Lima bulan benar-benar berlalu tanpa dia, tanpa pesan dan tanpa “tawanya” yang khas. Ku akui aku rindu, dengan semua kekonyolan yang sering dia lakukan didepanku.
. “Karena dengan membuatmu tertawa sangat membuatku bahagia Rey”.
Itu jawaban yang selalu dia lontarkan jika aku bertanya mengapa dia selalu saja bertingkah konyol. Lelaki aneh dengan gingsul yang terlihat ketika dia tersenyum, lelaki yang sedikit terkenal dikalangan gadis disekitar kami. Dia baik, dia tampan tapi ada satu hal yang tidak diketahui para gadis yang menyukainya, dia seorang lelaki yang takut dengan kucing, bahkan dia akan menjerit jika aku melemparkan “boneka” kucingku padanya, dan satu lagi dia tidak pernah bisa berlama-lama dibawah sinar matahari. Dia akan langsung terkena demam.
“Apapun yang kamu minta akan aku berikan Rey, tapi kalo kau menginginkan kita mengakhiri hubungan ini. Aku tak sanggup untuk mengabulkannya”.
Hahaha,,, terdengar seperti gombalan konyol para lelaki bukan, tapi tetap saja hal itu masih berhasil membuat ku tersanjung dan bahagia menjadi sosok wanitanya. Dimas Prayoga, seorang kawan ku semasa kuliah, meski sebenarnya kami bukan dari fakultas yang sama.
“Lo mau gak jadi pacar gue ?”.
“Hah,, kok mendadak gini sih Dim?”. Ujarku kala itu ketika pertama kali mendengar dia menyatakan cinta yang “dadakan”.
“Gak medadak kok Rey, gue udah berencana buat nembak lo. Tapi gue gak tau gimana caranya, jadi akhirnya gue ungkapin gini”.
Dan sejak saat itu kami resmi menjadi sepasang kekasih, tepatnya pada 15 februari 2014. Dia semakin menunjukkan kasih sayangnya padaku, terkadang dia menasehatiku untuk tidak terlalu bersikap manja dan bisa menempatkan diri. Aku akui, mungkin karena aku adalah anak bungsu jadi terkadang aku suka berebihan dalam beberapa hal. Tapi hebatnya Dimas gak pernah marah sedikitpun, justru dia yang mengajarkan aku bagaimana seharusnya sikap seorang gadis dewasa.
Hingga karena sikapku yang tak pernah bisa teguh ada pendirian aku harus kehilangannya. Aku terikat janji dengan seorang yang lain, sehingga aku harus mengakhiri kisah indahku dengan Dimas dan meninggalkan luka yang mungkin berbekas hingga saat ini dihatinya. Teruntuk DIMAS PRAYOGA-ku, aku minta maaf.
. “Karena dengan membuatmu tertawa sangat membuatku bahagia Rey”.
Itu jawaban yang selalu dia lontarkan jika aku bertanya mengapa dia selalu saja bertingkah konyol. Lelaki aneh dengan gingsul yang terlihat ketika dia tersenyum, lelaki yang sedikit terkenal dikalangan gadis disekitar kami. Dia baik, dia tampan tapi ada satu hal yang tidak diketahui para gadis yang menyukainya, dia seorang lelaki yang takut dengan kucing, bahkan dia akan menjerit jika aku melemparkan “boneka” kucingku padanya, dan satu lagi dia tidak pernah bisa berlama-lama dibawah sinar matahari. Dia akan langsung terkena demam.
“Apapun yang kamu minta akan aku berikan Rey, tapi kalo kau menginginkan kita mengakhiri hubungan ini. Aku tak sanggup untuk mengabulkannya”.
Hahaha,,, terdengar seperti gombalan konyol para lelaki bukan, tapi tetap saja hal itu masih berhasil membuat ku tersanjung dan bahagia menjadi sosok wanitanya. Dimas Prayoga, seorang kawan ku semasa kuliah, meski sebenarnya kami bukan dari fakultas yang sama.
“Lo mau gak jadi pacar gue ?”.
“Hah,, kok mendadak gini sih Dim?”. Ujarku kala itu ketika pertama kali mendengar dia menyatakan cinta yang “dadakan”.
“Gak medadak kok Rey, gue udah berencana buat nembak lo. Tapi gue gak tau gimana caranya, jadi akhirnya gue ungkapin gini”.
Dan sejak saat itu kami resmi menjadi sepasang kekasih, tepatnya pada 15 februari 2014. Dia semakin menunjukkan kasih sayangnya padaku, terkadang dia menasehatiku untuk tidak terlalu bersikap manja dan bisa menempatkan diri. Aku akui, mungkin karena aku adalah anak bungsu jadi terkadang aku suka berebihan dalam beberapa hal. Tapi hebatnya Dimas gak pernah marah sedikitpun, justru dia yang mengajarkan aku bagaimana seharusnya sikap seorang gadis dewasa.
Hingga karena sikapku yang tak pernah bisa teguh ada pendirian aku harus kehilangannya. Aku terikat janji dengan seorang yang lain, sehingga aku harus mengakhiri kisah indahku dengan Dimas dan meninggalkan luka yang mungkin berbekas hingga saat ini dihatinya. Teruntuk DIMAS PRAYOGA-ku, aku minta maaf.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar