Jumat, 19 Juni 2015

Kata Sang Bunda



            “Aku juga manusia Nis”, yups itu adalah jawaban salah satu orang temanku yang kini telah berprofesi sebagai seorang ibu ketika aku bertanya “apakah dia pernah marah kepada anaknya”. Bisa kalian bayangkan bukan, diusia 20 tahun mereka dipaksa untuk menjadi sosok ibu, mungkin kalian pernah melihat fakta semacam itu disekitar kehidupan kalian. Pernah gak kalian baca UU No. 01 Tahun 1974 pasal 7 ayat 1 yang mengatur batas usia pernikahan sebagai bentuk kesepakatan nasional yang merupakan kebijakan (open legal policy) pembentuk undang-undang. Tapi ya sudah  tiap orang tua, daerah, dan adat setiap kita berbeda-beda, oke kita kembali pada topik yang ingin aku sampaikan dari tulisan ini. Bisa kita banyangkan ketika suasana hati sedang tidak nyaman, anak sudah berseliweran di dalam rumah dan mengacak-acak rumah yang keadaannya yang memang sudah tak beraturan karena tidak punya asisten rumah tangga. Penat ?? kesal ?? marah ?? PASTI !!! diusia yang bisa dibilang masih relatif muda mereka diharuskan untuk mengurus seorang “anak” .
            Kalo aku udah gak tahan, aku pukul dia”,
            Kenapa harus memukul mereka ?? kenapa gak kamu coba untuk menasehati atau menegr merek baik-baik??
            Kau bisa berkata begitu karena kau tidak pernah merasakan mengurus anak”.
            Eits,,,, jangan salah. Meskipun aku tidak memiliki anak sendiri aku punya 3 orang ponakan yang tingkahnya masya allah ”.
            Itu sedikit percakapan yang sempat aku lakukan dengan salah serang temanku yang memiliki anak berusia kurang lebih 2,5 tahun, bisa kalian bayangkan bagaimana tingkah yang sering mereka lakukan. Suka mengacak-ngacak rumah, nangis gak karuan jika hal yang mereka inginkan gak segera diberikan, dan mungkin masih banyak lagi ulah yang sering mereka lakukan. Tapi tunggu dulu, bukankah hal itu wajar dilakukan oleh seorang anak kecil, sudah sewajarnya jika mereka bertingkah semacam itu selama tidak menyalahi aturan pastinya.
Bukan berarti dengan “kenakalan” yang mereka lakukan menjadi alasan kita sebagai orang tua untuk memukul atau bahkan menyiksa mereka. Masih ada beribu cara yang bisa kita lakukan untuk mengajari mereka makna kata “disiplin” dengan cara perlahan-lahan pastinya. Bukankah Rasulullah SAW telah memberikan kita pedoman untuk mendidik anak sebagaimana mestinya, salah satunya saja larangan bagi para orang tua untuk memukul daerah wajah pada anak.
            Miris memamng jika kita melihat fenomena yang akhir-akhir ini marak terjadi pada anak-anak diusia dini, dimana pada masa-masa itu mereka seharusnya memiliki kenangan-kenangan indah yang kelak akan mereka ceritakan dengan bangga kepada anak cucu mereka. Masa dimana mereka seharusnya merasakan keceriaan layaknya anak-anak seusia mereka.
            Ayolah, untuk para orang tua yang kini telah memiliki “amanah” dari Tuhan, jaga mereka dengan sebaik-baiknya. Jika kalian telah diberi amanah itu sungguh hal ini  berarti Tuhan telah sangat percaya kepada kalian unuk membesarkan amanah tersebut. Dan untuk kalian para calon orang tua, alangkah lebih bijaknya jika kalian memikirkan kesiapan kalian masing-masing sebelum akhirnya nanti kalian memiliki anak sebagai buah cinta kalian. J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar