Rabu, 04 Maret 2015

Lelaki Hebatku

“Lelaki itu kuat, gak selemah wanita ” aku mulai meragukan kata-kata ini. Siapa bilang seorang pria tak bisa menangis ? aku pernah melihat tetesan airmata dari kedua mata bapak, ketika beliau memelukku disisi jenazah ibu. Siapa bilang seorang lelaki tak punya hati ? aku pernah membaca sebuah buku dari cacak yang berisi kerinduan yang teramat sangat ketika dia berada jauh dari ibu. Lelaki sama halnya seperti wanita, mereka mempunyai airmata dan hati yang lembut. Tapi mereka (baca: pria ) hanya meneteskan airmata ketika keresahan dan kesedihan tatkala mereka kehilangan sosok istri yang teramat mereka cintai. Mereka tak pernah mengumbar perasaan mereka, diam-diam mereka menulis berbaris-baris kata untuk menyampaikan rindu yang membuncah kepada sosok ibu tercinta yang jauh disana. Beberapa deti lalu aku pun melihat tetesan airmata seseorang suami yang merindukan sosok istri yang tela meninggalkan dia terlebih dahulu.
Mereka memang terlalu sering terlihat kaku, dingn, cuek dan tak acuh pada orang-orang terdekatnya. Bapak, dalam pikiranku selama ini engkau adalah sosok bapak yang tak jauh beda dengan beberapa bapak yang aku ketahui didunia ini. Tapi kini ada satu hal yang membuatku sedikit sadar bahwa semua sikap yang engkau tunjukkan kepadaku semata hanya agar aku tidak terlalu manja, agar aku tidak menjadi sosok gadis yang pemalas untuk merawat sosok ayah seperti engkau. Dan untuk cacak, aku sempat berpikir kenapa abang ku satu-satunya tidak seperti abang teman-temanku yang lain. Dan kini aku mulai berpikir, kau memang sosok kakak yang berbeda dengan abang-abang temanku yang memanjakan mereka. Mungkin karena usia kita yang terpaut sangat jauh, api sepertinya pemikiranku salah. Kau seperti itu karena kau ingin aku menjadi sosok adik yang bisa berdiri sendiri, tak selalu bergantung pada abang atau mbak (meski sebenarnya aku masih belum mampu L), kau bersikap begitu karena kau ingin mendidikku agar menjadi sosok gadis yang tegar (meski kini aku masih saja cengeng hanya gara-gara “kopi”) kini aku menyadari semua itu.
Aku terlalu malu dan takut untuk mengatakan semua ini secara langsung kepada kalian, tapi dibalik semua itu aku bangga menjadi bagian dai keluarga kalian yang sebenarnya mendidikku dengan cara yang jauh berbeda dengan cara mendidik orang lain. Ibu,,,, tolong sampaikan kepada mereka bahwa aku SAYANG mereka dan aku pun BERTERIMA KASIH karena mereka telah menyayangiku J