Senin, 14 Desember 2015

JINGGA ITU MAMA




            Seandainya aku tau hal itu sebelumnya, mungkin aku akan menggenggam tangan hangatnya lebih lama lagi, aku akan mengukir senyumnya lebih sering dari yang aku bisa. Entah aku semakin tak paham dengan sang waktu, mengapa masih banyak teka-teki yang dia simpan dibalik jubahnya untuk  hidupku.
            “Sudahlah Key, kamu gak boleh terus-terusan termenung dan menyendiri seperti sekarang”.
            “Keyla gak tau lagi mesti gimana Fer”.
            “Kemana perginya Keyla yang aku kenal dulu ?”.
            Pandanganku tertuju pada sang mentari yang hampir tenggelam seakan-akan tenggelam dan hilang ditelan bumi. Pandangan nanar menatap semburat jingga yang eksotis, seakan memaksaku untuk kembali mengingat semua kenangan yang aku ukir dengan MAMA disaksikan oleh jingga. Sudah setahun semenjak mama meninggalkan aku dan papa sendirian, kenapa dia tak pernah mengatakan padaku tentang kanker yang bersarang dalam tubuhnya, bagaimana mungkin dia berperang sendiri  melawan keganasan itu sendirian. Satu hal yang membuat aku bangga terlahir dari rahim seorang wanita sehebat beliau. Tak pernah sekalipun aku mendengar dia mengeluhkan rasa sakit yang aku tau sangat mengganggu dia dan kesehariannya, tak pernah sekalipun aku melihat ada gurat kesedihan karena keganasan penyakit itu pada wajahnya.
            Mama, sosok wanita yang mungkin kalian semua cintai, begitupun denganku. Mama adalah sosok wanita yang paling aku cinta diseluruh dunia ini, tak ada satupun wanita yang bisa menggantikan semua usaha yang dia berikan padaku. Seandainya aku punya sebuah lampu ajaib yang bisa mengabulkan keinginanku, hanya satu hal yang aku inginkan. Aku ingin mama ada disini lagi, disampingku agar aku  bisa kembali bercerita dan bermanja-manja dengannya. Masih banyak hal yang ingin aku bagi dengannya, aku masih ingin bersandar dibahunya dan menumpahkan semua keluh kesah dan airmataku.
            Semenjak mama pergi banyak hal yang berubah, sikap tante, bahkan kakakku sendiripun berubah. Mereka memperlakukanku seolah-olah aku adalah orang lain dalam keluarga mereka. Menyuruhku seenak hati tanpa memperdulikan keadaanku. Seolah-olah aku adalah pembantu dirumahku sendiri. Aku mulai lelah, hendak berontakpun percuma, tidak aka nada yang bisa mengerti aku kecuali mama, sejak saat itu aku seakan menjadi sosok Keyla yang berbeda. Aku teramat terpukul dengan kepergian mama, aku menyalahkan Tuhan karena telah mengambil mama terlebih dulu. Aku merasa tak memiliki sandaran lagi, aku selalu gusar setiap kali mengingat sosok mama. Hingga pada akhirnya, untuk petama kali aku memberanikan diri merokok, setiap kali kesedihan menghampiriku, rokok adalah kawan yang bisa menenangkanku. Hingga pada akhirnya kebiasaanku merokok dibelakang kampus diketahui oleh salah seorang teman lelaki. Ya,,, lelaki itu adalah Ferli.
            “Keyla,,,”. Tegur Ferli waktu itu dan menarik punting rokok yang ada disela jemariku.
            “Apaan sih lo Fer, balikin rokok gue”. Bentakku
            “Seharusnya gue yang nanya sama lo, kemana akal sehat lo ?’.
            “Lo gak usah ikut campur urusan gue, sekarang balikin rokok gue”.
            Ferli langsung membuang punting rokokku ke tanah dan menginjak-injaknya.
            “Sejak kapan lo mulai ngerokok”.
            “Apa peduli lo ?’.
            “Gue peduli karn gue sayang lo Key”.
            “Hahaha,,, sayang lo bilang. Entah udah berapa lama gue gak pernah denger kata itu semenjak nyokap gue meninggal”.
            Entah kenapa saat mengucapkan kata mama airmataku menetes, mungkin karena kerinduank yang terama sangat waktu itu. Melihatku menangis Ferli mendekat dan merengkuh tubuhku. Mama, jika saja yang tengah memelukku saat ini adalah dirimu aku tak ingin melepaskannya. Airmataku semakin deas dan mulai terdengar sesenggkan disela napasku.
            “Gue kangen mama fer, gue iri ngeliat mereka yang bisa becanda bareng sama mama mereka”.
            Ferli tak mejnwab, dia semakin mengencangkan pelukannya
            “Iya Key gue paham, nangis aja sepuas lo. Gue ga bakalan ngelarang”.
            Mulai saat itu pula, Ferli selalu menemaniku. Dia bilang kalo hal itu dia lakukan karna gak mau melihat aku merokok lagi.
            “Sebelum lo ngelakuin hal-hal aneh semacam itu lagi, coba lo bayangin gimana perasaan mama lo kalo ngeliat kondisi lo saat ini. Dia pasti bakalan sedih banget Key, masih banyak orang yang peduli sama lo. Lo gak usah peduli sama mereka yang benci atau ga ngehargain lo. Masih ada gue dan semua temen-temen yang sayang sama lo. Kepergian mama lo bukan berarti menjadi alasan lo ngelakuin hal bodoh itu lagi. Ingat itu “.

@     @     @
            “Seorang wanita itu bagaikan benang dan laki-laki adalah layangannya. Jika kau ingin layang-layangmu terbang tinggi diangkasa, kau harus menjadi benang yang berkualitas tinggi”.
“Apa maksud mama ?”.
            “Kita sebagai wanita pasti mengharapkan sosok lelaki yang mampu mengayomi kita sayang, jika kita menginginkan hal itu gak seharusnya kita berdiam diri saja. Kita juga harus berusaha untuk memantaskan diri bagi mereka yang mampu terbang tinggi”.
            Aku terdiam, sebagian ucapan mama bisa aku cerna disore itu ketika warna jingga menghiasi langit yang saat ini menemani sore ku dengan mama dihalaman belakang.
            “Gimana caranya agar Keyla bisa menjadi benang yang berkualitas itu ma ?”.
            “Keyla tau bagaimana proses pembuat benang nilon berkualitas yang bisa menerbangkan laying-layang tinggi dilangit ?”.
            “Keyla gak tau, emang gimana ma ?”.
            “Benang nilon itu sendiri terbuat dari plastiik yan dipanaskan, setelah itu dia ditarik dengan kekuatan tertentu hingga akhirnya dia akan menjadi benang nilon yang baik, sama halnya dengan pembuatan benang itu sayang. Untuk menjadi seorang pendamping yang berkualitas untuk jodohmu kelak kamu harus mau bersusah payah memperbaiki dirimu untuk jodohmu nanti. Jangan penah melakukan hal apapun tanpa kamu pikirkan resiko yang mungkkin akan kamu alami atas tindakan yang akan kamu lakukan”.
            Itu salah satu pesan mama yang aku ingat hingga saat ini, hingga dia pergi membawa kanker yang diderita sampai akhir hayatnya. Berpikirlah sebelum kau bertindak, itu kesimpulan yang bisa diambil dari pesan yang disampaikan mama menurut Ferli..
            “Keyla kangen mama Fer “
            Untuk sekian kalinya aku menangis didepan Ferli. Menangis karena kerinduanku yang teramat sangat kepada mama. Terkadang aku selalu berharap mama bisa berada disini saat ini, menemani aku menjalani kehidupanku ini.
            “Kamu pasti bisa ngejalanin semua ini, kamu harus bisa membuat mendiang mama kamu bangga”.
            Senja kala itu tampak lebih indah ma, aku menikmatinya dengan sosok laki-laki yang sudah mampu menjagaku, mengajariku banyak hal, membantuku bersabar menghadapi tante dan kakak, dan pastinya dia mau menerima semua hal tentangku. Ma,,, semoga aku dan Ferli bisa menjadi sepasang layang-layang dan benang yang saling membanu satu sama lain seperti pesan mama dulu. Keyla harap mama baik-baik saja disana, tak perlu khawatir dengan keadaan Keyla, karena disini sudah ada Ferli yang udah Key anggap sebagai pengganti mama, meski dia sedikit lebih cerewet.
  

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti writing project yang diselenggarakan Nulisbuku.com dan storial.co

Tidak ada komentar:

Posting Komentar