Kamis, 10 Oktober 2013

Tantangan mahasiswa keperawatan menjawab tantangan globalisasi

Berbeda dengan negara berkembang lain seperti Thailand dan Filipina yang saat ini telah memiliki payung hukum yang kuat untuk para perawatnya, profesi keperawatan di Indonesia adalah profesi yang sedang berjuang menuju pengakuan publik yang lebih kokoh dalam payung hukum. Tantangan demi tantangan muncul bersamaan dengan perjuangan tersebut, baik berasal dari internal maupun eksternal, termasuk globalisasi dalam bidang keperawatan  yang tiap detiknya semakin berkembang. Mengutip perkataan Scholte, seorang profesor dalam bidang Centre for the Study of Globalisation and Regionalisation (CSGR) di University of Warwick “Globalisasi memiliki empat tafsiran makna, yaitu internasionalisasi, liberalisasi, universalisasi, westernalisasi, bahkan sampai hubungan transplanetari dan suprateritorialitas.” Internasionalisasi diartikan sebagai meningkatnya hubungan internasional, liberalisasi diartikan sebagai semakin menurunnya batas antar negara, universalisasi digambarkan sebagai semakin tersebarnya hal material maupun imaterial ke seluruh dunia, sedangkan westernalisasi digambarkan sebagai satu bentuk dari universalisasi dengan semakin menyebarnya pikiran dan budaya dari barat sehingga mengglobal. Berbeda dengan keempat pengertian di atas, transplanetari dan suprateritorialitas digambarkan sebagai dunia global yang memiliki status ontologi1 tersendiri, bukan sekadar gabungan negara-negara.
Melihat cakupan definisi globalisasi di atas, maka makna globalisasi keperawatan pun dapat diartikan sebagai bentuk berkurangnya batas-batas negara, semakin cepatnya informasi tersebar diseluruh dunia, dan semakin mudahnya perawah-perawat asing masuk ke Indonesia serta semakin sengitnya kompetisi para mahasiswa keperawatan dalam mempersiapkan diri untuk bersaing dalam dunia kerja kelak. Mahasiswa yang dapat berkompetisi dalam era globalisasi adalah mahasiswa yang mempersiapkan diri dengan baik sejak dini. Untuk menjadi profesional yang matang, tugas seorang mahasiswa adalah menumbuhkan rasa kecintaan terhadap profesi sebagai perawat, semangat yang tinggi, dan belajar berpikir kritis. Oleh karena itu, mahasiswa keperawatan yang bisa menjawab tantangan globalisasi adalah mahasiswa yang cinta akan profesi keperawatan, senantiasa bersemangat dengan menjadikan masalah yang dihadapi sebagai sebuah tantangan dan selalu belajar untuk berpikir kritis.
Dalam mengikuti proses belajar, tugas pertama mahasiswa adalah terlebih dahulu harus merasakan rasa kecintaannya terhadap bidang keperawatan dengan mengenalnya terlebih dahulu. Fenomena yang terjadi saat ini adalah masih banyak mahasiswa keperawatan yang belum menemukan kepuasan tersendiri dalam belajar terutama pada mahasiswa tingkat awal. Mahasiswa mengerjakan tugasnya hanya untuk memenuhi tuntutan tugas dan deadline. Hal ini wajar apabila dirasakan oleh mahasiswa tingkat awal karena merasa belum terbiasa dengan perubahan cara belajar mereka, tetapi akan dapat menyulitkan pada masa depan mahasiswa kelak ketika menjadi seorang perawat apabila belum juga menemukan rasa cintanya terhadap keperawatan. Alhasil, pandangan masyarakat yang mengaggap bahwa perawat itu galak, tidak ramah, dsb tidak akan terelakkan. Oleh karena itu, semangat untuk mencintai dunia keperawatan adalah suatu keniscayaan. Apabila seorang mahasiswa telah mencintai apa yang ia pelajari, maka ia pun akan meresapi kalimat demi kalimat dalam materi tersebut, dan ketika bekerja kelak ia pun senantiasa bekerja dengan hati. Salah satu cara untuk menimbulkan rasa cinta terhadap keperawatan adalah mencoba untuk berkonsentrasi terlebih dahulu dalam setiap kesempatan belajar, mencoba untuk selalu duduk di depan ketika orang lain presentasi, menolak kata “malas” untuk mendengarkan, mencoba belajar sesuai dengan karakter belajar, apakah visual, audio atau pun kinestetik, contohnya mahasiswa dengan tipe visual akan lebih menyukai dan mencintai apa yang ia pelajari ketika belajar dengan melihat video-video animasi proses perjalanan suatu penyakit dari pada mendengarkan orang lain menjelaskan, dsb.
Tugas kedua mahasiswa keperawatan adalah senantiasa bersemangat dengan menjadikan suatu hambatan atau masalah yang muncul sebagai tantangan, bukan suatu ancaman. Permasalahan mahasiswa yang banyak terjadi biasanya mengenai menejemen waktu. Mahasiswa terkadang menyalahkan banyaknya aktivitas organisasi atau pun kepanitiaan di luar akademik yang mengakibatkan proses belajar akademik terganggu, alhasil masih banyak mahasiswa yang menganggap bahwa merupakan suatu hal yang wajar apabila seorang aktivis kampus memiliki indeks prestasi dibawah rata-rata. Padahal, dibalik itu banyak juga mahasiswa yang mampu menyeimbangkan antara kedua hal tersebut, karena selain mereka berusaha untuk senantiasa bersemangat, mereka pun menjadikan masalah menejemen waktu sebagai tantangan yang harus diselesaikan, bukan ancaman yang harus ditakuti. Oleh karena itu, untuk menjadi mahasiswa yang senantiasa bersemangat dalam belajar, cara yang dapat dilakukan adalah dengan selalu bergabung dengan orang-orang bersemangat itu, menggali ilmu sebanyak-banyaknya dan menemukan inspirasi dari mereka yang dapat membuat semangat kita meledak-ledak setiap hari untuk senantiasa belajar dan belajar, tidak hanya akademis tetapi juga keterampilan-keterampilan yang tidak ditemukan dalam proses belajar di kelas.
Tugas mahasiswa selanjutnya untuk menjawab tantangan globalisasi adalah selalu berusaha belajar berpikir kritis. berpikir kritis dapat didefinisikan secara sederhana, yaitu ketika seseorang menemukan suatu permasalahan, secara spontan ia tahu langkah-langkah apa yang harus dilakukan untuk berusaha menyelesaikan masalah tersebut. Contohnya, apabila dalam proses belajar seorang mahasiswa diberi kasus oleh dosennya, maka ia tahu yang harus dilakukan pertama kali adalah mengkaji informasi-informasi yang dapat ditemukan dalam kasus tersebut, kemudian menganalisa dan mengelompokkan data-data tersebut sehingga dapat dirumuskan menjadi suatu diagnosa keperawatan. Setelah itu, mencari tahu intervensi atau tindakan apa yang harus dilakukan sesuai tingkat kebutuhan dasar klien dalam kasus tersebut. Berpikir kritis tidak hanya dapat dilakukan oleh orang-orang tertentu, melainkan semua orang bisa melalukannya selama ia mau untuk senantiasa berusaha, baik itu bertanya, mencari referensi diperpustakaan, dsb.  Perawat yang bisa berpikir kritis tidak semata ditentukan oleh seberapa tinggi IQnya atau seberapa besar indeks prestasinya, tetapi berpikir kritis merupakan hasil dari suatu proses belajar dalam perjalanan hidup. Berpikir kritis membutuhkan latihan dalam kehidupan keseharian seorang mahasiswa, tidak hanya ketika ia mengikuti proses belajar di kelas tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu cara sederhana yang bisa dilakukan untuk melatih diri untuk berpikir kritis adalah mencoba untuk memposisikan diri sebagai pengambil kebijakan atau keputusan dalam penyelesaian masalah tertentu, dan menuangkan opini yang terpikirkan untuk menyelesaikan masalah tersebut kedalam bentuk lisan maupun tertulis, baik itu hanya diskusi, catatan harian atau pun sebuah esai. Hal tersebut bertujuan untuk melatih kebiasaan berpikir kritis yang spontan terlintas dalam pikiran ketika suatu permasalahan muncul, baik itu masalah yang sederhana maupun masalah yang kompleks. Pentingnya opini tersebut harus disalurkan baik lisan maupun tulisan adalah untuk melatih kemampuan mahasiswa untuk menyampaikan pemikiran-pemikirannya. Sehebat apapun sebuah pemikiran apabila tidak disampaikan maka tidak ada hasil apapun yang bisa didapatkan dan masalah pun tidak terselesaikan.
Globalisasi keperawatan memiliki cakupan makna yang luas sebagaimana yang telah dipaparkan di atas. Tantangan demi tantangan pun kian menghampiri dan mau tidak mau mahasiswa keperawatan harus dapat menjawab tantangan globalisasi tersebut jika tidak ingin tertinggal, dengan cara mempersiapkan diri untuk berkompetisi. Berusaha mencintai terlebih dahulu profesi keperawatan, bersemangat dalam belajar, dan senantiasa belajar untuk berpikir kritis merupakan bekal yang sangat baik untuk dijadikan tameng pelindung dalam berkompetisi menghadapi globalisasi keperawatan kelak, dan ketiga hal tersebut merupakan tugas masing-masing mahasiswa keperawatan yang harus diimplementasikan dalam proses belajar sehari-hari.