Karena Allah Sayang Aku
Berbicara mengenai sakit hati, rindu
dan segala perasaan yang mungkin dialami seorang wanita yang masih labil, aku
pernah dan bahkan sudah sering mengalami perasaan itu. Namun diantara banyaknya
kisah sakit hatiku, ada sebuah kisah yang membuat aku bersyukur karena telah
mengalaminya. Perkenalkan namaku Hana, sudah setahun yang lalu aku memutuskan
untuk mengakhiri hubunganku dengan “orang spesial” dalam beberapa waktu
terakhir ini, setelah berminggu-,minggu aku pikirkan pastinya. Kalian pasti
tau, gak semudah membalikkan telapak tangan ini untuk melupakan dia, butuh
waktu yang cukup lama, aku mengurung diri, melihat foto-foto kami yang aku
simpan dilaptop, dan bahkan aku masih suka stalking akunnya hanya sekedar untuk
mengetahui bagaimana kabarnya setelah berpisah denganku. Bahkan kata kedua
teman akrabku, selama dua hari non-stop aku ga ada keluar dari kamar kostku,
tanpa makan, tanpa mandi dan yang lainnya. Dan untungnya aku malah nggak pernah
mengingat pernah sampai segila itu. Aku masih tetap saja mengingat semua hal
tentangnya, wajahnya, kekonyolannya, caranya tertawa bahkan caranya mencemburuiku
pun masih tetap aku ingat hingga saat ini. Setiap kali aku melewati tempat
dimana aku menghabiskan waktu dan canda tawaku bersamanya, kenangan itu kembali
merekah dan menyeruak muncul dari dasar memoriku. Aku tidak sadar, ketika aku
melewati tempat itu aku sibuk mengingat semua kenangan yang pernah kami buat
ditempat ini.
Kalian tau,,, aku sempat menyesali
kejadian di masa lalu. Yang membuat kami justru terpisah seperti saat ini,
membuat kami tak pernah saling tegur sapa sedikitpun, membuat kami seakan
menjadi sosok-sosok yang asing lagi di masa depan. Ahh,,, sungguh jika saja ada
kategori gadis termalang didunia ini pasti aku yang akan mendapatkan gelar itu,
itu adalah pemikiranku saat pertama kali berpisah dengan dia. Aku selalu
berpikiran untuk kembali merajut kisah dengannya, namun sepertinya bisikan
setan kala itu tidak cukup kuat untuk menghasutku dan mengubah keputusanku.
“Kita
jadi kan Na berangkat ke air terjun ??”.
“Aku
gak berani bawa sepeda sendiri kesana, jalannya terlalu menanjak”. Jawabku kala
salah seorang teman bertanya padaku.
“Lagian
lo sih pake acara mutusin Dimas segala, jadi repotkan kalo lo jomblo gini”.
“Ya
ampun Re, kalo gue gak bisa ikut kalian masih tetep bisa berangkat kesana kan.
Status gue yang jomblo bukan alasan kalian untuk gak berangkat kesana”. jawabku
dengan senyum simpul.
Mungkin
itu salah satu ucapan kawanku atas keputusanku untuk mengakhiri hubungan dengan
Dimas. Dan tidak hanya berhenti sampai di situ saja, kalian tau sendiri
bagaimana nasib seorang jomblo sebagai kaum minoritas dinegeri iniJ. Sering sekali teman-temanku menjadikan aku sasaran untuk bully-an mereka. Awalnya aku sedikit
marah jika mereka memprotes keputusanku, bukankah ini hidupku, aku yang
menjalaninya kenapa juga mereka harus seperti itu. Tapi akhirnya aku sadar,
mereka seperti itu karena mereka gak tau apa alasanku melakukan hal itu. Mereka
tidak tau bahwa aku melakukan semua itu karena takutnya aku terhadap dosa yang
akan terus mengalir jika kami bersama.
Kadang aku sempat berharap semoga aku dan
dia bisa kembali membaik seperti dulu,
tapi akhirnya ada sesuatu yang membuatku tersadar, suatu hal yang membuatku
justru merasa bersyukur karena telah memilih keputusan untuk mengakhiri kisah
kami berdua. Ternyata setelah berakhir denganku dia menemukan seorang gadis
lain untuk menjadi sosok “kekasihnya”. Dan akupun mendengar kabar bahwa
dia telah menghamili wanita itu. Aku menangis pada Allah, ternyata ini maksud
dari segala takdir yang Dia tuliskan untukku. Dia tak ingin membuatku sengsara,
dia justru memilihkan jalan cerita dengan skenario menarik untuk menyelamatkanku.
Terima kasih untuk_Mu Ya Robb yang sudah menuliskan skenario ini, terima kasih
untuk semua orang yang sudah mendukung atau bahkan memprotes keputusanku,
karena dengan adanya kalian aku bisa semakin kuat untuk menentukan keputusan
itu. Dan Alhamdulillah hingga saat ini aku merasa bangga menjadi JOMBLO !!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar