“Aku juga
manusia Nis”, yups itu adalah jawaban salah satu orang temanku yang kini
telah berprofesi sebagai seorang ibu ketika aku bertanya “apakah dia pernah
marah kepada anaknya”. Bisa kalian bayangkan bukan, diusia 20 tahun mereka dipaksa
untuk menjadi sosok ibu, mungkin kalian pernah melihat fakta semacam itu
disekitar kehidupan kalian. Pernah gak kalian baca UU No. 01 Tahun 1974 pasal 7
ayat 1 yang mengatur batas usia pernikahan sebagai bentuk kesepakatan nasional
yang merupakan kebijakan (open legal policy) pembentuk undang-undang. Tapi ya
sudah tiap orang tua, daerah, dan adat
setiap kita berbeda-beda, oke kita kembali pada topik yang ingin aku sampaikan
dari tulisan ini. Bisa kita banyangkan ketika suasana hati sedang tidak nyaman,
anak sudah berseliweran di dalam rumah dan mengacak-acak rumah yang keadaannya
yang memang sudah tak beraturan karena tidak punya asisten rumah tangga. Penat
?? kesal ?? marah ?? PASTI !!! diusia yang bisa
dibilang masih relatif muda mereka diharuskan untuk mengurus seorang “anak”
.
“Kalo aku udah
gak tahan, aku pukul dia”,
“Kenapa harus
memukul mereka ?? kenapa gak kamu coba untuk menasehati atau menegr merek
baik-baik??”
“Kau bisa
berkata begitu karena kau tidak pernah merasakan mengurus anak”.
“Eits,,,,
jangan salah. Meskipun aku tidak memiliki anak sendiri aku punya 3 orang
ponakan yang tingkahnya masya allah ”.
Itu sedikit
percakapan yang sempat aku lakukan dengan salah serang temanku yang memiliki
anak berusia kurang lebih 2,5 tahun, bisa kalian bayangkan bagaimana tingkah
yang sering mereka lakukan. Suka mengacak-ngacak rumah, nangis gak karuan jika
hal yang mereka inginkan gak segera diberikan, dan mungkin masih banyak lagi ulah
yang sering mereka lakukan. Tapi tunggu dulu, bukankah hal itu wajar dilakukan
oleh seorang anak kecil, sudah sewajarnya jika mereka bertingkah semacam itu selama
tidak menyalahi aturan pastinya.
Bukan berarti
dengan “kenakalan” yang mereka lakukan menjadi alasan kita sebagai orang
tua untuk memukul atau bahkan menyiksa mereka. Masih ada beribu cara yang bisa
kita lakukan untuk mengajari mereka makna kata “disiplin” dengan cara
perlahan-lahan pastinya. Bukankah Rasulullah SAW telah memberikan kita pedoman
untuk mendidik anak sebagaimana mestinya, salah satunya saja larangan bagi para
orang tua untuk memukul daerah wajah pada anak.
Miris memamng jika
kita melihat fenomena yang akhir-akhir ini marak terjadi pada anak-anak diusia
dini, dimana pada masa-masa itu mereka seharusnya memiliki kenangan-kenangan
indah yang kelak akan mereka ceritakan dengan bangga kepada anak cucu mereka. Masa
dimana mereka seharusnya merasakan keceriaan layaknya anak-anak seusia mereka.
Ayolah, untuk para
orang tua yang kini telah memiliki “amanah” dari Tuhan, jaga mereka
dengan sebaik-baiknya. Jika kalian telah diberi amanah itu sungguh hal ini berarti Tuhan telah sangat percaya kepada
kalian unuk membesarkan amanah tersebut. Dan untuk kalian para calon orang tua,
alangkah lebih bijaknya jika kalian memikirkan kesiapan kalian masing-masing
sebelum akhirnya nanti kalian memiliki anak sebagai buah cinta kalian. J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar