SEPASANG HATI
Sebuah
kamar dengan dominasi warna biru laut, beberapa kertas nampak berkeliaran tak
beraturan. Banyak foto seorang gadis yang tertempel hampir menutupi salah satu
bagian dinding kamar itu. Diatas tempat tidur tergeletak seorang pria setengah
baya yang nampaknya tengah sibuk memikirkan sesuatu.
“Apa
yang kau bayangkan Ken ?”.
“Aku
membayangkan dia”. Tunjuk pria itu pada foto-foto gadis yang tertempel
diseberangnya.
“Kalau
kau rindu Jingga kenapa tak kau temui dia?”.
“Kami
masih menunggu waktu Yas”.
“Waktu
?? apa 3 tahun itu masih kurang begitu menyiksa pikiran kalian ?”.
“Enggak,
enggak sama sekali”.
“Merinduinya
dengan cara seperti ini justru yang membuatku bangga dengan dia. Kau tau Yas,
ketika semua pasangan kekasih saling bertemu dan bermanja-manja, tidak begitu
dengan kami”.
“Yah,
kalian memang pasangan yang aneh”.
“Ah,
kau jangan menghina lelaki ini Yas’. Suara lelaki itu sedikit terdengar lirih
“Bukan
maksudku menghina mu Ken. Bayangkan saja, kalian membuat perjanjian bodoh dalam
hubungan kalian. Tidakkah kau khawatir dengan hubunganmu dan Jingga ?”.
“Tak
pernah ada sedikitpun hal semacam itu dalam pikiran kami Yas, bahkan sejauh
apapun dia meninggalkan aku. Aku yakin bahwa dia masih memberiku tempat
terindah dihatinya”.
“Kata-katamu
terlalu puitis Ken. Tapi aku akui, aku sedikit ragu untuk mempercayai ucapanmu
itu. Bukan maksudku meragukan cinta kalian berdua, tapi jika aku pikirkan lebih
dalam lagi dan melihat beberapa kenyataan yang aku lihat sendiri dari dunia
sekitarku kisah cinta kalian memiliki kemungkinan yang besar untuk terpisah”.
“Aku
tidak pernah memaksamu untuk mempercayai hubunganku dengan Jingga. Hanya kami
berdua saja yang percaya hubungan ini, sudah cukup untuk membuat kami bertahan
satu sama lain”.
“Ya,,,
benar juga apa kata mu. Tetaplah menjaga kepercayaan dan keutuhan cinta istimewa
kalian”. Suara Ilyas sedikit memberi
tekanan pada kata istimewa .
Ken
hanya tersenyum menanggapai ucapan Ilyas, pandangan nanarnya kembali terarah
pada sekumpulan foto gadis yang hampir memenuhi dinding kamarnya. Senyum manis
gadis itulah yang membuat dia betah untuk berlama-lama menatap dinding
itu.
“Kita
sudah menepati janji yang telah kita buat 5 tahun yang lalu Ken “.
Ken
hanya terdiam ketika gadis yang berada didepannya menyunggingkan senyum. Dia
tidak tau, bagaimana ekspresi yang akan dia tunjukkan ketika saat ini tiba.
Dia gugup, bahagia, sepertinya ada berbagai kebahagiaan yang mengisi rongga
dadanya. Kini dia bisa membuktikan ucapannya kepada Ilyas, bahwa Jingga
benar-benar datang dengan cinta yang tetap penuh seperti dulu. dia tetap bisa tersenyum
manis diatas kursi roda yang selama 5 tahun perjanjian konyol ini menemani
dia, menjadi pengganti sosok Ken yang seharusnya ada disisinya. Dan Ken tetap
sama seperti dulu, sebuah tongkat hiam masih tetap setia menemani kemanapun dia
melangkah. Sepertinya Ilyas harus merubah pemikirannya mengenai cinta antara
Ken dan Jingga yang dengan hebatnya mampu menyatukan sepasang hati seorag gadis
lumpu dan lelaki tunanetra.