seorang relawan yang bersedia mendonorkan darahnya pada lelaki itu.
∞ ∞ ∞ ∞ ∞
“Gimana kepala lo ?? udah baikan kan ??”. Ujar Reno seraya memukul kepala teman disebelahnya.
“Yaelah,,, kalo terus-terusan lo getokin gitu. Bisa bocor nih kepala gue”. Canda lelaki itu
“Dito,,,
Sesosok gadis dengan rambut terurai panjang berlari kecil menghampiri kedua lelaki itu. Dilihat dari segi penampilan gadis itu bisa dikategorikan gadis yang canik, blus biru muda dipadu dengan celana jeans warna senada, rambut panjangnya dihiasi bandana berwarna merah jambu yang mungkin menandakan kerinduannya yang membucah kepada sosok lelaki yang kini ada dihadapannya.
“Hilma,kamu ada kuliah hari ini?? Bukannya hari rabu kamu gak ada jadwal”.
“Iya aku emang gak ada jadwal, aku kesini mau ketemu kamu”. Ujar gadis itu dengan penuh manja .
“Kalo gitu gue pulang dulu Dit”. Lelaki yang sejak tadi merasa canggung berada diantara dua sejoli itu pun akhirnya memutuskan untuk meninggalkan mereka berdua
“Oke Ren”
Sepasang kekasih itu kini melangkah meninggalkan gedung megah itu dibelakang mereka.
“Aku denger dari Siska kamu sakit Dit ??bener ??”.
“Sakit?? Emang pernah kamu denger aku sakit ?? enggak kan ?? itu pasti Cuma candaan Siska”.
Aku tau Dit,lo gak bakal cerita sama gue. Tapi gue yakin maksud lo baik, lo gak mau buat gue khawatir kan. tapi jujur dengan lo bohong gini justru bikin gue sedih. Batin gadis muda gitu
“Hey, kok malah ngelamun. Jadi traktir makan gak nih ?’. Dito melambai-lambaikan tangannya didepan wajah Hilma.
“Eh iya, kenapa aku ngelamunin kamu yah. Kan kamunya ada disini J. Ya udah yuk makan”.
Hilma dan Dito, sepasang remaja yang telah merajut kisah kasih yang tidak bisa dibilang baru, kedua belah pihak keluargapun mengetahui hubungan dan keseriusan mereka masing-masing. Tak pernah ada sedikit pun keinginan mereka untuk menghianati kepercayaan satu sama lain, meski terkadang ada pertengkaran yang mengisi kisah kasih mereka. Tapi,, bukankah perbedaan pendapat itu juga perlu?? Karena tak selamanya kebahagiaan yang akan mengisi perjalanan kasih seseorang
Tapi siapa yan tau takdir Tuhan. Jalan hidup kalian sendiripun tak pernah ada yang tau, termasuk perjalanan cinta kedua sejoli ini.
“Dit, kamu kenapa?? Kayaknya akhir-akhir ini kamu makin kurusan deh. Kamu juga sering sakit kan akhir_akhir ini??”. Ujar Hilma gelisah mengkhawatirkan lelakinya
“Gak papa Hil, sekarang kan musim hujan. Wajar dong kalo aku rada gak enak badan”. Alasan klise yang mungkin sering diucapkan oleh kebanyakan orang
“Nanti sore aku anter ke dokter ya”.
“Gak usah deh, biar nanti aku pergi sama Reno”.
“Iya Hil, biar Dito pergi sama gue aja. Gak baik anak perawan kelayapan malem-malem”.
“Bener ya Ren, lo ajak dia periksa. Kalo dia gak mau, lo paksa, pokoknya dia harus periksa”.
“Siap nyonya”.
Obrolan singkat itu yang menutup pertemuan mereka. Memisahkan sepasan kekasih yang nampaknya masih belum bisa menumpahkan seluruh kerinduan kepada sosok yang mereka cintai.
“Setelah saya mendengar gejala yang saudara sebutkan, sebaiknya kita harus melakuakan pemeriksaan darah pak”.
“Apa seserius itu dok, saya hanya mengalami demam, sakit tenggorokan, sakit kepala, seta mual-mual biasa dok. Apa masih perlu dilakukan tes darah?”.
“Iya pak saya sarankan anda melakukan tes darah untuk mengetahui penyakit anda lebih lanjut”.
“Baiklah dok, kalo memang itu yang diperlukan”.
Setelah semua peralatan dipersiapkan , dokter pun mengambil sampel darah Dito. Memeriksanya lebih lanjut demi mengetahui apa sebenarnya yang terjadi pada lelaki itu.
“Tuan Dito berdasarkan hasil laboratorium, anda positif menderita HIV”.
Hening, Dito seakan tidak bisa mencerna dengan jelas apa yang telah dokter itu katakana padanya. Dia menderita HIV?? Bagaimana bisa ?? apa dokter ini tidak salah menentukan diagnosanya ??
“Tapi dok, bagaimana mungkin saya bisa mengidap penyakit itu, saya tidak pernah melakukan hubungan seksual dengan siapapun, saya juga tidak menggunakan narkotika atau barang-barang sejenisnya. Bagaimana mungkin saya bisa mengidap penyakit itu”. Suara Dito mulai terdengar bergetar.
“HIV bukan hanya bisa menular lewat hubungan seksual, atau pun penggunaan narkoba pak, bisa juga melalui darah atau cairan tubuh yang lain. Mungkin beberapa bulan terakhir ini anda melakukan pendonoran darah.
“Baiklah dok kalo begitu saya permisi dlu”. Ujar Dito setelah mendapatkan resep obat yang bisa dia konsumsi.
Sepanjang perjalanan pulang Dito lebih banyak diam, mengingat kembali kejadian-kejadian yang pernah dia alami beberapa bulan terakhir ini. Hingga dia mengingat satu hal, dia pernah kecelakaan dan mendapatkan transfusi darah dari seorang lelaki yang tak dikenalnya.
Dia menanyakan perihal itu kepada Reno, dan akhirnya mereka pun memutuskan untuk menanyakan hal itu kepada pihak rumah sakit yang menanganinya. Tapi sayang, tampaknya fortuna tidak sedang memihak kepada mereka. Setelah melakukan interogasi dengan pihak rumah sakit mereka memperoleh informasi bahwa lelaki yang mereka cari ternyata telah ditemukan tewas bunuh diri beberapa minggu lalu.
“Oh tuhan, kenapa Engkau mengutukku dengan cara seperti ini?? Apa salahku sehingga kau memberiku pelajaran dengan cara yang begitu menjijikkan ini??”
“Sabar Dit, semua ini pasti ada jalannya”.
“Gimana gue bisa sabar Reno, gimana caranya gue ngomong sama orang tua gue, dan Hilma…ya Hilma”. Tangisnya kembali pecah
Suasana hening sunyi, hanya memperdengarkan isak tangis pilu Dito meratapi takdir yang seakan-akan mempermainkan dia. Bagaimana caranya dia memberitahu Hilma, tidakkah dia akan membenci dirinya?? Bagaimana mungkin dia bisa meninggalkan gadis itu?? Tidak mungkin juga dia meyakiti gadis itu dengan menularkan penyakit yang menjijikkan ini.
Jika kalian pernah merasakan seperti apa dilemanya ketika kita dihadapkan kepada sebuah pilihan? Mungkin hal itu yang kini tengah dialami oleh Dito. Dia harus memutuskan melanjutkan hubungannya dengan Hilma dan menularinya penyakit yang menjijikkan ini atau justru meninggalkan sosok gadis yang telah mengisi hari-harinya dengan kenangan yang mungkin tidak pernah bisa dia lupakan sampai kapanpun.
“Tuhan selalu mempunyai skenario yang indah untuk semua umatnya, mungkin kejadian ini adalah bagian dari skenario Tuhan untuk Dito”. Hingga akhirnya Dito memutuskan utnuk pergi meninggalkan Hilma dan membiarkan dia mencari cinta lelaki lain yang bisa melindungi dia. Membiarkan dirinya menikmati penyakit yang kini mulai bersarang dan mulai akrab dengan tubuhnya. Dia korbankan cintanya demi menjaga keindahan kekasih hatinya, dan kini lelaki penyakitan itu sudah mulai lemah, dia hanya tinggal menunggu ajal menjemputnya. Dan ada sebuah rahasia yang tak pernah diketahui oleh kalian, bahwa lelaki malang itu adalah AKU.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar