15 February 2010, waku itu aku masih menjadi seorang mahasiswa akhir disebuah perguruan tinggi. Skripsi yang belum juga mendapatkan persetujuan dari dosen pembimbing menyeretku untuk pergi ketempat ini. Pantai yang sejak dulu memang telah menjadi teman baikku, entah disaat aku senang atau bahkan disaat aku tengah gundah seperti saat ini.
Tiba-tiba terlihat beberapa lelaki yang melintas agak jauh didepan ku, entah apa yang tengah mereka perbincangkan hingga membuat mereka tak menghiraukan orang-orang disekitar mereka. Dan hingga akhirnya salah satu dari mereka terjatuh mengenai aku karena terdorong oleh rekannya yang lain.
“Ups,,, maaf gue gak sengaja”.
“Ahhh, gara-gara kalian kepala gue yang jadi korbannya”. Ujarku seraya mengelus kepalaku yang terbentur dengan pundak salah satu dari gerombolan menyebalkan itu..
“Sorry banget kita gak sengaja”. Ujar salah seorang dari mereka sebelum akhirnya mereka pergi meninggalkan aku yang mengaduh kesakitan.
“Kamu gak papa ??”. ujar seseorang yang tiba-tiba meraih pundak dan kepalaku
“Ah, gue gak papa kok, cuma rada sakit aja”. Aku terkejut dengan kemunculanmu
“Syukur deh, gue liat kayaknya lo sering kesini ya”. Ucapmu seraya membenarkan posisi dudukmu disampingku.
“Jangan bilang kalo lo suka nguntitin gue”
“Ya ampun, gue bukan tipe orang kayak begitu. Gue sering ketempat ini. Dan kayaknya setiap kali gue kesini selalu ada lo”.
“Oh gitu, iya gue emang sering banget kesini”.
Dari perkenalan singkat itu kita bertemu, awalnya kita hanya saling sapa ketika sesekali bertemu di pantai ini. Hinga akhirmya kita bertukar nomer handphone. Kau cukup pandai dalam belajar, hingga tak jarang kamu membantu ku merampungkan skripsiku yang akhir-akhir ini terbengkalai. Aku masih ingat sebuah pengakuanmu dulu, bahwa sebenarnya kamu memang suka melihat ku dari gazebo yang ada ditepi pantai itu, kau bilang aku gadis yang menarik, dan aku sempat tersentuh ketika kau bercerita waktu aku menangis ditepi pantai itu. Kau juga merasa sakit, kau ingin menghapus air mata yang membasahi wajahku entah apa itu benar atau hanya bualan yang diucapkan oleh setiap lelaki yang ingin mendekati seorang wanita. Tapi yang jelas saat ini aku yakin bahwa kau sangat mencintaiku.
Mas Rengga,,, andai saja aku bisa memutar semuanya kembali. Aku takkan pernah melakukan hal itu padamu, aku hanya ingin menggodamu. Aku suka melihat wajah mu ketika mengkhawatirkan aku. Tempat ini adalah tempat terakhir kebersamaan kita Bagaimana mungkin aku bisa melupakan tempat dimana kita terakhir bertatap muka, tempat terakhir kita melukis senyum bersama, tempat terakhir aku bisa menikmati senja dalam rangkulanmu.
“Tiara, jangan merajuk lagi. Aku tidak bermaksud apapun”.
“Iya mas, aku ngerti. Lagian siapa yang merajuk”. Jawabku acuh kala itu.
“Sejak kita sampai di pantai ini, kau tidak bicara sedikitpun denganku. Bukankah pantai dan suasana senja adalah tempat yang sangat kau suka, biasanya kau selalu tersenyum jika aku mengajakmu ke tempat ini”.
“Sungguh, aku tak marah atau pun merajuk padamu”. Ujarku kala itu.
“Atau kau ingin aku mengambilkanmu kerang seperti yang dulu kau lakukan ketika aku marah ?”. Goda mu
Aku terdiam, dengan senyum yang menggoda akhirnya kau pun melangkah menuju laut dan berenang. Aku tau kau sangat menyukai kejutan-kejutan kecil, jadi ketika kau marah aku paling suka mnengambilkan mu kerang entah kerang yang aku temukan didalam laut, atau hanya sekadar kerang yang aku temukan ditepi pantai. Aku tersenyum melihat kau berenang kearah pantai, kau masih saja seperti dulu. Masih Rengga yang aku kenal dulu, masih Rengga yang sangat peduli dengan senyumanku.
Lima belas menit aku menunggumu, kemana kau belum saja kembali?? Aku kebingungan, kau ahli dalam berenang, tak mungkin kau akan selama ini hanya untuk mencari sebuah kerang. Oh Tuhan,,, ada apa itu, aku mulai melihat kerumunan orang-orang diseberang sana. Tidak, itu tidak mungkin dirimu kan mas. Aku berlari menuju kerumunan itu, setibanya disana aku melihat tubuhmu sudah terbujur, matamu tertutup, tak ku lihat lagi senyuman yang menggoda itu. Semuanya serasa gelap, tubuhku lemas kakiku serasa tidak mampu menopang tubuhku. Bagaimana mungkin kau meninggalkan ku dan calon bayi kita mas Rengga.
Orang-orang mengatakan bahwa kau terbawa ombak dan tenggelam, katakan padaku bahwa hal itu salah mas. Kau hanya tertidur sebentar kan?? kau tidak akan pernah meninggalkan aku dan calon bayi yang telah kita tunggu-tunggu ini ?? kenapa tuhan menghukum kita dengan cara sepeti ini ??
“Ma, aku takut. Ayo kita pergi dari tempat ini sekarang”. Jodi menggenggam erat tanganku berusaha membangunkan aku dari lamunan
“Ah iya iya, ayo kita pulang sayang”.
Oh iya mas, ada satu hal yang ingin aku sampaikan padamu. Jodi –anak tunggal kita-, dia sangat takut berenang, dia tak suka berlama-lama berada dipantai. Entah apa yang membuat dia bisa sebegitu tak sukanya dengan pantai ini. Seberapa kerasnya aku mengajari dia untuk berenang, dia tetap tak mau. Mungkin dia tau bahwa pantai inilah yang merenggut nyawa ayahnya yang mempunyai senyuman yang menawan.. seperti saat ini dia segera mengajakku untuk pergi meninggalkan tempat ini. Kau tak usah khawatir mas, aku akan menjaga dia sesuai dengan semua yang kau inginkan dulu. Kau ingin menjadikan dia sosok perwira seperti mu kan ?? aku akan membimbingnya, dan suatu saat nanti setelah dia dewasa aku kan menceritakan padanya bahwa dia mempunyai sosok ayah yang hebat, tangguh dan penyayang. Dan akan aku sampaikan padanya bahwa pantai ini tempat terakhir kau mngelus manja dia saat didalam kandungan ibunya ini. Ku harap kau tenang disana mas karena aku dan Jodi akan baik-baik saja disini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar