Selasa, 02 Juni 2015

Mungkin Karena Aku Belum Dewasa

Namaku Shita, aku masih sangat ingat ketika kejadian itu bermula usia ku masih 18 tahun. Kalian pasti tau di masa-masa itu kita pasti tengah mencari jati diri. Tak terkecuali aku, sebagai seorang remaja putri yang normal. Ada salah seorang temanku di sekolah, panggil saja dia Bulan. Dia termasuk salah satu siswa yang sangat popular disekolah, banyak lelaki yang mengharapkan dia untuk menjadi kekasih mereka, sangat bertolak belakang denganku. Aku iri, dan aku menurutku hal itu wajar. Aku mulai memperhatikan semua gerak-gerik dan gaya berpakaiannya. Aku akui dia memang sangat modis, dia selalu bisa mempadupadankan jeans, kemeja dan dia sangat lihai menghias kepalanya dengan jilbab, intinya dia sangat stylish. Aku mulai meniru gaya berpakaiannya, memakia jilbab stylish seperti yang dia kenakan. Dan aku mulai merasa sedikit ketularan popularitasnya, aku merasa sedikit keren dibandingkan sebelumnya. Meski masi belum beitu banyak cowok yang mendekaiku, tapi paling tidak aku mulai dikenal oleh kalangan pria disekolah ku. Aku mulai sering keluar dengan “mereka” tidak terkecuali Bulan. Dia sudah menjadikan aku sahabatnya, dia sempat berkata
“Sebenernya lo itu cantik loh Shita, lo nya aja yang gak bisa dandan”. Ujarnya waktu itu sambil tertawa cekikan ala gadis-gadis remaja
Aku hanaya tersenyum menanggapi ucapannya, entah dia jujur atau hanya ingin memujiku saja api yang jelas aku suka dengan ucapannya. Aku mulai sering meminta uang jajan lebih pada orang tuaku, hany unuk sekedar membeli baju, jeans atau pun kemeja model terbaru. Kalian pasti tau alasannya, yah aku akan malu jika berkumpul dengan mereka yang modis dan hanya aku yang tak bisa menyesuaikan diri dengan mereka.
“Kamu semakin boros saja Shita, apa saja yang kamu beli” Bunda bertanya ketika aku meminta uang untuk yang kesekian kalinya.
“Shita udah gede bunda, keperluan Shita makin banyak”. Celetukku asal seraya meninggalkan bunda tanpa permisi.
Sudah sering ayah dan bunda menasehatiku untuk tidak terlalu menghamburkan uang, aku harus hemat, aku harus belaja menabung dan masih banyak lag nasehat yang sering mereka berikan, sesering aku mengabaikan ucapan mereka. Aku sudah sanga menyukai hidupku saat ini, menjadi gadis popular. Kalian mungkin pernah mendengar pepatah yang bunyinya seperti ini “Kehidupan itu berputar, adakalanya kita akan berdiri gagah diatas dan jika telah tiba waktunya kita akan terpuruk dibawah”, sungguh awalnya aku hanya menganggap pepatah itu sebagai ucapan mereka yang “sok bijak” hingga akhirnya aku mengalami semuanya. Ayah tertipu oleh rekan kerjanya, usaha ayah berhenti total tanpa menyisakan apapun bagi kami.
Aku tidak bisa lagi meminta uang jajan kepada bunda seperti dulu lagi, dan yang pasti hal itu membuat aku tidak bisa bergaya dan kembali berkumpul dengan Bulan. Karena bagi dia aku tak lebih hanya seorang anak dari seorang yang papa. Pada awalnya aku memberontak kepada ayah dan bunda, tidak terima rasanya jika aku harus hidup serba kekurangan seperti saat ini. Siapa sih yang bisa menerima keadaans eperti ini begitu saja?? Kalian bisa?? Hingga akhirnya aku mulai sedikit berpikir jernih, dan menerima semua ini. Kini aku pindah sekolah (mungkin kalian tau penyebabnya, dan tiddak perlu aku jelaskan), dan aku mulai membantu bunda diwarung kecil yang kami miliki sejak kemalangan yang menimpa ayah.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar