Minggu, 25 Januari 2015

Ini Karena Mawar

Mentari itu indah, mentari itu cantik, mentari itu menawan, dan mentari itu adalah AKU. Seorang gadis remaja yang kini tengah meringkuk dibalkon kamarnya seraya menikmati tetesan hujan yang sesekali membasahi wajah cantiknya. Hujan dan senja adalah hal yang teramat aku sukai selain duri-duri mawar ku ini pastinya, mereka selalu tampak menggoda.
“Tari,,, apa yang kau lakukan dibalkon hujan-hujan begini ?”. 
“Ah, Tara. Aku sedang menikmati hujan, kau sedang apa di kamar ku ?”.
“Aku kesepian, makanya aku kesini. Kau tau sendiri kan kalo Regina sedang pergi dengan kekasih barunya itu. Tak apa kan ??”.
“Ah ya tentu saja, lakukanlah apapun yang kau sukai. Selagi itu tidak membahayakan nyawa kita”. Candaku 
Kalian tau Bogor kan, curah hujan ditempat ini teramat tinggi apalagi ketika musim tak lagi bisa diprediksi seperti saat ini, hujan hampir tiap hari mengguyur tempat ini. Rumah kost yang kini aku dan Tara tempati terletak di daerah yang bisa dibilang cukup tinggi, jadi kami tak begitu khawatir akan terkena banjir. 
“Kenapa tangkai mawar ini masih ada disini Tari ?”.
“Tadi aku lupa membuangnya, ya udah lah Tara Cuma setangkai aja kok”.
“Mentari… 
“Ada apa Tara ?”.
“Tentang penyakit mu itu, apa Edo sudah tau ?”.
“…”
“Kamu harus segera memberi tau dia Tari sebelum kalian melangkah terlalu jauh”.
“Apa hal itu perlu aku lakukan ? toh meskipun tak aku beri tau tak akan berdampak apapun pada hubungan kami”.
“Itu pendapatmu, kau tak pernah tau bagaimana perasaan dan pemikiran Edo tentang kamu jika dia mengetahui penyakit mu itu”.
“Aku yakin jika dia pasti akan menerima semua hal yang ku miliki, termasuk penyakit anehku ini” ujar kuseraya tertunduk
“Itu pemikiran mu Tar, kamu gak tau kan apa yang ada dalam pikiran dia. Bagaimana jika dia berpikir bahwa kau telah membohongi dia ? bagaimana jika dia berpikiran sama dengan “mereka”?, bagaimana jika dia berpikir bahwa kau adalah gadis yang aneh ??”.
Aku tertegun, suasana kamarku mendadak sunyi, hanya terdengar suara rintik hujan dan sesekali terdengar bunyi kilat yang menyambar. Benar apa yang dikatakan Tari, baru 2 bulan yang lalu aku dan Edo memutuskan untuk menjadi sepasang kekasih., tanpa aku beri tau dia bahwa aku mengidap “penyakit”. Bagaimana jika apa yang dikatakan Tara itu mejadi kenyataan, bagaimana jika Edo menganggap aku seorang pembohong ? bagaimana jika Edo menganggap aku seorang gadis aneh ??
“Suatu saat dia pasti akan tau Tari, lebih baik kau beritahu dia tentang penyakit itu, sebelum dia mendegar kabar itu dari orang lain. Karena itu sungguh akan membuat dia merasa sedih, bahkan bisa saja dia marah kepadamu”.
“Aku takut Tara, aku takut dia akn meninggalkan aku setelah mengetahui bahwa aku seorang PICA (suatu penyakit dimana penderitanya memiliki dorongann untuk memakan makanan yang tidak normal)”.
“Jika dia benar-benar mencintaimu, penyakit itu tidak seharusnya menjadi penghalang hubungan kalian. Dia justru akan menerima bagaimanapun keadaanmu. Bahkan dia pasti akan menerima kenyataan bahwa kau adaah penggila duri-duri bunga mawar ini”. Ujar Tara sambil menggenggam setangkai mawar yang berada diatas nakas disamping tempat tidurku yang telah kehilangan seluruh durinya.
“Lalu bagaimana jika dia tidak mau menerima keanehanku itu Tara ? bagaimana jika dia memutuskan untuk pergi meninggalkan aku? Aku menyayangi dia Tara. Kau bahkan tau sendiri kan kalo aku sudah menyukai dia sejak aku masih menjadi mahasiswa dikampus ini”.
“Jika dia meninggalkan mu kau seharusnya bersyukur….
“Apa maksudmu, aku harus bersyukur ? apa aku harus bersyukur gara-gara kehilangan kekasih dan orang yang aku sayang ?? itu gila Tara”.
“Kau harus bersyukur karena dengan begitu kau tahu bahwa dia tidak benar-benar mencitaimu, dia hanya mencintai semua kelebihanmu, wajah cantik, IQ mu yang tak bisa diragukan lagi, serta harta yang kamu miliki. Jika dia memilih untuk meninggalkanmu, maka dia pun membuktikan ketulusan cintanya untukmu”.
Sekali lagi aku tertegun membenarkan ucapan Tara
“Aku hanya memebri masukan Tari, semua keputusan ada ditangan kamu”.
“Iya Tar, aku akan pikirkan hal itu lagi”.
  
҉҉ ҉ ҉҉҉ ҉҉҉  
Hari sabtu sore, pasti banyak dari kalian yang bahagia dengan hari ini. Tapi tidak bagiku, akhirnya aku pun memutuskan untuk memberitahu Edo tentang penyakitku. Aku sudah memikirkan hal itu selama berhari-hari, dan akhirnya aku pun memutuskan untuk memberitahu dia. Toh suatu saat nanti lambat laun dia akan mengetahui penyakitku. 
Aku ingin bertemu denganmu ditaman, bisa kan ??
Kukirimkan BBM singkat untuknya, dan dia langsung membalasnya hanya dengan satu kata OK. Aku tiba lebih dulu, ditaman. Dia tampaknya sedikit terlambat, dan yang aku tau itu memang sudah kebiasaan dia, membuatku menunggu.
“Sorry, aku agak te…
Edo tercengang seraya mengatur napasnya yang terengah-engah, seperti habis lari marathon. 
“Tari, apa yang kamu lakukan ??”.
“Ah ini, oh iya kamu belum tau yah. Aku seorang PICA Edo. Aku suka memakan duri-duri mawar”. Ujarku seraya kembali menikmati duri-duri mawar yang memang sudah aku siapkan.
“Kamu becanda kan Tar ??’.
“Enggak kok Edo, aku serius”.
“Gila, ini sungguh gila. Mana mungkin aku punya seorang kekasih yang punya penyakit hobi makan duri-duri mawar ini.
“Kenapa Do ?? apa kamu terganggu dengan kebiasaanku ini ??”.
“Ya, aku terganggu teramat sangat terganggu”.
Edo pergi meninggalkan aku ditengah taman, sebelum dia sempat duduk dan membelai rambutku seperti biasanya. Enggak,,, ini bukan hal yang aku harapkan dari Edo, gak seharusnya dia menjawab begitu. Bukankah dia bilang dia mencintaiku?? Bukankah cinta itu seharusnya saling melengkapi dan menerima satu sama lain?? Tak terasa air mata ku menetes, benar kata Tara mungkin saja ini bisa menjadi titi puncak hubungan kami, aku harus siap dengan semua keputusan yang Edo buat termasuk keputusannya untuk meninggalkan aku, aku kuat, aku bisa mendapatkan lelaki yang bisa menerima seorang PICA seperti ku.

Sabtu, 17 Januari 2015

Surat Pertama

Untuk : Bunda yang kini telah tenang disisi-Nya
Dari: Putri kecilmu
Assalamualaikum bunda, gak terasa ya udah 4 tahun bunda meningalkan Nisa dan keluarga kita yang bahagia. Tau gak bun, meski kini bunda gak lagi berada ditengah-tengah kami tapi kami selalu merasa bahwa bunda masih disini, ya disini bersama ayah, kakak dan Nisa pastinya. Mungkin bunda sekarang sudah melihat Nisa yang sudah tumbuh menjadi seorang remaja. Nisa bukan lagi gadis kecil yang hanya bisa mrengek, kakak bilang Nisa sudah dewasa dan tumbuh semakin cantik, dan katanya kecantikan Nisa sama seperti bunda. Bener kok bun, Nisa ingin tumbuh secantik dan sebijak bunda suatu saat nanti.
Bunda,,,
Ada banyak hal yang ingin Nisa sampaikan, untuk yang pertama dan yang utama Nisa ingin menyampaikan salam dari keluarga kita yang bahagia, kami sungguh rindu bunda dan segala kehangatan yang bunda bubuhkan dalam hidup kami. Salam dari kak Tita dan kak Fitri, dia rindu sarapan nasi goreng buatan bunda. Terus kak Ishaq rindu teh hangat dan pisang gorng yang selalu bunda buat ketika hujan turun. Sedangkan Nisa, Nisa kangn ingin tertidur dipangkuan bunda.
Bunda,,,
Masih inget gak dulu ketika bunda terkena penyakit Diabetes Militus (waku itu Nisa belum paham dengan istilah itu) selalu ada seorang perawat yang datang kerumah untuk mengganti perban dan membersihkan luka yang menggerogoti kaki kiri bunda. Nisa yang waktu itu masih belum mengerti apapun hanya melihat dari kejauhan. Tapi bunda, sekarang Nisa sudah paham apa itu Diabetes Militus, penyakit yang bersarang ditubuh bunda dan berhasil mengambil bunda untuk pergi meninggalkan Nisa selamanya.
Bunda,,,,
Sejak saat itu Nisa berkinginan untuk menjadi seorang perawat, dan taukah bunda saat ini Nisa sudah menduduki semester ke-3 di sebuah akademi keperawatan bun. Nisa sudah paham apa itu Diabtes Militus, bagaimana cara mencegah , mengobati dan membersihkan lukanya. Kadang ada sedikit sesal yang bersarang dipikiran Nisa, kenapa dulu Nisa gak bisa melakukan hal itu untuk bunda, untuk membuat bunda tetap disini bersama kami. Bunda bangga kan sama Nisa, oh iya bun ada satu hal yang Nisa tanamkan dalam pikiran Nisa. Nisa harus menjadi seorang perawat yang baik, agar gak ada lagi Nisa-Nisa lain yang juga kehilangan bunda mereka seperti yang Nisa alami. Nisa ingin menyelamatkan mereka bun. Ada banyak hal yang Nisa pelajari dari tiadanya bunda, Nisa jadi mengerti apa arti kehilangan, Nisa jadi tau rasanya mengikhlaskan sebuah kehilangan, Nisa juga jadi paham seperti apa rasanya ingin berbagi dan keinginan untuk menyelamatkan orang lain.
Bunda,,,,
Terima kasih karena telah bersedia melahirkan Nisa dan membiarkan Nisa melihat dunia, terima kasih untuk kasih sayang dan kesabaran bunda selama ini, terima kasih untuk menjadi sosok bunda yang begitu mengagumkan untuk Nisa dan kakak-kakak. Bunda baik-baik ya disana, tenang gak usah mengkhawtirkan Nisa disini, kan Nisa sekarang udah dewasa dan bisa menjaga diri pastinya. Oh iya, ada satu hal yang harus selalu bunda ingat, kami disini sayang bunda dan takkan pernah sekalipun kami disni melupakan menitipkan untaian do’a terbaik untuk bunda disana.
Udah dulu ya bun, bunda baik-baik disana. Jangan lagi risaukan putri kecilmu ini, karena saat ini dia sudah belajar untuk tumbuh menjadi seorang perawat yang baik.
Salam rindu dari kami untuk bunda
Wassalamialaikum