Minggu, 21 Juni 2015

Surat Ketiga

      24 Agustus 2009 (04 Ramadhan 1430), gak terasa sudah 6 tahun ibu meninggalkan kami. Jika ada seseorang yang menanyakan kepada ninis apa do'a terbesar ninis unuk saat ini, niinis hanya akan memberikan satu jawaban. Ninis hanya ingin ibu bahagia disana. terdengar seperti kata-kata ABG jaman sekarang an :). tapi sungguh, do'a itu datang dari hati yang terdalam untuk engkau mendiang ibu k ALmh.Babul Jannah. Ibu adalah sosok malaikat penjaga tak bersayap dengan sepasang tangan penuh kasih dan surga ditelapak kakinya. Aku rasa, kata-kata itu benar adanya, ninis gak pernah bisa membayangkan bagaimana jadinya ninis jika tanpa kehadiran ibu, gak akan pernah ada cinta yang melebihi cinta dan kasih ibu buat ninis, sampai kapanpun.
          Ibu,,, hari ini ada banyak tetangga, dan sanak saudara yang datang kerumah. untuk membacakan do'a agar ibu tenang dan bahaga disana seperti do'a yang ninis panjatkan tadi. Ibu tenang saja, banyak orang yang datang dan memanjatkan do'a kepada engkau dan dengan hati yang tulus pastinya. karena ninis tau, selama ibu hidup ada banyak kebaikan yang engaku berikan kepada "mereka". Ada seorang kawan ninis yang sempat bertanya, seperti apa rasanya ketika pertama kali ninis ditinggalkan oleh ibu. Ninis ingat banget, waktu itu ninis masih duduk dikelas 1 SMA, ketika ninis mendengar kabar ibu. Rasanya,,,, gak bakal pernah bisa diungkapkan oleh kata-kata apapun. jika bisa diibaratkan, rasanya seperti seorang yang harus berjalan dengan bantuan tongkat, dan seketika tongkat itu paah, lenyap dan tidak akan pernah bisa menemaninya lagi. sediki bisa dikatakan seperti itu, tapi sungguh itu hanya sebagian saja dari perasaan yang sempat ninis rasakan waktu itu.
     Terakhir, ninis ucapkan terima kasih pada ibu yang sudah bersedia membawa ninis melihat dunia ini, terima kasih karena sudahmenjadi sosok ibu yang sangat luar biasa untuk cacak, mbak ita, mbak pik dan juga ninis, terima kasih untuk seluruh cinta yang sudah ibu berikan. semonga ibu tenang disana. WE LOVE YOU MOM :*
          

Jumat, 19 Juni 2015

Kata Sang Bunda



            “Aku juga manusia Nis”, yups itu adalah jawaban salah satu orang temanku yang kini telah berprofesi sebagai seorang ibu ketika aku bertanya “apakah dia pernah marah kepada anaknya”. Bisa kalian bayangkan bukan, diusia 20 tahun mereka dipaksa untuk menjadi sosok ibu, mungkin kalian pernah melihat fakta semacam itu disekitar kehidupan kalian. Pernah gak kalian baca UU No. 01 Tahun 1974 pasal 7 ayat 1 yang mengatur batas usia pernikahan sebagai bentuk kesepakatan nasional yang merupakan kebijakan (open legal policy) pembentuk undang-undang. Tapi ya sudah  tiap orang tua, daerah, dan adat setiap kita berbeda-beda, oke kita kembali pada topik yang ingin aku sampaikan dari tulisan ini. Bisa kita banyangkan ketika suasana hati sedang tidak nyaman, anak sudah berseliweran di dalam rumah dan mengacak-acak rumah yang keadaannya yang memang sudah tak beraturan karena tidak punya asisten rumah tangga. Penat ?? kesal ?? marah ?? PASTI !!! diusia yang bisa dibilang masih relatif muda mereka diharuskan untuk mengurus seorang “anak” .
            Kalo aku udah gak tahan, aku pukul dia”,
            Kenapa harus memukul mereka ?? kenapa gak kamu coba untuk menasehati atau menegr merek baik-baik??
            Kau bisa berkata begitu karena kau tidak pernah merasakan mengurus anak”.
            Eits,,,, jangan salah. Meskipun aku tidak memiliki anak sendiri aku punya 3 orang ponakan yang tingkahnya masya allah ”.
            Itu sedikit percakapan yang sempat aku lakukan dengan salah serang temanku yang memiliki anak berusia kurang lebih 2,5 tahun, bisa kalian bayangkan bagaimana tingkah yang sering mereka lakukan. Suka mengacak-ngacak rumah, nangis gak karuan jika hal yang mereka inginkan gak segera diberikan, dan mungkin masih banyak lagi ulah yang sering mereka lakukan. Tapi tunggu dulu, bukankah hal itu wajar dilakukan oleh seorang anak kecil, sudah sewajarnya jika mereka bertingkah semacam itu selama tidak menyalahi aturan pastinya.
Bukan berarti dengan “kenakalan” yang mereka lakukan menjadi alasan kita sebagai orang tua untuk memukul atau bahkan menyiksa mereka. Masih ada beribu cara yang bisa kita lakukan untuk mengajari mereka makna kata “disiplin” dengan cara perlahan-lahan pastinya. Bukankah Rasulullah SAW telah memberikan kita pedoman untuk mendidik anak sebagaimana mestinya, salah satunya saja larangan bagi para orang tua untuk memukul daerah wajah pada anak.
            Miris memamng jika kita melihat fenomena yang akhir-akhir ini marak terjadi pada anak-anak diusia dini, dimana pada masa-masa itu mereka seharusnya memiliki kenangan-kenangan indah yang kelak akan mereka ceritakan dengan bangga kepada anak cucu mereka. Masa dimana mereka seharusnya merasakan keceriaan layaknya anak-anak seusia mereka.
            Ayolah, untuk para orang tua yang kini telah memiliki “amanah” dari Tuhan, jaga mereka dengan sebaik-baiknya. Jika kalian telah diberi amanah itu sungguh hal ini  berarti Tuhan telah sangat percaya kepada kalian unuk membesarkan amanah tersebut. Dan untuk kalian para calon orang tua, alangkah lebih bijaknya jika kalian memikirkan kesiapan kalian masing-masing sebelum akhirnya nanti kalian memiliki anak sebagai buah cinta kalian. J

Kamis, 04 Juni 2015

Dongeng Anak Perdana :D

SI TIKI TIKUS
Ada seekor tikus yang sangat baik hati, dia suka membantu semua teman-temannya yang mengalami kesulitan. Dia tidak pernah membuat orang tua atau teman-temannya marah, tikus itu bernama Tiki. Suatu hari Kiki teman sekolah Tiki duduk sendirian didalam kelas saat jam istirahat. Tiki merasa heran dan akhirnya dia menghampiri Kiki..
“Kiki, kau kenapa ?? kamu terlihat lemas”. Tanya Tiki
Kiki tidak menjawab pertanyaan Tiki, dia hanya menggelengkan kepala.
“Apa kau sudah memakan bekalmu ??”.
Tiki tidak mendapakan jawaban lagi dari Kiki, dan Kiki pun tidak menggelengkan kepala. Tiki mengerti, mungkin Kiki tidak membawa bekal makanan.
“Kalo begitu ayo kita makan bekalku saja, ibu membawakan banyak makanan untukku”. Ucap Tiki sambil tersenyum
“Tidak usah Tiki, kamu makan saja bekalmu. Nanti kamu malah tidak akan kenyang jika membagi bekalmu denganku”. Jawab Kiki
“Bekal makanku banyak Kiki, pasti cukup untuk membuat kita berdua kenyang”. Jawab Tiki
Karena Tiki terus memaksa kiki untuk makan bekal nya berdua akhirnya kiki pun menerima tawaran Tiki dnan mereka pun makan berdua.
“Terima kasih Tiki kau sudah mau membagi bekalmu denganku”. Ucap Kiki setelah mereka berdua selesai makan.
“Sama-sama Kiki, sebagai teman kita kan harus saling tolong menolong”. Jawab Tiki sambil tersenyum
Bel pulang sekolah pun berbunyi, Tiki membereskan semua perlengkapan sekolahnya supaya tidak ada yang tertinggal ataupun hilang. Dia pulang sambil bersiul riang sepanjang jalan. Sesampainya dirumah Tiki langsung menemui ibunya.
“Ibu, Tiki pulang”.
“Wah, anak ibu sudah pulang. Langsung ganti baju dan makan siang ya sayang”.
Tiki mengangguk dan dia segera menuju kamarnya untuk mengganti baju. Dia meletakkan baju, tas dan sepatunya ke tempat masing-masing. Setelah itu dia bersiap-siap untuk makan siang bersama ayah, ibu dan kakaknya.
“Bagaimana sekolahny hari ini Tiki?”. Tanya ayah setelah makan siang
“Tadi Kiki tidak membawa bekal ke sekolah yah, jadi tiki membagi bekal yang dibawakan ibu dengan dia”. Jawab Tiki sambil tersenyum
“Anak ibu memang baik, jika ada teman Tiki yang kesusahan dan Tiki mampu untuk menolong maka kita harus membantunya”. Ucap ibu tikus sambil memeluk Tiki.
Dongeng anak perdana yang aku buat, request dari salah satu kawan. Entah memuaskan atau tidak yang jelas aku sudah berusaha untuk menepati janjiku. Maaf kawan, jika kau tak bahagia melihat tulisanku ini.

Selasa, 02 Juni 2015

Mungkin Karena Aku Belum Dewasa

Namaku Shita, aku masih sangat ingat ketika kejadian itu bermula usia ku masih 18 tahun. Kalian pasti tau di masa-masa itu kita pasti tengah mencari jati diri. Tak terkecuali aku, sebagai seorang remaja putri yang normal. Ada salah seorang temanku di sekolah, panggil saja dia Bulan. Dia termasuk salah satu siswa yang sangat popular disekolah, banyak lelaki yang mengharapkan dia untuk menjadi kekasih mereka, sangat bertolak belakang denganku. Aku iri, dan aku menurutku hal itu wajar. Aku mulai memperhatikan semua gerak-gerik dan gaya berpakaiannya. Aku akui dia memang sangat modis, dia selalu bisa mempadupadankan jeans, kemeja dan dia sangat lihai menghias kepalanya dengan jilbab, intinya dia sangat stylish. Aku mulai meniru gaya berpakaiannya, memakia jilbab stylish seperti yang dia kenakan. Dan aku mulai merasa sedikit ketularan popularitasnya, aku merasa sedikit keren dibandingkan sebelumnya. Meski masi belum beitu banyak cowok yang mendekaiku, tapi paling tidak aku mulai dikenal oleh kalangan pria disekolah ku. Aku mulai sering keluar dengan “mereka” tidak terkecuali Bulan. Dia sudah menjadikan aku sahabatnya, dia sempat berkata
“Sebenernya lo itu cantik loh Shita, lo nya aja yang gak bisa dandan”. Ujarnya waktu itu sambil tertawa cekikan ala gadis-gadis remaja
Aku hanaya tersenyum menanggapi ucapannya, entah dia jujur atau hanya ingin memujiku saja api yang jelas aku suka dengan ucapannya. Aku mulai sering meminta uang jajan lebih pada orang tuaku, hany unuk sekedar membeli baju, jeans atau pun kemeja model terbaru. Kalian pasti tau alasannya, yah aku akan malu jika berkumpul dengan mereka yang modis dan hanya aku yang tak bisa menyesuaikan diri dengan mereka.
“Kamu semakin boros saja Shita, apa saja yang kamu beli” Bunda bertanya ketika aku meminta uang untuk yang kesekian kalinya.
“Shita udah gede bunda, keperluan Shita makin banyak”. Celetukku asal seraya meninggalkan bunda tanpa permisi.
Sudah sering ayah dan bunda menasehatiku untuk tidak terlalu menghamburkan uang, aku harus hemat, aku harus belaja menabung dan masih banyak lag nasehat yang sering mereka berikan, sesering aku mengabaikan ucapan mereka. Aku sudah sanga menyukai hidupku saat ini, menjadi gadis popular. Kalian mungkin pernah mendengar pepatah yang bunyinya seperti ini “Kehidupan itu berputar, adakalanya kita akan berdiri gagah diatas dan jika telah tiba waktunya kita akan terpuruk dibawah”, sungguh awalnya aku hanya menganggap pepatah itu sebagai ucapan mereka yang “sok bijak” hingga akhirnya aku mengalami semuanya. Ayah tertipu oleh rekan kerjanya, usaha ayah berhenti total tanpa menyisakan apapun bagi kami.
Aku tidak bisa lagi meminta uang jajan kepada bunda seperti dulu lagi, dan yang pasti hal itu membuat aku tidak bisa bergaya dan kembali berkumpul dengan Bulan. Karena bagi dia aku tak lebih hanya seorang anak dari seorang yang papa. Pada awalnya aku memberontak kepada ayah dan bunda, tidak terima rasanya jika aku harus hidup serba kekurangan seperti saat ini. Siapa sih yang bisa menerima keadaans eperti ini begitu saja?? Kalian bisa?? Hingga akhirnya aku mulai sedikit berpikir jernih, dan menerima semua ini. Kini aku pindah sekolah (mungkin kalian tau penyebabnya, dan tiddak perlu aku jelaskan), dan aku mulai membantu bunda diwarung kecil yang kami miliki sejak kemalangan yang menimpa ayah.



Senin, 01 Juni 2015

Bukan Kisah Romeo

Mungkin ada dari beberapa kalian yang tidak asing lagi mendengar nama Romeo-Juliet, ya kisah sepasang kekasih yang hidup di Italia dan harus terpisah karena keegoisan keluarga mereka. Sedangkan di Indonesia sendiri kalian pasti sudah tidak asing lagi dengan kisah Sitti nurbaya dan kekasihnya Samsul bahri yang cintanya tak bisa bersatu karena keegoisan keluarga si Sitti Nurbaya. Namun ada sebuah kisah yang tak setenar kisah Romeo dan kekasihnya Juliet, kisah yang tak melanglang buana layaknya kisah Sitti Nurbaya dan Samsul Bahri. Kisah pengorbanan seorang lelaki untuk wanitanya.
“Bagaimana keadaan lo Dit ??.” ujar seorang lelaki berusia sekitar dua puluh tahunan, pada seorang kawannya yang tergeletak diatas kasur.
“Ah,,, entahlah Ren, rasanya kepala gue kayak dihantam palu pak hakim”.
“Ya udahlah kalo gitu mending lo istirahat”.
“Oke, oh iya Ren. Tolong jangan bilang sama Hilma tentang masalah ini”.
“Beres,,,beres, rahasia lo aman sama gue. Ya udah lo istirahat aja, gue mau keluar dulu. Kalo butuh apa-apa bilang aja sama gue”.
Lelaki yang tergeletak diatas kasur yang dikelilingi tembok-tembok putih yang kokoh, layaknya selimut raksasa yang menyelubungi seorang kurcaci yang tak berdaya. Lelaki itu mengalami perdarahan yang hebat, kata dokter dia sudah kehilangan begitu banyak darah, dan pada akhirnya ada seorang relawan yang bersedia mendonorkan darahnya pada lelaki itu.
∞ ∞ ∞ ∞ ∞
“Gimana kepala lo ?? udah baikan kan ??”. Ujar Reno seraya memukul kepala teman disebelahnya.
“Yaelah,,, kalo terus-terusan lo getokin gitu. Bisa bocor nih kepala gue”. Canda lelaki itu
“Dito,,,
Sesosok gadis dengan rambut terurai panjang berlari kecil menghampiri kedua lelaki itu. Dilihat dari segi penampilan gadis itu bisa dikategorikan gadis yang canik, blus biru muda dipadu dengan celana jeans warna senada, rambut panjangnya dihiasi bandana berwarna merah jambu yang mungkin menandakan kerinduannya yang membucah kepada sosok lelaki yang kini ada dihadapannya.
“Hilma,kamu ada kuliah hari ini?? Bukannya hari rabu kamu gak ada jadwal”.
“Iya aku emang gak ada jadwal, aku kesini mau ketemu kamu”. Ujar gadis itu dengan penuh manja .
“Kalo gitu gue pulang dulu Dit”. Lelaki yang sejak tadi merasa canggung berada diantara dua sejoli itu pun akhirnya memutuskan untuk meninggalkan mereka berdua
“Oke Ren”
Sepasang kekasih itu kini melangkah meninggalkan gedung megah itu dibelakang mereka.
“Aku denger dari Siska kamu sakit Dit ??bener ??”.
“Sakit?? Emang pernah kamu denger aku sakit ?? enggak kan ?? itu pasti Cuma candaan Siska”.
Aku tau Dit,lo gak bakal cerita sama gue. Tapi gue yakin maksud lo baik, lo gak mau buat gue khawatir kan. tapi jujur dengan lo bohong gini justru bikin gue sedih. Batin gadis muda gitu
“Hey, kok malah ngelamun. Jadi traktir makan gak nih ?’. Dito melambai-lambaikan tangannya didepan wajah Hilma.
“Eh iya, kenapa aku ngelamunin kamu yah. Kan kamunya ada disini J. Ya udah yuk makan”.
Hilma dan Dito, sepasang remaja yang telah merajut kisah kasih yang tidak bisa dibilang baru, kedua belah pihak keluargapun mengetahui hubungan dan keseriusan mereka masing-masing. Tak pernah ada sedikit pun keinginan mereka untuk menghianati kepercayaan satu sama lain, meski terkadang ada pertengkaran yang mengisi kisah kasih mereka. Tapi,, bukankah perbedaan pendapat itu juga perlu?? Karena tak selamanya kebahagiaan yang akan mengisi perjalanan kasih seseorang
Tapi siapa yan tau takdir Tuhan. Jalan hidup kalian sendiripun tak pernah ada yang tau, termasuk perjalanan cinta kedua sejoli ini.
“Dit, kamu kenapa?? Kayaknya akhir-akhir ini kamu makin kurusan deh. Kamu juga sering sakit kan akhir_akhir ini??”. Ujar Hilma gelisah mengkhawatirkan lelakinya
“Gak papa Hil, sekarang kan musim hujan. Wajar dong kalo aku rada gak enak badan”. Alasan klise yang mungkin sering diucapkan oleh kebanyakan orang
“Nanti sore aku anter ke dokter ya”.
“Gak usah deh, biar nanti aku pergi sama Reno”.
“Iya Hil, biar Dito pergi sama gue aja. Gak baik anak perawan kelayapan malem-malem”.
“Bener ya Ren, lo ajak dia periksa. Kalo dia gak mau, lo paksa, pokoknya dia harus periksa”.
“Siap nyonya”.
Obrolan singkat itu yang menutup pertemuan mereka. Memisahkan sepasan kekasih yang nampaknya masih belum bisa menumpahkan seluruh kerinduan kepada sosok yang mereka cintai.
“Setelah saya mendengar gejala yang saudara sebutkan, sebaiknya kita harus melakuakan pemeriksaan darah pak”.
“Apa seserius itu dok, saya hanya mengalami demam, sakit tenggorokan, sakit kepala, seta mual-mual biasa dok. Apa masih perlu dilakukan tes darah?”.
“Iya pak saya sarankan anda melakukan tes darah untuk mengetahui penyakit anda lebih lanjut”.
“Baiklah dok, kalo memang itu yang diperlukan”.
Setelah semua peralatan dipersiapkan , dokter pun mengambil sampel darah Dito. Memeriksanya lebih lanjut demi mengetahui apa sebenarnya yang terjadi pada lelaki itu.
“Tuan Dito berdasarkan hasil laboratorium, anda positif menderita HIV”.
Hening, Dito seakan tidak bisa mencerna dengan jelas apa yang telah dokter itu katakana padanya. Dia menderita HIV?? Bagaimana bisa ?? apa dokter ini tidak salah menentukan diagnosanya ??
“Tapi dok, bagaimana mungkin saya bisa mengidap penyakit itu, saya tidak pernah melakukan hubungan seksual dengan siapapun, saya juga tidak menggunakan narkotika atau barang-barang sejenisnya. Bagaimana mungkin saya bisa mengidap penyakit itu”. Suara Dito mulai terdengar bergetar.
“HIV bukan hanya bisa menular lewat hubungan seksual, atau pun penggunaan narkoba pak, bisa juga melalui darah atau cairan tubuh yang lain. Mungkin beberapa bulan terakhir ini anda melakukan pendonoran darah.
“Baiklah dok kalo begitu saya permisi dlu”. Ujar Dito setelah mendapatkan resep obat yang bisa dia konsumsi.
Sepanjang perjalanan pulang Dito lebih banyak diam, mengingat kembali kejadian-kejadian yang pernah dia alami beberapa bulan terakhir ini. Hingga dia mengingat satu hal, dia pernah kecelakaan dan mendapatkan transfusi darah dari seorang lelaki yang tak dikenalnya.
Dia menanyakan perihal itu kepada Reno, dan akhirnya mereka pun memutuskan untuk menanyakan hal itu kepada pihak rumah sakit yang menanganinya. Tapi sayang, tampaknya fortuna tidak sedang memihak kepada mereka. Setelah melakukan interogasi dengan pihak rumah sakit mereka memperoleh informasi bahwa lelaki yang mereka cari ternyata telah ditemukan tewas bunuh diri beberapa minggu lalu.
“Oh tuhan, kenapa Engkau mengutukku dengan cara seperti ini?? Apa salahku sehingga kau memberiku pelajaran dengan cara yang begitu menjijikkan ini??”
“Sabar Dit, semua ini pasti ada jalannya”.
“Gimana gue bisa sabar Reno, gimana caranya gue ngomong sama orang tua gue, dan Hilma…ya Hilma”. Tangisnya kembali pecah
Suasana hening sunyi, hanya memperdengarkan isak tangis pilu Dito meratapi takdir yang seakan-akan mempermainkan dia. Bagaimana caranya dia memberitahu Hilma, tidakkah dia akan membenci dirinya?? Bagaimana mungkin dia bisa meninggalkan gadis itu?? Tidak mungkin juga dia meyakiti gadis itu dengan menularkan penyakit yang menjijikkan ini.
Jika kalian pernah merasakan seperti apa dilemanya ketika kita dihadapkan kepada sebuah pilihan? Mungkin hal itu yang kini tengah dialami oleh Dito. Dia harus memutuskan melanjutkan hubungannya dengan Hilma dan menularinya penyakit yang menjijikkan ini atau justru meninggalkan sosok gadis yang telah mengisi hari-harinya dengan kenangan yang mungkin tidak pernah bisa dia lupakan sampai kapanpun.
“Tuhan selalu mempunyai skenario yang indah untuk semua umatnya, mungkin kejadian ini adalah bagian dari skenario Tuhan untuk Dito”. Hingga akhirnya Dito memutuskan utnuk pergi meninggalkan Hilma dan membiarkan dia mencari cinta lelaki lain yang bisa melindungi dia. Membiarkan dirinya menikmati penyakit yang kini mulai bersarang dan mulai akrab dengan tubuhnya. Dia korbankan cintanya demi menjaga keindahan kekasih hatinya, dan kini lelaki penyakitan itu sudah mulai lemah, dia hanya tinggal menunggu ajal menjemputnya. Dan ada sebuah rahasia yang tak pernah diketahui oleh kalian, bahwa lelaki malang itu adalah AKU.