Seandainya aku tau
hal itu sebelumnya, mungkin aku akan menggenggam tangan hangatnya lebih lama
lagi, aku akan mengukir senyumnya lebih sering dari yang aku bisa. Entah aku
semakin tak paham dengan sang waktu, mengapa masih banyak teka-teki yang dia simpan
dibalik jubahnya untuk hidupku.
“Sudahlah Key,
kamu gak boleh terus-terusan termenung dan menyendiri seperti sekarang”.
“Keyla gak tau
lagi mesti gimana Fer”.
“Kemana perginya
Keyla yang aku kenal dulu ?”.
Pandanganku
tertuju pada sang mentari yang hampir tenggelam seakan-akan tenggelam dan
hilang ditelan bumi. Pandangan nanar menatap semburat jingga yang eksotis,
seakan memaksaku untuk kembali mengingat semua kenangan yang aku ukir dengan
MAMA disaksikan oleh jingga. Sudah setahun semenjak mama meninggalkan aku dan
papa sendirian, kenapa dia tak pernah mengatakan padaku tentang kanker yang
bersarang dalam tubuhnya, bagaimana mungkin dia berperang sendiri melawan keganasan itu sendirian. Satu hal
yang membuat aku bangga terlahir dari rahim seorang wanita sehebat beliau. Tak
pernah sekalipun aku mendengar dia mengeluhkan rasa sakit yang aku tau sangat
mengganggu dia dan kesehariannya, tak pernah sekalipun aku melihat ada gurat
kesedihan karena keganasan penyakit itu pada wajahnya.
Mama, sosok wanita
yang mungkin kalian semua cintai, begitupun denganku. Mama adalah sosok wanita
yang paling aku cinta diseluruh dunia ini, tak ada satupun wanita yang bisa
menggantikan semua usaha yang dia berikan padaku. Seandainya aku punya sebuah
lampu ajaib yang bisa mengabulkan keinginanku, hanya satu hal yang aku
inginkan. Aku ingin mama ada disini lagi, disampingku agar aku bisa kembali bercerita dan bermanja-manja
dengannya. Masih banyak hal yang ingin aku bagi dengannya, aku masih ingin
bersandar dibahunya dan menumpahkan semua keluh kesah dan airmataku.
Semenjak mama
pergi banyak hal yang berubah, sikap tante, bahkan kakakku sendiripun berubah.
Mereka memperlakukanku seolah-olah aku adalah orang lain dalam keluarga mereka.
Menyuruhku seenak hati tanpa memperdulikan keadaanku. Seolah-olah aku adalah
pembantu dirumahku sendiri. Aku mulai lelah, hendak berontakpun percuma, tidak
aka nada yang bisa mengerti aku kecuali mama, sejak saat itu aku seakan menjadi
sosok Keyla yang berbeda. Aku teramat terpukul dengan kepergian mama, aku
menyalahkan Tuhan karena telah mengambil mama terlebih dulu. Aku merasa tak
memiliki sandaran lagi, aku selalu gusar setiap kali mengingat sosok mama.
Hingga pada akhirnya, untuk petama kali aku memberanikan diri merokok, setiap
kali kesedihan menghampiriku, rokok adalah kawan yang bisa menenangkanku.
Hingga pada akhirnya kebiasaanku merokok dibelakang kampus diketahui oleh salah
seorang teman lelaki. Ya,,, lelaki itu adalah Ferli.
“Keyla,,,”. Tegur
Ferli waktu itu dan menarik punting rokok yang ada disela jemariku.
“Apaan sih lo Fer,
balikin rokok gue”. Bentakku
“Seharusnya gue
yang nanya sama lo, kemana akal sehat lo ?’.
“Lo gak usah ikut
campur urusan gue, sekarang balikin rokok gue”.
Ferli langsung
membuang punting rokokku ke tanah dan menginjak-injaknya.
“Sejak kapan lo
mulai ngerokok”.
“Apa peduli lo ?’.
“Gue peduli karn
gue sayang lo Key”.
“Hahaha,,, sayang
lo bilang. Entah udah berapa lama gue gak pernah denger kata itu semenjak
nyokap gue meninggal”.
Entah kenapa saat
mengucapkan kata mama airmataku menetes, mungkin karena kerinduank yang terama
sangat waktu itu. Melihatku menangis Ferli mendekat dan merengkuh tubuhku.
Mama, jika saja yang tengah memelukku saat ini adalah dirimu aku tak ingin
melepaskannya. Airmataku semakin deas dan mulai terdengar sesenggkan disela
napasku.
“Gue kangen mama
fer, gue iri ngeliat mereka yang bisa becanda bareng sama mama mereka”.
Ferli tak mejnwab,
dia semakin mengencangkan pelukannya
“Iya Key gue
paham, nangis aja sepuas lo. Gue ga bakalan ngelarang”.
Mulai saat itu
pula, Ferli selalu menemaniku. Dia bilang kalo hal itu dia lakukan karna gak
mau melihat aku merokok lagi.
“Sebelum lo
ngelakuin hal-hal aneh semacam itu lagi, coba lo bayangin gimana perasaan mama
lo kalo ngeliat kondisi lo saat ini. Dia pasti bakalan sedih banget Key, masih
banyak orang yang peduli sama lo. Lo gak usah peduli sama mereka yang benci
atau ga ngehargain lo. Masih ada gue dan semua temen-temen yang sayang sama lo.
Kepergian mama lo bukan berarti menjadi alasan lo ngelakuin hal bodoh itu lagi.
Ingat itu “.
@ @
@
“Seorang wanita
itu bagaikan benang dan laki-laki adalah layangannya. Jika kau ingin
layang-layangmu terbang tinggi diangkasa, kau harus menjadi benang yang
berkualitas tinggi”.
“Apa maksud mama ?”.
“Kita sebagai
wanita pasti mengharapkan sosok lelaki yang mampu mengayomi kita sayang, jika
kita menginginkan hal itu gak seharusnya kita berdiam diri saja. Kita juga
harus berusaha untuk memantaskan diri bagi mereka yang mampu terbang tinggi”.
Aku terdiam,
sebagian ucapan mama bisa aku cerna disore itu ketika warna jingga menghiasi
langit yang saat ini menemani sore ku dengan mama dihalaman belakang.
“Gimana caranya
agar Keyla bisa menjadi benang yang berkualitas itu ma ?”.
“Keyla tau
bagaimana proses pembuat benang nilon berkualitas yang bisa menerbangkan
laying-layang tinggi dilangit ?”.
“Keyla gak tau,
emang gimana ma ?”.
“Benang nilon itu
sendiri terbuat dari plastiik yan dipanaskan, setelah itu dia ditarik dengan
kekuatan tertentu hingga akhirnya dia akan menjadi benang nilon yang baik, sama
halnya dengan pembuatan benang itu sayang. Untuk menjadi seorang pendamping
yang berkualitas untuk jodohmu kelak kamu harus mau bersusah payah memperbaiki
dirimu untuk jodohmu nanti. Jangan penah melakukan hal apapun tanpa kamu
pikirkan resiko yang mungkkin akan kamu alami atas tindakan yang akan kamu
lakukan”.
Itu salah satu
pesan mama yang aku ingat hingga saat ini, hingga dia pergi membawa kanker yang
diderita sampai akhir hayatnya. Berpikirlah sebelum kau bertindak, itu
kesimpulan yang bisa diambil dari pesan yang disampaikan mama menurut Ferli..
“Keyla kangen mama
Fer “
Untuk sekian
kalinya aku menangis didepan Ferli. Menangis karena kerinduanku yang teramat
sangat kepada mama. Terkadang aku selalu berharap mama bisa berada disini saat
ini, menemani aku menjalani kehidupanku ini.
“Kamu pasti bisa
ngejalanin semua ini, kamu harus bisa membuat mendiang mama kamu bangga”.
Senja kala itu
tampak lebih indah ma, aku menikmatinya dengan sosok laki-laki yang sudah mampu
menjagaku, mengajariku banyak hal, membantuku bersabar menghadapi tante dan
kakak, dan pastinya dia mau menerima semua hal tentangku. Ma,,, semoga aku dan
Ferli bisa menjadi sepasang layang-layang dan benang yang saling membanu satu
sama lain seperti pesan mama dulu. Keyla harap mama baik-baik saja disana, tak
perlu khawatir dengan keadaan Keyla, karena disini sudah ada Ferli yang udah
Key anggap sebagai pengganti mama, meski dia sedikit lebih cerewet.
Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti writing project yang diselenggarakan Nulisbuku.com dan storial.co