Rabu, 13 Mei 2015

SEPASANG HATI



SEPASANG HATI
            Sebuah kamar dengan dominasi warna biru laut, beberapa kertas nampak berkeliaran tak beraturan. Banyak foto seorang gadis yang tertempel hampir menutupi salah satu bagian dinding kamar itu. Diatas tempat tidur tergeletak seorang pria setengah baya yang nampaknya tengah sibuk memikirkan sesuatu.
            “Apa yang kau bayangkan Ken ?”.
            “Aku membayangkan dia”. Tunjuk pria itu pada foto-foto gadis yang tertempel diseberangnya.
            “Kalau kau rindu Jingga kenapa tak kau temui dia?”.
            “Kami masih menunggu waktu Yas”.
            “Waktu ?? apa 3 tahun itu masih kurang begitu menyiksa pikiran kalian ?”.
            “Enggak, enggak sama sekali”.
            “Merinduinya dengan cara seperti ini justru yang membuatku bangga dengan dia. Kau tau Yas, ketika semua pasangan kekasih saling bertemu dan bermanja-manja, tidak begitu dengan kami”.
            “Yah, kalian memang pasangan yang aneh”.
            “Ah, kau jangan menghina lelaki ini Yas’. Suara lelaki itu sedikit terdengar lirih
            “Bukan maksudku menghina mu Ken. Bayangkan saja, kalian membuat perjanjian bodoh dalam hubungan kalian. Tidakkah kau khawatir dengan hubunganmu dan Jingga ?”.
            “Tak pernah ada sedikitpun hal semacam itu dalam pikiran kami Yas, bahkan sejauh apapun dia meninggalkan aku. Aku yakin bahwa dia masih memberiku tempat terindah dihatinya”.
            “Kata-katamu terlalu puitis Ken. Tapi aku akui, aku sedikit ragu untuk mempercayai ucapanmu itu. Bukan maksudku meragukan cinta kalian berdua, tapi jika aku pikirkan lebih dalam lagi dan melihat beberapa kenyataan yang aku lihat sendiri dari dunia sekitarku kisah cinta kalian memiliki kemungkinan yang besar untuk terpisah”.
            “Aku tidak pernah memaksamu untuk mempercayai hubunganku dengan Jingga. Hanya kami berdua saja yang percaya hubungan ini, sudah cukup untuk membuat kami bertahan satu sama lain”.
            “Ya,,, benar juga apa kata mu. Tetaplah menjaga kepercayaan dan keutuhan cinta istimewa kalian”.  Suara Ilyas sedikit memberi tekanan pada kata istimewa .
            Ken hanya tersenyum menanggapai ucapan Ilyas, pandangan nanarnya kembali terarah pada sekumpulan foto gadis yang hampir memenuhi dinding kamarnya. Senyum manis gadis itulah yang membuat dia betah untuk berlama-lama menatap dinding itu.
            “Kita sudah menepati janji yang telah kita buat 5 tahun yang lalu Ken “.
            Ken hanya terdiam ketika gadis yang berada didepannya menyunggingkan senyum. Dia tidak tau, bagaimana ekspresi yang akan dia tunjukkan ketika saat ini tiba. Dia gugup, bahagia, sepertinya ada berbagai kebahagiaan yang mengisi rongga dadanya. Kini dia bisa membuktikan ucapannya kepada Ilyas, bahwa Jingga benar-benar datang dengan cinta yang tetap penuh seperti dulu. dia tetap bisa tersenyum manis diatas kursi roda yang selama 5 tahun perjanjian konyol ini menemani dia, menjadi pengganti sosok Ken yang seharusnya ada disisinya. Dan Ken tetap sama seperti dulu, sebuah tongkat hiam masih tetap setia menemani kemanapun dia melangkah. Sepertinya Ilyas harus merubah pemikirannya mengenai cinta antara Ken dan Jingga yang dengan hebatnya mampu menyatukan sepasang hati seorag gadis lumpu dan lelaki tunanetra.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar