Senin, 14 Desember 2015

JINGGA ITU MAMA




            Seandainya aku tau hal itu sebelumnya, mungkin aku akan menggenggam tangan hangatnya lebih lama lagi, aku akan mengukir senyumnya lebih sering dari yang aku bisa. Entah aku semakin tak paham dengan sang waktu, mengapa masih banyak teka-teki yang dia simpan dibalik jubahnya untuk  hidupku.
            “Sudahlah Key, kamu gak boleh terus-terusan termenung dan menyendiri seperti sekarang”.
            “Keyla gak tau lagi mesti gimana Fer”.
            “Kemana perginya Keyla yang aku kenal dulu ?”.
            Pandanganku tertuju pada sang mentari yang hampir tenggelam seakan-akan tenggelam dan hilang ditelan bumi. Pandangan nanar menatap semburat jingga yang eksotis, seakan memaksaku untuk kembali mengingat semua kenangan yang aku ukir dengan MAMA disaksikan oleh jingga. Sudah setahun semenjak mama meninggalkan aku dan papa sendirian, kenapa dia tak pernah mengatakan padaku tentang kanker yang bersarang dalam tubuhnya, bagaimana mungkin dia berperang sendiri  melawan keganasan itu sendirian. Satu hal yang membuat aku bangga terlahir dari rahim seorang wanita sehebat beliau. Tak pernah sekalipun aku mendengar dia mengeluhkan rasa sakit yang aku tau sangat mengganggu dia dan kesehariannya, tak pernah sekalipun aku melihat ada gurat kesedihan karena keganasan penyakit itu pada wajahnya.
            Mama, sosok wanita yang mungkin kalian semua cintai, begitupun denganku. Mama adalah sosok wanita yang paling aku cinta diseluruh dunia ini, tak ada satupun wanita yang bisa menggantikan semua usaha yang dia berikan padaku. Seandainya aku punya sebuah lampu ajaib yang bisa mengabulkan keinginanku, hanya satu hal yang aku inginkan. Aku ingin mama ada disini lagi, disampingku agar aku  bisa kembali bercerita dan bermanja-manja dengannya. Masih banyak hal yang ingin aku bagi dengannya, aku masih ingin bersandar dibahunya dan menumpahkan semua keluh kesah dan airmataku.
            Semenjak mama pergi banyak hal yang berubah, sikap tante, bahkan kakakku sendiripun berubah. Mereka memperlakukanku seolah-olah aku adalah orang lain dalam keluarga mereka. Menyuruhku seenak hati tanpa memperdulikan keadaanku. Seolah-olah aku adalah pembantu dirumahku sendiri. Aku mulai lelah, hendak berontakpun percuma, tidak aka nada yang bisa mengerti aku kecuali mama, sejak saat itu aku seakan menjadi sosok Keyla yang berbeda. Aku teramat terpukul dengan kepergian mama, aku menyalahkan Tuhan karena telah mengambil mama terlebih dulu. Aku merasa tak memiliki sandaran lagi, aku selalu gusar setiap kali mengingat sosok mama. Hingga pada akhirnya, untuk petama kali aku memberanikan diri merokok, setiap kali kesedihan menghampiriku, rokok adalah kawan yang bisa menenangkanku. Hingga pada akhirnya kebiasaanku merokok dibelakang kampus diketahui oleh salah seorang teman lelaki. Ya,,, lelaki itu adalah Ferli.
            “Keyla,,,”. Tegur Ferli waktu itu dan menarik punting rokok yang ada disela jemariku.
            “Apaan sih lo Fer, balikin rokok gue”. Bentakku
            “Seharusnya gue yang nanya sama lo, kemana akal sehat lo ?’.
            “Lo gak usah ikut campur urusan gue, sekarang balikin rokok gue”.
            Ferli langsung membuang punting rokokku ke tanah dan menginjak-injaknya.
            “Sejak kapan lo mulai ngerokok”.
            “Apa peduli lo ?’.
            “Gue peduli karn gue sayang lo Key”.
            “Hahaha,,, sayang lo bilang. Entah udah berapa lama gue gak pernah denger kata itu semenjak nyokap gue meninggal”.
            Entah kenapa saat mengucapkan kata mama airmataku menetes, mungkin karena kerinduank yang terama sangat waktu itu. Melihatku menangis Ferli mendekat dan merengkuh tubuhku. Mama, jika saja yang tengah memelukku saat ini adalah dirimu aku tak ingin melepaskannya. Airmataku semakin deas dan mulai terdengar sesenggkan disela napasku.
            “Gue kangen mama fer, gue iri ngeliat mereka yang bisa becanda bareng sama mama mereka”.
            Ferli tak mejnwab, dia semakin mengencangkan pelukannya
            “Iya Key gue paham, nangis aja sepuas lo. Gue ga bakalan ngelarang”.
            Mulai saat itu pula, Ferli selalu menemaniku. Dia bilang kalo hal itu dia lakukan karna gak mau melihat aku merokok lagi.
            “Sebelum lo ngelakuin hal-hal aneh semacam itu lagi, coba lo bayangin gimana perasaan mama lo kalo ngeliat kondisi lo saat ini. Dia pasti bakalan sedih banget Key, masih banyak orang yang peduli sama lo. Lo gak usah peduli sama mereka yang benci atau ga ngehargain lo. Masih ada gue dan semua temen-temen yang sayang sama lo. Kepergian mama lo bukan berarti menjadi alasan lo ngelakuin hal bodoh itu lagi. Ingat itu “.

@     @     @
            “Seorang wanita itu bagaikan benang dan laki-laki adalah layangannya. Jika kau ingin layang-layangmu terbang tinggi diangkasa, kau harus menjadi benang yang berkualitas tinggi”.
“Apa maksud mama ?”.
            “Kita sebagai wanita pasti mengharapkan sosok lelaki yang mampu mengayomi kita sayang, jika kita menginginkan hal itu gak seharusnya kita berdiam diri saja. Kita juga harus berusaha untuk memantaskan diri bagi mereka yang mampu terbang tinggi”.
            Aku terdiam, sebagian ucapan mama bisa aku cerna disore itu ketika warna jingga menghiasi langit yang saat ini menemani sore ku dengan mama dihalaman belakang.
            “Gimana caranya agar Keyla bisa menjadi benang yang berkualitas itu ma ?”.
            “Keyla tau bagaimana proses pembuat benang nilon berkualitas yang bisa menerbangkan laying-layang tinggi dilangit ?”.
            “Keyla gak tau, emang gimana ma ?”.
            “Benang nilon itu sendiri terbuat dari plastiik yan dipanaskan, setelah itu dia ditarik dengan kekuatan tertentu hingga akhirnya dia akan menjadi benang nilon yang baik, sama halnya dengan pembuatan benang itu sayang. Untuk menjadi seorang pendamping yang berkualitas untuk jodohmu kelak kamu harus mau bersusah payah memperbaiki dirimu untuk jodohmu nanti. Jangan penah melakukan hal apapun tanpa kamu pikirkan resiko yang mungkkin akan kamu alami atas tindakan yang akan kamu lakukan”.
            Itu salah satu pesan mama yang aku ingat hingga saat ini, hingga dia pergi membawa kanker yang diderita sampai akhir hayatnya. Berpikirlah sebelum kau bertindak, itu kesimpulan yang bisa diambil dari pesan yang disampaikan mama menurut Ferli..
            “Keyla kangen mama Fer “
            Untuk sekian kalinya aku menangis didepan Ferli. Menangis karena kerinduanku yang teramat sangat kepada mama. Terkadang aku selalu berharap mama bisa berada disini saat ini, menemani aku menjalani kehidupanku ini.
            “Kamu pasti bisa ngejalanin semua ini, kamu harus bisa membuat mendiang mama kamu bangga”.
            Senja kala itu tampak lebih indah ma, aku menikmatinya dengan sosok laki-laki yang sudah mampu menjagaku, mengajariku banyak hal, membantuku bersabar menghadapi tante dan kakak, dan pastinya dia mau menerima semua hal tentangku. Ma,,, semoga aku dan Ferli bisa menjadi sepasang layang-layang dan benang yang saling membanu satu sama lain seperti pesan mama dulu. Keyla harap mama baik-baik saja disana, tak perlu khawatir dengan keadaan Keyla, karena disini sudah ada Ferli yang udah Key anggap sebagai pengganti mama, meski dia sedikit lebih cerewet.
  

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti writing project yang diselenggarakan Nulisbuku.com dan storial.co

Kamis, 10 Desember 2015

Tugas mahasiswa keperawatan dalam menjawab tantangan globalisasi

     Berbeda dengan negara berkembang lain seperti Thailand dan Filipina yang saat ini telah memiliki payung hukum yang kuat untuk para perawatnya, profesi keperawatan di Indonesia adalah profesi yang sedang berjuang menuju pengakuan publik yang lebih kokoh dalam payung hukum. Tantangan demi tantangan muncul bersamaan dengan perjuangan tersebut, baik berasal dari internal maupun eksternal, termasuk globalisasi dalam bidang keperawatan  yang tiap detiknya semakin berkembang. Mengutip perkataan Scholte, seorang profesor dalam bidang Centre for the Study of Globalisation and Regionalisation (CSGR) di University of Warwick “Globalisasi memiliki empat tafsiran makna, yaitu internasionalisasi, liberalisasi, universalisasi, westernalisasi, bahkan sampai hubungan transplanetari dan suprateritorialitas.” Internasionalisasi diartikan sebagai meningkatnya hubungan internasional, liberalisasi diartikan sebagai semakin menurunnya batas antar negara, universalisasi digambarkan sebagai semakin tersebarnya hal material maupun imaterial ke seluruh dunia, sedangkan westernalisasi digambarkan sebagai satu bentuk dari universalisasi dengan semakin menyebarnya pikiran dan budaya dari barat sehingga mengglobal. Berbeda dengan keempat pengertian di atas, transplanetari dan suprateritorialitas digambarkan sebagai dunia global yang memiliki status ontologi1 tersendiri, bukan sekadar gabungan negara-negara.
     Melihat cakupan definisi globalisasi di atas, maka makna globalisasi keperawatan pun dapat diartikan sebagai bentuk berkurangnya batas-batas negara, semakin cepatnya informasi tersebar diseluruh dunia, dan semakin mudahnya perawah-perawat asing masuk ke Indonesia serta semakin sengitnya kompetisi para mahasiswa keperawatan dalam mempersiapkan diri untuk bersaing dalam dunia kerja kelak. Mahasiswa yang dapat berkompetisi dalam era globalisasi adalah mahasiswa yang mempersiapkan diri dengan baik sejak dini. Untuk menjadi profesional yang matang, tugas seorang mahasiswa adalah menumbuhkan rasa kecintaan terhadap profesi sebagai perawat, semangat yang tinggi, dan belajar berpikir kritis. Oleh karena itu, mahasiswa keperawatan yang bisa menjawab tantangan globalisasi adalah mahasiswa yang cinta akan profesi keperawatan, senantiasa bersemangat dengan menjadikan masalah yang dihadapi sebagai sebuah tantangan dan selalu belajar untuk berpikir kritis.
     Dalam mengikuti proses belajar, tugas pertama mahasiswa adalah terlebih dahulu harus merasakan rasa kecintaannya terhadap bidang keperawatan dengan mengenalnya terlebih dahulu. Fenomena yang terjadi saat ini adalah masih banyak mahasiswa keperawatan yang belum menemukan kepuasan tersendiri dalam belajar terutama pada mahasiswa tingkat awal. Mahasiswa mengerjakan tugasnya hanya untuk memenuhi tuntutan tugas dan deadline. Hal ini wajar apabila dirasakan oleh mahasiswa tingkat awal karena merasa belum terbiasa dengan perubahan cara belajar mereka, tetapi akan dapat menyulitkan pada masa depan mahasiswa kelak ketika menjadi seorang perawat apabila belum juga menemukan rasa cintanya terhadap keperawatan. Alhasil, pandangan masyarakat yang mengaggap bahwa perawat itu galak, tidak ramah, dsb tidak akan terelakkan. Oleh karena itu, semangat untuk mencintai dunia keperawatan adalah suatu keniscayaan. Apabila seorang mahasiswa telah mencintai apa yang ia pelajari, maka ia pun akan meresapi kalimat demi kalimat dalam materi tersebut, dan ketika bekerja kelak ia pun senantiasa bekerja dengan hati. Salah satu cara untuk menimbulkan rasa cinta terhadap keperawatan adalah mencoba untuk berkonsentrasi terlebih dahulu dalam setiap kesempatan belajar, mencoba untuk selalu duduk di depan ketika orang lain presentasi, menolak kata “malas” untuk mendengarkan, mencoba belajar sesuai dengan karakter belajar, apakah visual, audio atau pun kinestetik, contohnya mahasiswa dengan tipe visual akan lebih menyukai dan mencintai apa yang ia pelajari ketika belajar dengan melihat video-video animasi proses perjalanan suatu penyakit dari pada mendengarkan orang lain menjelaskan, dsb.
Tugas kedua mahasiswa keperawatan adalah senantiasa bersemangat dengan menjadikan suatu hambatan atau masalah yang muncul sebagai tantangan, bukan suatu ancaman. Permasalahan mahasiswa yang banyak terjadi biasanya mengenai menejemen waktu. Mahasiswa terkadang menyalahkan banyaknya aktivitas organisasi atau pun kepanitiaan di luar akademik yang mengakibatkan proses belajar akademik terganggu, alhasil masih banyak mahasiswa yang menganggap bahwa merupakan suatu hal yang wajar apabila seorang aktivis kampus memiliki indeks prestasi dibawah rata-rata. Padahal, dibalik itu banyak juga mahasiswa yang mampu menyeimbangkan antara kedua hal tersebut, karena selain mereka berusaha untuk senantiasa bersemangat, mereka pun menjadikan masalah menejemen waktu sebagai tantangan yang harus diselesaikan, bukan ancaman yang harus ditakuti. Oleh karena itu, untuk menjadi mahasiswa yang senantiasa bersemangat dalam belajar, cara yang dapat dilakukan adalah dengan selalu bergabung dengan orang-orang bersemangat itu, menggali ilmu sebanyak-banyaknya dan menemukan inspirasi dari mereka yang dapat membuat semangat kita meledak-ledak setiap hari untuk senantiasa belajar dan belajar, tidak hanya akademis tetapi juga keterampilan-keterampilan yang tidak ditemukan dalam proses belajar di kelas.
     Tugas mahasiswa selanjutnya untuk menjawab tantangan globalisasi adalah selalu berusaha belajar berpikir kritis. berpikir kritis dapat didefinisikan secara sederhana, yaitu ketika seseorang menemukan suatu permasalahan, secara spontan ia tahu langkah-langkah apa yang harus dilakukan untuk berusaha menyelesaikan masalah tersebut. Contohnya, apabila dalam proses belajar seorang mahasiswa diberi kasus oleh dosennya, maka ia tahu yang harus dilakukan pertama kali adalah mengkaji informasi-informasi yang dapat ditemukan dalam kasus tersebut, kemudian menganalisa dan mengelompokkan data-data tersebut sehingga dapat dirumuskan menjadi suatu diagnosa keperawatan. Setelah itu, mencari tahu intervensi atau tindakan apa yang harus dilakukan sesuai tingkat kebutuhan dasar klien dalam kasus tersebut. Berpikir kritis tidak hanya dapat dilakukan oleh orang-orang tertentu, melainkan semua orang bisa melalukannya selama ia mau untuk senantiasa berusaha, baik itu bertanya, mencari referensi diperpustakaan, dsb.  Perawat yang bisa berpikir kritis tidak semata ditentukan oleh seberapa tinggi IQnya atau seberapa besar indeks prestasinya, tetapi berpikir kritis merupakan hasil dari suatu proses belajar dalam perjalanan hidup. Berpikir kritis membutuhkan latihan dalam kehidupan keseharian seorang mahasiswa, tidak hanya ketika ia mengikuti proses belajar di kelas tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu cara sederhana yang bisa dilakukan untuk melatih diri untuk berpikir kritis adalah mencoba untuk memposisikan diri sebagai pengambil kebijakan atau keputusan dalam penyelesaian masalah tertentu, dan menuangkan opini yang terpikirkan untuk menyelesaikan masalah tersebut kedalam bentuk lisan maupun tertulis, baik itu hanya diskusi, catatan harian atau pun sebuah esai. Hal tersebut bertujuan untuk melatih kebiasaan berpikir kritis yang spontan terlintas dalam pikiran ketika suatu permasalahan muncul, baik itu masalah yang sederhana maupun masalah yang kompleks. Pentingnya opini tersebut harus disalurkan baik lisan maupun tulisan adalah untuk melatih kemampuan mahasiswa untuk menyampaikan pemikiran-pemikirannya. Sehebat apapun sebuah pemikiran apabila tidak disampaikan maka tidak ada hasil apapun yang bisa didapatkan dan masalah pun tidak terselesaikan.
     Globalisasi keperawatan memiliki cakupan makna yang luas sebagaimana yang telah dipaparkan di atas. Tantangan demi tantangan pun kian menghampiri dan mau tidak mau mahasiswa keperawatan harus dapat menjawab tantangan globalisasi tersebut jika tidak ingin tertinggal, dengan cara mempersiapkan diri untuk berkompetisi. Berusaha mencintai terlebih dahulu profesi keperawatan, bersemangat dalam belajar, dan senantiasa belajar untuk berpikir kritis merupakan bekal yang sangat baik untuk dijadikan tameng pelindung dalam berkompetisi menghadapi globalisasi keperawatan kelak, dan ketiga hal tersebut merupakan tugas masing-masing mahasiswa keperawatan yang harus diimplementasikan dalam proses belajar sehari-hari.

Jumat, 16 Oktober 2015

THE PUBLIC HEALTH NURSE

     Hai gaes,,, hari ini entah dapet wangsit darimana aku pengen banget ngebahas sosok perempuan yang dikenal dengan sebutan The Public Health Nurse. Oke daripada berlama-lama dengan basa-basi aku yang sedikit jayus (meski sebenernya jayus banget) aku langsung ke inti tulisan yang bakal kita bahas saat ini, check it out. Florance Nightingale (1820-1910), siapapun sosok perawat di dunia ini pasti sudah tidak asing lagi dengan nama tersebut. Wanita ini dikenal atas usaha kerasnya untuk mengabdikan diri di Rumah Sakit, karena dari beberapa sumber yang sempat aku baca Florance adalah anak perempuan dari salah satu keluarga terpandang, ayahnya bernama William Nightingale. Pada saat itu Rumah Sakit merupakan salah satu tempat yang dikenal kotor dan menjijikkan, atas dasar itulah ibu dan kakak Florance tidak mengijinkan dia untuk menjadi seorang perawat. tapi akhirnya Florance bersikeras dan tetap pergi ke Kaiserswerth, Jerman untuk mendapatkan pelatihan bersama biarawati di sana.. Selama empat bulan ia belajar di sana dengan tekanan dari keluarganya yang takut akan implikasi sosial yang akan timbul dari seorang gadis yang menjadi perawat dan latar belakang rumah sakit yang Katolik sementara keluarga Florance adalah Kristen Protestan.. Namun selain sosok Florance Nightingale yang begitu terkenal didunia keperawatan ada sosok yang wanita yang hidup jauh sebelum zaman Florance Nigtingale dan sudah mengabdikan diri untuk merawat masyarakat yang sedang ssakit, sosok itu ialah RUFAIDAH BINTI SA'AD AL BANI ASLAM AL-KAZROJ (570-632 M).
     Rufaidah adalah seorang wanita yang lahir di Yastrib, Madinah pada tahun 570 M dan wafat pada 632 M. Ia hidup pada abad pertama hijriyah atau pada abad ke-8 Masehi (termasuk golongan Anshor), dia dikenal dengan sebutan The Public Health Nurse. Berbeda denga Florance Nightingale yang tidak mendapatkan restu dari ibu dan kakaknya untuk menjadi perawat di rumah sakit, Rufaidah mendapatkan keahliannya dari membantu sang ayah yang merupakan seorang dokter pada zaman itu. Sedari kecil dia seringkali membantu merawat orangyang sakit. Disaat ota Madinah berkembang pesat, dia membangun sebuah tenda di luar Masjid Nabawi saat dalam keadaan damai.
     Rufaidah juga melatih beberapa kelompok wanta untuk menjadi perawat. kelompok ini mengambil peran penting dalam perang Khaibar. Mereka memintaizin pada Rasulullah SAW untuk ikut di garis belakang pertempuran serta merawat mujahid yang terluka. Pernah di kisahkan pada saat terjadi perang Ghazwat al Khandaqsalah seorang sahabt yang bernama Sa'ad bin Ma'adh terluka dan tertncap panah di tangannya lalu Rufaidah pun mengobatinya hingga kondisinya kembali stabil. Selain itu dia juga memberikan perawatan layanan kesehatan kepada anak yatim dan penderita gangguan jiwa. Kepribadian yang luhurya ditunjukkan dengan pengabdian serta layanan yang baik bagi kaum papa tersebut.
     Menurut Prof D. Omar Hasan Ksule, Sr dalam studi "Paper Presented at the 3rd International Nursing Conference "Empowerment and health :An Agenda for Nurse in the 21st Century yang diadakan di Brunei Darussalam pada 1-4 Nopember 1998, Rufaidah adalah perawat profesional pertama di masa sejarah Islam. Rufaidah jug sebagai pemimpin dan pencetus sekolah keperawatan pertam di dunia Islam. Ia juga merupakan penyokong advokasi pencehagan penyakit dan menyebarkan pentingnya penyuluhan kesehatan. oke, mungkin cuma segini yang bisa aku bagi dan simpulkn dari beberapa sumber yang sempat aku baca. And for the last, aku cuma pengen ngasih sedikit tambahan untuk semua rekan sejawat. Entah dimanapun kalian ditugaskan dan diberi amanah, jalani semuanya dengan hati karena segala yang berasal dari hati akan sampai kepada hati. KITA SEMUA ADALAH INSAN YANG DIPERCAYA TUHAN UNTUK MEMBANTU SESAMA DENGAN KESABARAN DAN KASIH SAYANG. Oke sampai disini dulu mungkin ocehan kurang penting aku, see you in another time  :)

Kamis, 15 Oktober 2015

Happy Birthday Atila

Fathir Muhammad Ishaq... selamat ulang taun yang keempat sayang. Wah gak kerasa Atila sekarang udah gede. jadi anak sholeh ya sayang, nurut sama bapak sama umi juga. hemm,,, kalo gak salah udah hampir 2 taun ya Atila gak maen ke Probolinggo. cepet gede yah le, biar bisa maen-maen kesini :). Hahaha,,, mungkin kamu Atila udah lupa sama wajah tante, lah gimana gak lupa

301014

     Suasana senja di Yogyakarta,,, siluet jingga begitu nampak dari pesantren tempat ku nyantri “Al-Munawwir”. Yah sebuah pesantren yang terletak dipojok Malioboro, tempat yang memang selalu menjadi incaran para wisatawan jika berkunjung ke kota gudeg ini. Sebuah bangunan yang terlihat begitu anggun ditengah keramaian Malioboro. Gapura yang memikat hati siapaun yang menatapnya untuk masuk dan menjelajahi isi bangunan anggun itu,
     “Mbak Ghina, ditunggu mbak Sakina di depan ndalem tuh”.
     “Oh iya Ci makasih”.
Aku bergegas meraih jilbab kuningku yang tergantung dipintu lemari dan mengenakannya, sudah menjadi rutinitas setiap ba’da ashar, aku dan Sakina salah satu teman asramaku dipercaya pengasuh untuk membersihkan ndalem. Ndalem pengasuh memang bisa dibilang cukup jauh dari asrama ku.
     “Maaf Ki, rada telat. Masih ada sedikit kerjaan barusan”.
     “Iya gak papa kok Ghin, kamu bersihin kamar ning Hilmi ya aku masih ditugasi buat ganti sprei ibu nyai”.
     Seeerr,,, seperti ada aliran hangat yang mengalir kedalam tubuh ku, ning Hilmi adalah putri ketiga dari kyai yang beberapa bulan lalu menikah dengan putra seorang kyai di luar jawa. Gus Dyas, begitulah kami sering menyebutnya.
     “Eh,,, kok malah diem, ayo cepet ntar keburu malem loh”.
     “Oh iya Ki”
Aku harus menyiapkan mentalku terlebih dulu sebelum melangkahkan kakiku masuk kekamar ning Hilmi, aku harus siap merasakan sebuah rasa cemburu. Yah cemburu ketika melihat sebuah foto yang terpajang dan nampak begitu romantis serta nampak serasi satu sama lain. Gila memang, aku sadar tak seharusnya ada perasaan seperti ini di dalam hatiku. Sadar Ghin,,, dia itu suami dari putri gurumu. Selalu saja ada pertentangan setiap kali aku membicarakan cinta yang terlarang ini.
                                                                         # # # # #
     Aku sangat mengharapkan seorang laki-laki yang kelak bisa membuatku bahagia dunia akhirat. Sekilas aku menatapnya dan hanya mendengarkan cerita- dari orang yang dekat dengannya. Sebut saja namanya Dyas. Beliau adalah menantu dari guruku sendiri, jadi jika dilihat dari silsilah guru, dia juga guruku. Tapi apa yang hendak dikata saat hatiku bergetar untuk mencintainya. Aku sadar bahwa cintaku ini bukanlah cinta yang wajar, bahkan bisa di katakan cinta yang terlarang. Iya ….. aku tau itu , aku sadar kalau dia sudah beristri. Tapi sudahlah … ini juga bukan cita-cita ku , tapi salahku harapan yang kurang lengkap, seandainya aku dulu berharap seorang laki-laki yang bisa membahagiakan dunia akhirat dan masih “perjaka”, mungkin aku gak akan mencintainya. Dan sekarang semuanya sudah terlanjur, biarlah perasaan ini aku simpan saja jauh didalam hatiku sendiri.
     “Ghina,,,
     Sebuah panggilan yang sempat membuat aku sedikit gugup dan enggan untuk menoleh, suara yang sudah aku kenali siapa pemiliknya. Namun aku harus menghormati si empunya suara itu, dan dengan berat pun aku menoleh.
     “Njeh gus ada apa?”.
     “Tolong angkat kan barang-barang itu ke kamar ya”. Tunjuk gus Dyas ke arah beberapa tas yang ada didepan pintu masuk ndalem.
     “Njeh gus”. Aku bergegas menuju tumpukan tas itu dan mengikuti langkah gus Dyas yang menuju ke kamarnya.
     “Terima kasih ya Ghin, oh iya tempo hari saya menemukan ini. Dan saya pikir ini barang kamu”. Gus Dyas menyodorkan sebuah kalung yang bertuliskan namaku.
     “Masya Allah terima kasih gus, ini memang kalung saya yang hilang tempo hari. Mungkin terjatuh ketika saya membersihkan kamar jenengan”.
     “Iya gak papa, ini kalungmu”.
     Canggung, bahagia, gemetar, semua perasaan itu campur aduk dalam hatiku, ya Robb,,, janganlah kau hukum aku atas perasaan yang telah lancang aku hadirkan kepada sosok adam yang tengah berdiri didepanku ini.
     “Kalo sudah selesai saya permisi keluar gus”.
     “Oh iya,,, terima kasih ya Ghina”.
Sediki terhuyung aku melangkah menuju asrama, tak habis-habisnya aku pandangi kalung ku ini. Kalung yang sempat dipegang oleh sosok lelaki yang aku idamkan menjadi imamku. Namun aku sadar bahwa hal itu tidaklah mungkin menjadi sebuah kenyataan.
                                                                                      # # # # #
     “Ghin ayo cepet,kita dipanggil ning Hilmi, disuruh ke kamarnya”.
     “Iya Ki, kamu duluan deh. Aku masih mau sholat dulu sebentar, abis sholat aku langsung kesana”.
     “Oke”.
     Sepeninggal Sakina aku bergegas menunaikan sholat, beberapa menit kemudian aku bergegas menuju kamar Ning Hilmi. Ada apa gerangan ning Hilmi memanggil kami ke kamarnya jam segini. Sesampainya disana aku melihat ning Hilmi, gus Dyas, dan Sakina serta tumpukan baju yang sebagian sudah dimasukkan kedalam koper.
     “Assalamualaikum ning…
     “Waalaikum salam mbak Ghina, masuk aja mbak. Ini masih belum kelar kerjaannya”.
     “Maaf ning saya agak telat”.
     “Iya mbak gak papa, lagian aku juga manggilnya mendadak”.
     “Kenpa baju ini dimasukkan kedalam koper ning?”. Tanyaku tanpa sadar
     “Mas Dyas dipindah tugas keluar kota mbak, jadi aku dan Mas Dyas mau pindah”.
     Deg,,, ada rasa sakit di hatiku, seperti palu godam yang menerjangnya berkali-kali, gus Dyas akan pergi dari pesantren ini??. Lelaki yang aku idamkan menjadi sosok imamku akan meninggalkan tempat ini??. Kenapa harus sesakit ini ketika aku mendengar kabar ini.
     “Kapan berangkatnya ning?”. Tanya sakina memecah keheningan
     “Besok mbak “.
Sejenak aku tatap wajah nan tampan itu, subhanallah… kenapa cinta ini harus ada untuk mu gus??, kenapa pula aku merasa engkau sangatlah sempurna??. Mungkin ini sudah jalan terbaik bagi aku dan hati ini, mungkin dengan ketidakadaan gus Dyas disini takkan ada lagi sejumput cemburu yang selalu aku nikmati kehadirannya, mungkin dengan ketidakhadiran gus Dyas disini bisa membuat hati ini tak begitu merasakan sakit lagi. Tapi bagimana jika dengan ketidakadaannya itu justru membuat hatiku semakin sakit? Bagaimana pula jika ketidak hadirannya justru membuatku semakin resah? Hentikan Ghina, kamu tidak boleh selancang itu, kenapa tiba-tiba imajinasiku menjadi seliar ini?? Hentikan Gina,,, hentikan…. Seharusnya aku ikhlaskan perginya dia lelaki idaman dan cinta pertama ku, biarlah cinta ini aku pendam dan nikmati sendiri saja. Cukuplah pesantren yang berdiri dengan kokohnya ini menjadi saksi cinta ini, pesantren yang berdiri dengan gagahnya di tengah-tengah keramain Malioboro dan kemegahan kota Yogyakarta ini turut menjadi tempat aku memendam cinta pertama ku yang tak akan pernah menjadi sebuah kenyataan, cinta pertamaku yang hanya akan menjadi fatamorgana dan kenangan indah dimasa mendatang.




Selasa, 06 Oktober 2015

PERIH


Sepi kali ini, tak beda seperti sepi yang lain:
selalu menyuguhkan bayanganmu
yang telah haram dimakan ingatan.

Dan, akan lebih buruk
daripada seorang gelandangan
yang menelan sisa-sisa makanan di jalanan,
bila ingatanku memakan bayanganmu--mengenangmu.

sebab itu sungguh akan buat aku;
mual, muntah, hingga mungkin
akan membuatku serupa orang yang keracunan
: mati!

Seandainya kau tahu
setelah 510 hari yang telah kita lewati
aku masih saja tak percaya
pun tak henti bertanya-tanya

:mengapa kau lebih percaya pada dia
sesosok tubuh yang tak kau rasa kehadirannya
yang sampai saat ini, bayanganmu sendiri
terus menghilang seiring kedatangannya?

Jakarta dan Probolinggo, 5 oktober 2015
Supreme Victor dan Choirun Nisa'

Selasa, 29 September 2015

Surat Keempat "WE MISS U MOM"

Assalamualaikum bu...
  
    18.25 WIB, ba'da maghrib tadi. Bu ima datang menemui Ninis bu, beliau mengeluhkan pusing beberapa waktu ini dan meminta Ninis untuk memeriksa tekanan darahnya. Selalu seperti itu bu, semenjak Ninis sudah mampu melakukan beberapa tindakan medis ringan pasti orang-orang akan mencari Ninis (alhamdulillah akhirnya putri kecilmu ini bisa sedikit berguna bagi orang sekitar). Oh iya lanjut ke cerita hari ini, Ninis mengajak bu Ima ke kamar untuk rebahan. Beliau langsung merebahkan diri di atas kasur, seraya berkata
"Ah yu (panggilan untuk kakak perempuan dalam bahasa madura), sakeng ghik bedeh ibu en been nik. Nyaman paleng " (Andai ibumu masih ada. Pasti menyenangkan).
   Ninis hanya tersenyum dan juga melihat ke arah poto ibu di kamarku. Entah ada angin apa selama Ninis memeriksa tekanan darah bu Ima, beliau banyak berceria tentang ibu. Kami disini sungguh merindukan ibu, bu Ima bercerita banyak hal termasuk cerita bahwa Ninis memiliki sosok ibu yang sangat penyabar. Bu Ima mengajak Ninis untuk kembali bernostalgia dengan semua kenangan yang beliau ingat tentangmu bu.
   Ketika Ramadhan tiba ibu pasti memiliki masakan andalan. Telur ceplok,mie kuah, dan tahu penyet sambel kecap. Siapa sih diantara cacak, mbak Ita, mbak Pik dan juga Ninis yang akan melupakan masakan ini. Meski jauh dari kata mewah, justru masakan ini yang membuat kami merindukanmu bu. Ninis juga baru tau bahwa hidangan yang ibu sajikan ketika cacak, mbak Ita, mbak Pik dan Ninis ada dirumah jauh berbeda dengan hidangan yang ibu dan bapak makan tatkala kami jauh dari rumah, dan alasan ibu tentang hal itu yang ninis tau dari bu Ima yang membuat Ninis sedih "engkok tak terro tang anak odik mellas lek" (aku tidak ingin anakku hidup susah dik). Ya Allah, berikanlah tempat terindah untuk sosok ibu hamba yang begitu baik disana.
   Satu lagi, kata bu Ima ibu sangat suka menggunakan aksesoris terutama gelang. Pantas saja Ninis selalu melihat ada karet gelang di pergelangan tanganmu Dan itu juga yang menjadi alasan ibu suka memakai dan mengoleksi gelang manik-manik. Dan kata bu Ima beberapa bulan sebelum ibu sakit, ibu sempat membeli beberapa perhiasan dari hasil panen, lumayan bisa untuk investasi  itu jawaban ibu. Ibu,,, maaf bahkan hingga detik terakhirmu di dunia ini Ninis belum sempat memberikan suatu apapun untukmu. Bu,,, saat ini mungkin ibu sudah bahagia melihat cacak, mbak Ita, mbak Pik dan juga Ninis hidup sesuai dengan harapanmu. Kami hidup dengan layak saat ini, dan ini semua sungguh berkat semua usaha dan do'a mu. Teruntuk ibuku Almh.Babul Jannah, kami disini selalu merindukanmu. WE LOVE YOU, WE MISS YOU MOM



Minggu, 21 Juni 2015

Surat Ketiga

      24 Agustus 2009 (04 Ramadhan 1430), gak terasa sudah 6 tahun ibu meninggalkan kami. Jika ada seseorang yang menanyakan kepada ninis apa do'a terbesar ninis unuk saat ini, niinis hanya akan memberikan satu jawaban. Ninis hanya ingin ibu bahagia disana. terdengar seperti kata-kata ABG jaman sekarang an :). tapi sungguh, do'a itu datang dari hati yang terdalam untuk engkau mendiang ibu k ALmh.Babul Jannah. Ibu adalah sosok malaikat penjaga tak bersayap dengan sepasang tangan penuh kasih dan surga ditelapak kakinya. Aku rasa, kata-kata itu benar adanya, ninis gak pernah bisa membayangkan bagaimana jadinya ninis jika tanpa kehadiran ibu, gak akan pernah ada cinta yang melebihi cinta dan kasih ibu buat ninis, sampai kapanpun.
          Ibu,,, hari ini ada banyak tetangga, dan sanak saudara yang datang kerumah. untuk membacakan do'a agar ibu tenang dan bahaga disana seperti do'a yang ninis panjatkan tadi. Ibu tenang saja, banyak orang yang datang dan memanjatkan do'a kepada engkau dan dengan hati yang tulus pastinya. karena ninis tau, selama ibu hidup ada banyak kebaikan yang engaku berikan kepada "mereka". Ada seorang kawan ninis yang sempat bertanya, seperti apa rasanya ketika pertama kali ninis ditinggalkan oleh ibu. Ninis ingat banget, waktu itu ninis masih duduk dikelas 1 SMA, ketika ninis mendengar kabar ibu. Rasanya,,,, gak bakal pernah bisa diungkapkan oleh kata-kata apapun. jika bisa diibaratkan, rasanya seperti seorang yang harus berjalan dengan bantuan tongkat, dan seketika tongkat itu paah, lenyap dan tidak akan pernah bisa menemaninya lagi. sediki bisa dikatakan seperti itu, tapi sungguh itu hanya sebagian saja dari perasaan yang sempat ninis rasakan waktu itu.
     Terakhir, ninis ucapkan terima kasih pada ibu yang sudah bersedia membawa ninis melihat dunia ini, terima kasih karena sudahmenjadi sosok ibu yang sangat luar biasa untuk cacak, mbak ita, mbak pik dan juga ninis, terima kasih untuk seluruh cinta yang sudah ibu berikan. semonga ibu tenang disana. WE LOVE YOU MOM :*
          

Jumat, 19 Juni 2015

Kata Sang Bunda



            “Aku juga manusia Nis”, yups itu adalah jawaban salah satu orang temanku yang kini telah berprofesi sebagai seorang ibu ketika aku bertanya “apakah dia pernah marah kepada anaknya”. Bisa kalian bayangkan bukan, diusia 20 tahun mereka dipaksa untuk menjadi sosok ibu, mungkin kalian pernah melihat fakta semacam itu disekitar kehidupan kalian. Pernah gak kalian baca UU No. 01 Tahun 1974 pasal 7 ayat 1 yang mengatur batas usia pernikahan sebagai bentuk kesepakatan nasional yang merupakan kebijakan (open legal policy) pembentuk undang-undang. Tapi ya sudah  tiap orang tua, daerah, dan adat setiap kita berbeda-beda, oke kita kembali pada topik yang ingin aku sampaikan dari tulisan ini. Bisa kita banyangkan ketika suasana hati sedang tidak nyaman, anak sudah berseliweran di dalam rumah dan mengacak-acak rumah yang keadaannya yang memang sudah tak beraturan karena tidak punya asisten rumah tangga. Penat ?? kesal ?? marah ?? PASTI !!! diusia yang bisa dibilang masih relatif muda mereka diharuskan untuk mengurus seorang “anak” .
            Kalo aku udah gak tahan, aku pukul dia”,
            Kenapa harus memukul mereka ?? kenapa gak kamu coba untuk menasehati atau menegr merek baik-baik??
            Kau bisa berkata begitu karena kau tidak pernah merasakan mengurus anak”.
            Eits,,,, jangan salah. Meskipun aku tidak memiliki anak sendiri aku punya 3 orang ponakan yang tingkahnya masya allah ”.
            Itu sedikit percakapan yang sempat aku lakukan dengan salah serang temanku yang memiliki anak berusia kurang lebih 2,5 tahun, bisa kalian bayangkan bagaimana tingkah yang sering mereka lakukan. Suka mengacak-ngacak rumah, nangis gak karuan jika hal yang mereka inginkan gak segera diberikan, dan mungkin masih banyak lagi ulah yang sering mereka lakukan. Tapi tunggu dulu, bukankah hal itu wajar dilakukan oleh seorang anak kecil, sudah sewajarnya jika mereka bertingkah semacam itu selama tidak menyalahi aturan pastinya.
Bukan berarti dengan “kenakalan” yang mereka lakukan menjadi alasan kita sebagai orang tua untuk memukul atau bahkan menyiksa mereka. Masih ada beribu cara yang bisa kita lakukan untuk mengajari mereka makna kata “disiplin” dengan cara perlahan-lahan pastinya. Bukankah Rasulullah SAW telah memberikan kita pedoman untuk mendidik anak sebagaimana mestinya, salah satunya saja larangan bagi para orang tua untuk memukul daerah wajah pada anak.
            Miris memamng jika kita melihat fenomena yang akhir-akhir ini marak terjadi pada anak-anak diusia dini, dimana pada masa-masa itu mereka seharusnya memiliki kenangan-kenangan indah yang kelak akan mereka ceritakan dengan bangga kepada anak cucu mereka. Masa dimana mereka seharusnya merasakan keceriaan layaknya anak-anak seusia mereka.
            Ayolah, untuk para orang tua yang kini telah memiliki “amanah” dari Tuhan, jaga mereka dengan sebaik-baiknya. Jika kalian telah diberi amanah itu sungguh hal ini  berarti Tuhan telah sangat percaya kepada kalian unuk membesarkan amanah tersebut. Dan untuk kalian para calon orang tua, alangkah lebih bijaknya jika kalian memikirkan kesiapan kalian masing-masing sebelum akhirnya nanti kalian memiliki anak sebagai buah cinta kalian. J