Minggu, 19 April 2015

Kebohongan Klasik


“Nan, mata lu bengkak. Abis nangis ya ?.”
“Enggak Rey, gue tidur kelamaan makanya mata gue bengkak.”
Reyna hanya mengatakan “oh” setelah mendengar alasan klasikyang diucpkan Kinan. Kalian pasti pernah mendengar orang terdeka kalian mengucapkan alsn yang mungkin tidak jauh beda dengan yang Kinan ucapkan (gak usah senyum-senyum sendiri kalo kalian emang pernah ngalamin itu). Okey jika jawaban dari kalian adalah iya, itu artinya hidup kita senada. Banyak aku temui dan bahkan mungkin diriku sendiri pernah mengucapkan sebuah “kebohongan klasik” semacam itu. Dan hampir 99,99% orang tedekat yang aku tanya, juga pernah melakukan hal itu.
Dari relita ini aku sempat berpikir, kenapa ya kebanyakan orang lebih emilih untuk memberikan sebuah kobohngan klasik pada lawan bicara. Yang kemungkinan besarnya mereka (red: penanya) sudah pasti tau bahwa ada suatu hal yang (mungkin) kita sembunyikan. Dan dari situ pula akhirnya aku memutuskan untuk menanyakn pendapat beberapa orang terdekatku, mulai dari keluarga, saudara, sahabat teman dan bahkan ada beberpa orang asing yang aku tanyai (untuk musuh dan pacar, maaf stoknya lagi kosong). Setiap individu memiliki keunikan dan pemikirannya masing-masing bukan ? begitu pula jawaban yang mereka lontarkan dari pertanyaan yang aku berikan jelas berbeda, meski ada juga sih bebrapa dari mereka memiliki jawaban yang sama.
Seperti jawaban salah seorang senior ku di kampus, “untuk sekedar menutupi sesuatu yang mungkin gak harus kita luapkan pada orang lain, bisa karena malu, takut atau yang lainnya…”. ada juga jawaban salah satu teman ku yang seorang calon guru “terkadang keadaan yang memaksa kita untuk munafik. Hati tidak pernah selaras dengan pikiran yang terlintas dalam benak kita, namun jika kejujuran akan menghancurkan sebuah ikatan, maka berbohonglah yang otomatis akan menjadi pilihan kita.” Dan ada satu lagi komentar yang cukup membutku termenung, “karena terkadang meski kita berbicara jujur, toh mereka gak bakalan peduli” Oke aku setuju dengan semua jawaban yang di berikan oleh mereka, dan mari kita sedikit mengupas jawaban dari mereka.
Untuk jawaban yang pertama, mungkin juga ada beberapa dari kalian yang mengiyakan jawaban seniorku ini.jika di pikir ulang terkadang kita memang sebaga indiviu memiliki sesuatu yang disebut dengan privasi dan aku yakin kiata semua ingin privasi kita dihargai dan tidk dijamah oleh orang lain bahkan oleh orang terdekat sekalipun. Untuk yang kedua, aku pernah membaca sebuah artikel yang menjelaskan bahwa berbohong demi sebuah kebaikan dan menghindari sebuah pertikaian itu diperbolehkan, jadi mungkin sah-sahnya saja jika kita mengucpkan sebuah kebohongan klasik seperti tadi untuk menghindari pertikaian. Dan untuk yang ketiga, cukup membuatku heran. Pertanyaanku, bukankah sepasang sahabat itu harusnya saling peduli satu sama lain? Jika mereka sudah tidak slaing peduli apa masih bisa dikatakan sebagai sahabat ? mungkin kalian sendiri yang bis amenjawabnya.
Mungkin kesimpulan yang bisa kita ambil dari hal ini, orng terdekat kita yang mungkin mengucapkan sebuah kebohongan klasik pasti lah memiliki alasannya masing-masing. Dan kita sebagai seorang teman harusnya menghargai keputusan mereka, toh jika memang mereka sudah siap untuk membagi beban, mereka pasi akan mebaginya dengan kita selayaknya seorang sahabat. Dan satu lagi, syarat dari sebuah persahabatn itu bukankah KEPEDUALIAN SATU SAMA LAIN J

Kamis, 16 April 2015

INI RAHASIA KITA

Tring,,, terdengar bunyi ponselku yang menandakan sebuah pemberitahuan masuk di akun facebookku. Seorang teman menandaiku dan beberapa kenalannya dalam sebuah status yang sepertinya tidak begitu penting.
Juna ithue Arjun
Rehat siang, makan hanya ditemani secangkir es choco latte. Di pojok kantin kampus
Kurang lebih seperti itu status yang dia tulis, benar-benar gak penting kan, tring,, lagi-lagi ada pemberitahuan yang masuk. Seorang dengan akun Haikal Ramadhani mengomentari status Juna.
Hay bung Juna ithu Arjun, kalo loe gak ada kerjaan mending bantuin gue garap tugas dikost daripada bikin stastus gak jelas macam ini -__-
“Setuju sama saran bang Haikal Ramadhani. (*_*).” Tulisku di kolom komentar status itu
 Dan sejak saat itu perbincangan kami berlanjut entah hingga ada ratusan komentar di status yang “gak penting itu”. Dan sepertinya sejak saat itu pula kisah dan cinta ini dimulai. Aku mulai stalking akun dari si Haikal Ramadhani itu, entah apa alasanku melakukan hal itu mungkin hanya penasaran saja (awalnya).
Gak terasa sudah 09 bulan aku stalking akun si Haikal, tapi tentu saja dia tidak mengetahui hal itu. Aku terlalu malu untuk mengatakan bahwa aku mulai jatuh cinta diam-diadengan sosoknya, sejauh yang aku lihat sepertinya dia seorang mahasiswa arsitektur yang kini sudah menduduki semester akhir, terlihat dari statusnya yang tampaknya mulai di bikin pusing oleh pembuatan skripsinya. Wajahnya selalu terlihat menenangkan, senyumnya tampak jauh lebih manis dari kebanyakan lelaki yang aku ketahui yah meski aku hanya melihatnya dari foto-foto yang ada di album facebooknya. Sungguh aku ingin mengenalnya, pernah beberapa kali aku mengirim pesan fia facebook. Tapi, tentu saja aku tak mengatakan bahwa aku menyukai sosoknya.
Irla,, kamu gak boleh sebegitu mengharapkan dia, kamu bahkan gak tau apakah dia disana sudah memiliki sosok yang di cintai. Terkadang ada pemikiran semacam itu di dalam benakku. Bayangkan saja, aku jatuh cinta dengan sosok lelaki yang bahkan tak pernah aku temui sebelumnya dalam hidupku, aku berusaha setia pada sosok lelaki yang bahkan tak pernah memikirkan aku dalam hidupnya.
“Ir,,, kenapa sih lo gak jadian aja sama si Gilang ?”. timpal salah satu temanku dikampus
“Gue lagi males buat ngejalin hubungan Re”. celetukku asal
“Ya ampun, kurang apalagi coba si Gilang. Dia baik kok anaknya, gue yang jamin”.
“Iya gue paham bener kalo dia emang baik, tapi kalo gue nerima dia tanpa landasan cinta yang tulus dari lubuk hati gue yang paling dalam. Hal itu justru bakal bikin dia tambah sakit Re. gue gak mau”.
“Buset dah, perasaan gue cuma nanya doang, jawabnya kan gak perlu pake alay gitu”. Reni menjitak kepalaku.
Bahkan Regina tak pernah aku beritahu tentang sosok lelaki yang aku cintai dengan diam-diam itu. Jadi hanya kau yang tau, dan kuharap kau bisa menjaga rahasia ini. Apalagi dari sosok Haikal.
Yah ,,, aku memang sangat berusaha unuk menjaga cintaku untuk si Haikal, aku merasa bahwa dia adalah bagian dari hatiku yang tidak ingin aku sakiti dengan penghianatan. Ku selalu bertingkah seakan aku adalah sosok gadis yang dia cintai, aku selalu ingin tahu tentang keadaan dan kabarnya setiap saat.
Pernah suatu ketika dia menuliskan sebuah status
Aku sebal dengan kamu, sebal karena aku sayang kamu
Sebal sama kamu, karena aku takut kehilangan kamu. Dan sebal karena kamu jauh disana dan aku tak bisa tau hal apa yang kau lakukan.
Aku menangis, aku cemburu, aku tidak terima dengan hal ini. Adakah seorang gadis yang kini di cintainya ?? siapa gadis beruntung itu ? kenapa bukan aku yang dia sayang ? tak sadarkah dia bahwa selama ini aku mencintainya meski dalam diam dan bisuku. Aku patah hati, patah hati pada sosok pria yang tak pernah aku kenal sebelumnya. Mungkin wajar jika sepasang kekasih yang memang sudah saling mencintai dan mengikat janji untuk saling bersama sehidup semati akan merasa cemburu satu sama lain. Tapi cintaku justru tak pernah diketahui oleh Haikal, tidak seharusnya aku cemburu ketika dia mencintai gadis lain. Sejak saat itu aku berpikir untuk tidak lagi menyukai Haikal, tapi percuma. Setiap kali aku berusaha untuk tidak melihat foto-fotonya yang hingga kini masih tersimpan rapi dalam gadget ku. Aku rindu, bahkan hatiku selalu terusik untuk melihat apalagi hal yang dia lakukan di Bandung sana, dan akhirnya akupun kalah dengan hatiku sendiri.
Jika sepasang kekasih yang terpisah diantara waktu dan ruang, pasti mereka akan merasa sangat merindukan sosok kekasih yang mereka dambakan. Tapi hal itu juga terjadi kepadaku, aku merindukan sosoknya jika sehari saja aku tak menatap fotonya (jadi jangan heran jika di gadget akan banyak kau temui fotonya). Hingga suatu ketika dia menuliskan sebuah status yang membuatku khawatir dengannya, membuat perasaanku berkecamuk dan ingin berada disisinya. Berada di dekatnya untuk memberinya pelukan dan semangat
Kanker ?? pernahkah kalian membayangkan penyakit yang hingga saat ini menjadi momok itu hinggap di tubuh kalin ?? Tidak!! Begitupun denganku, tak pernah terlitas dipikiranku, namun hari ini kanker ini sudah resmi memiliki sarang di tubuhku L . Kuatkan hati dan tubuh ini Tuhan,,,,
Kanker !! kenapa harus Haikal?? Tak bisakah aku menemaninya saat ini ? aku menangis membayangkan hal yang mengerikan itu. Aku berusaha bangun dari kabar buruk ini, tapi sayang ini bukanlah mimpi. Aku takut kehilangan sosoknya, aku takut tak bisa lagi melihat statusnya di akun facebook untuk meredamkan rindu yang sebenarnya tak pantas ku milik.
Enam bulan sudah penyakit itu bersarang ditubuhnya, dia semakin sering mem-posting foto-foto tangannya yang kini mulai sering ditusuk oleh jarum-jarum infus. Mulai banyak postingannya yang membuat aku sedih, status yang justru membuatku merasa sangat ingin berada disisinya. Apa kau tau seperti apa rasanya ke khawatiran yang saat ini aku rasakan ? khawatir pada sosok lelaki yang bahkan belum pernah aku temui sebelumnya. Hey,,, kau boleh saja menertawakan kebodohanku ini. Tapi jangan kau lantangkan suara itu. Karena suara itu membuatku sedih dan hatiku semakin miris.
Dia tampak lebih kurus dari sebelumnya, dia mulai banyak menceritakan sakit yang dia rasakan ketika jarum suntik dan para dokter itu bersekongkol untuk menyakitinya. Tapi tetap saja, senyum indahnya tidak pernah lepas dari wajah tampannya.
“Irla, lu kenapa sih. Akhir-akhir ini lu keseringan ngelamun?.” Tanya Regina ketika melihat mataku yang sembab setelah saling berbalas pesan via facebook dengan Haikal
“Kekasih gue sekarat Re .”
“Apa ?? lu punya kekasih ?? siapa?? Kenapa lu gak pernah cerita sama gue?.” Cerocosnya tanpa jeda.
“Ya, kekasih yang gak pernah gue liat langsung wajahnya, lelaki yang bahkan belum pernah aku berani mengucapkan I LOVE YOU.”
“Come on Ir, lu gak usah kebanyakan nga…
Regina belum selesai berbicara ketika akhirnya aku mulai menangis dan sedikit terdengar suara sesenggukan. Dan akhirnya aku mulai bercerita tentang sosok Haikal pada Regina, tentang cinta yang bahkan belum pernah aku sampaikan kepadanya dan sepertinya tidak akan pernah bisa tersampaikan, tentang kesetiaan yang aku jaga untuk cinta yang teramat semu.
“Irla, lu sadar kan dengan apa yang lu lakuin saat ini?.”
Aku tak menjawab, hanya terdengar sesenggukan sebagai jawaban dari pertanyaan Regina.
“Lu bahkan gak tau seperti apa sosok asli dari lelaki itu, dan lu berani nolak Gilang hanya demi menjaga kesetian lu pada lelaki itu ? itu gila Irla.”
“….”
Regina habis-habisan menasehatiku, dia khawatir tentang perasaanku yang justru akan terluka karena ulahku sendiri, itu katanya. Tapi aku bisa apa, sejak dua tahun aku menjadi kekasih semu Haikal (ya meski hanya aku yang merasakan cinta padanya) aku merasa senang, walau terkadang aku memang harus menyimpan cemburu yang tak wajar kepada gadisnya.
13 juni 2014 tahun kedua aku setia menjaga cinta yang tak wajar ini pada Haikal.
Innalillahi wa inna ilaihi rojiun, turut berduka atas kepergianmu sahabat. Kami ikhlas menerimanya, kami harap kau tenang disana
Haikal,,, kami harap kau tenang disana.
Terlalu banyak kenangan denganmu kawan, pergilah dengan tenang. Kami akan selalu mengingatmu.
Masih ada ratusan ucapan bela sungkawa yang dituliskan oleh kawann-kawan Haikal, Kekasihku benar-benar pergi sekarang, pergi sebelum dia tau bahwa ada sebongkah hati yang mencintainya dengan diam, pergi sebelum aku sempat menyatakan cinta padanya. Haikal, terima kasih karena dengan mengenalmu aku jadi tau seperti apa indah dan sakitnya jatuh cinta diam-diam.


Rabu, 08 April 2015

AKU + KAMU = KITA

   Lima bulan benar-benar berlalu tanpa dia, tanpa pesan dan tanpa “tawanya” yang khas. Ku akui aku rindu, dengan semua kekonyolan yang sering dia lakukan didepanku.
  . “Karena dengan membuatmu tertawa sangat membuatku bahagia Rey”.
    Itu jawaban yang selalu dia lontarkan jika aku bertanya mengapa dia selalu saja bertingkah konyol. Lelaki aneh dengan gingsul yang terlihat ketika dia tersenyum, lelaki yang sedikit terkenal dikalangan gadis disekitar kami. Dia baik, dia tampan tapi ada satu hal yang tidak diketahui para gadis yang menyukainya, dia seorang lelaki yang takut dengan kucing, bahkan dia akan menjerit jika aku melemparkan “boneka” kucingku padanya, dan satu lagi dia tidak pernah bisa berlama-lama dibawah sinar matahari. Dia akan langsung terkena demam.
   “Apapun yang kamu minta akan aku berikan Rey, tapi kalo kau menginginkan kita mengakhiri hubungan ini. Aku tak sanggup untuk mengabulkannya”.
   Hahaha,,, terdengar seperti gombalan konyol para lelaki bukan, tapi tetap saja hal itu masih berhasil membuat ku tersanjung dan bahagia menjadi sosok wanitanya. Dimas Prayoga, seorang kawan ku semasa kuliah, meski sebenarnya kami bukan dari fakultas yang sama.
   “Lo mau gak jadi pacar gue ?”.
   “Hah,, kok mendadak gini sih Dim?”. Ujarku kala itu ketika pertama kali mendengar dia menyatakan cinta yang “dadakan”.
   “Gak medadak kok Rey, gue udah berencana buat nembak lo. Tapi gue gak tau gimana caranya, jadi akhirnya gue ungkapin gini”.
   Dan sejak saat itu kami resmi menjadi sepasang kekasih, tepatnya pada 15 februari 2014. Dia semakin menunjukkan kasih sayangnya padaku, terkadang dia menasehatiku untuk tidak terlalu bersikap manja dan bisa menempatkan diri. Aku akui, mungkin karena aku adalah anak bungsu jadi terkadang aku suka berebihan dalam beberapa hal. Tapi hebatnya Dimas gak pernah marah sedikitpun, justru dia yang mengajarkan aku bagaimana seharusnya sikap seorang gadis dewasa.
   Hingga karena sikapku yang tak pernah bisa teguh ada pendirian aku harus kehilangannya. Aku terikat janji dengan seorang yang lain, sehingga aku harus mengakhiri kisah indahku dengan Dimas dan meninggalkan luka yang mungkin berbekas hingga saat ini dihatinya. Teruntuk DIMAS PRAYOGA-ku, aku minta maaf.

Selasa, 07 April 2015

RAHASIA LAUT


Senja kali ini terasa sangat indah, mungkin karena senja kali ini aku habiskan bersama Jodi setelah mati-matian aku memaksanya untuk ikut bersamaku. Saat ini kau pasti merasakan ketakutan dan kekawatiran yang nampak terpancar dari wajahnya. Pasir-pasir putih yang menenggelamkan sebagian jemari kakinya, ombak pantai yang sesekali menyentuh kaki mungilnya. Tapi taukah kau perih dalam hatiku menyaksikan senja kali ini ?? menyaksikan lautan biru yang disirami oleh warna keemasan sang mentari yang akan segera kembali pada peraduannya.
15 February 2010, waku itu aku masih menjadi seorang mahasiswa akhir disebuah perguruan tinggi. Skripsi yang belum juga mendapatkan persetujuan dari dosen pembimbing menyeretku untuk pergi ketempat ini. Pantai yang sejak dulu memang telah menjadi teman baikku, entah disaat aku senang atau bahkan disaat aku tengah gundah seperti saat ini.
Tiba-tiba terlihat beberapa lelaki yang melintas agak jauh didepan ku, entah apa yang tengah mereka perbincangkan hingga membuat mereka tak menghiraukan orang-orang disekitar mereka. Dan hingga akhirnya salah satu dari mereka terjatuh mengenai aku karena terdorong oleh rekannya yang lain.
“Ups,,, maaf gue gak sengaja”.
“Ahhh, gara-gara kalian kepala gue yang jadi korbannya”. Ujarku seraya mengelus kepalaku yang terbentur dengan pundak salah satu dari gerombolan menyebalkan itu..
“Sorry banget kita gak sengaja”. Ujar salah seorang dari mereka sebelum akhirnya mereka pergi meninggalkan aku yang mengaduh kesakitan.
“Kamu gak papa ??”. ujar seseorang yang tiba-tiba meraih pundak dan kepalaku
“Ah, gue gak papa kok, cuma rada sakit aja”. Aku terkejut dengan kemunculanmu
“Syukur deh, gue liat kayaknya lo sering kesini ya”. Ucapmu seraya membenarkan posisi dudukmu disampingku.
“Jangan bilang kalo lo suka nguntitin gue”
“Ya ampun, gue bukan tipe orang kayak begitu. Gue sering ketempat ini. Dan kayaknya setiap kali gue kesini selalu ada lo”.
“Oh gitu, iya gue emang sering banget kesini”.
Dari perkenalan singkat itu kita bertemu, awalnya kita hanya saling sapa ketika sesekali bertemu di pantai ini. Hinga akhirmya kita bertukar nomer handphone. Kau cukup pandai dalam belajar, hingga tak jarang kamu membantu ku merampungkan skripsiku yang akhir-akhir ini terbengkalai. Aku masih ingat sebuah pengakuanmu dulu, bahwa sebenarnya kamu memang suka melihat ku dari gazebo yang ada ditepi pantai itu, kau bilang aku gadis yang menarik, dan aku sempat tersentuh ketika kau bercerita waktu aku menangis ditepi pantai itu. Kau juga merasa sakit, kau ingin menghapus air mata yang membasahi wajahku entah apa itu benar atau hanya bualan yang diucapkan oleh setiap lelaki yang ingin mendekati seorang wanita. Tapi yang jelas saat ini aku yakin bahwa kau sangat mencintaiku.
Mas Rengga,,, andai saja aku bisa memutar semuanya kembali. Aku takkan pernah melakukan hal itu padamu, aku hanya ingin menggodamu. Aku suka melihat wajah mu ketika mengkhawatirkan aku. Tempat ini adalah tempat terakhir kebersamaan kita Bagaimana mungkin aku bisa melupakan tempat dimana kita terakhir bertatap muka, tempat terakhir kita melukis senyum bersama, tempat terakhir aku bisa menikmati senja dalam rangkulanmu.
“Tiara, jangan merajuk lagi. Aku tidak bermaksud apapun”.
“Iya mas, aku ngerti. Lagian siapa yang merajuk”. Jawabku acuh kala itu.
“Sejak kita sampai di pantai ini, kau tidak bicara sedikitpun denganku. Bukankah pantai dan suasana senja adalah tempat yang sangat kau suka, biasanya kau selalu tersenyum jika aku mengajakmu ke tempat ini”.
“Sungguh, aku tak marah atau pun merajuk padamu”. Ujarku kala itu.
“Atau kau ingin aku mengambilkanmu kerang seperti yang dulu kau lakukan ketika aku marah ?”. Goda mu
Aku terdiam, dengan senyum yang menggoda akhirnya kau pun melangkah menuju laut dan berenang. Aku tau kau sangat menyukai kejutan-kejutan kecil, jadi ketika kau marah aku paling suka mnengambilkan mu kerang entah kerang yang aku temukan didalam laut, atau hanya sekadar kerang yang aku temukan ditepi pantai. Aku tersenyum melihat kau berenang kearah pantai, kau masih saja seperti dulu. Masih Rengga yang aku kenal dulu, masih Rengga yang sangat peduli dengan senyumanku.
Lima belas menit aku menunggumu, kemana kau belum saja kembali?? Aku kebingungan, kau ahli dalam berenang, tak mungkin kau akan selama ini hanya untuk mencari sebuah kerang. Oh Tuhan,,, ada apa itu, aku mulai melihat kerumunan orang-orang diseberang sana. Tidak, itu tidak mungkin dirimu kan mas. Aku berlari menuju kerumunan itu, setibanya disana aku melihat tubuhmu sudah terbujur, matamu tertutup, tak ku lihat lagi senyuman yang menggoda itu. Semuanya serasa gelap, tubuhku lemas kakiku serasa tidak mampu menopang tubuhku. Bagaimana mungkin kau meninggalkan ku dan calon bayi kita mas Rengga.
Orang-orang mengatakan bahwa kau terbawa ombak dan tenggelam, katakan padaku bahwa hal itu salah mas. Kau hanya tertidur sebentar kan?? kau tidak akan pernah meninggalkan aku dan calon bayi yang telah kita tunggu-tunggu ini ?? kenapa tuhan menghukum kita dengan cara sepeti ini ??
“Ma, aku takut. Ayo kita pergi dari tempat ini sekarang”. Jodi menggenggam erat tanganku berusaha membangunkan aku dari lamunan
“Ah iya iya, ayo kita pulang sayang”.
Oh iya mas, ada satu hal yang ingin aku sampaikan padamu. Jodi –anak tunggal kita-, dia sangat takut berenang, dia tak suka berlama-lama berada dipantai. Entah apa yang membuat dia bisa sebegitu tak sukanya dengan pantai ini. Seberapa kerasnya aku mengajari dia untuk berenang, dia tetap tak mau. Mungkin dia tau bahwa pantai inilah yang merenggut nyawa ayahnya yang mempunyai senyuman yang menawan.. seperti saat ini dia segera mengajakku untuk pergi meninggalkan tempat ini. Kau tak usah khawatir mas, aku akan menjaga dia sesuai dengan semua yang kau inginkan dulu. Kau ingin menjadikan dia sosok perwira seperti mu kan ?? aku akan membimbingnya, dan suatu saat nanti setelah dia dewasa aku kan menceritakan padanya bahwa dia mempunyai sosok ayah yang hebat, tangguh dan penyayang. Dan akan aku sampaikan padanya bahwa pantai ini tempat terakhir kau mngelus manja dia saat didalam kandungan ibunya ini. Ku harap kau tenang disana mas karena aku dan Jodi akan baik-baik saja disini.