Berbeda dengan negara berkembang lain seperti Thailand dan Filipina
yang saat ini telah memiliki payung hukum yang kuat untuk para
perawatnya, profesi keperawatan di Indonesia adalah profesi yang sedang
berjuang menuju pengakuan publik yang lebih kokoh dalam payung hukum.
Tantangan demi tantangan muncul bersamaan dengan perjuangan tersebut,
baik berasal dari internal maupun eksternal, termasuk globalisasi dalam
bidang keperawatan yang tiap detiknya semakin berkembang. Mengutip
perkataan Scholte, seorang profesor dalam bidang Centre for the Study of Globalisation and Regionalisation (CSGR) di University of Warwick “Globalisasi
memiliki empat tafsiran makna, yaitu internasionalisasi, liberalisasi,
universalisasi, westernalisasi, bahkan sampai hubungan transplanetari
dan suprateritorialitas.” Internasionalisasi diartikan sebagai
meningkatnya hubungan internasional, liberalisasi diartikan sebagai
semakin menurunnya batas antar negara, universalisasi digambarkan
sebagai semakin tersebarnya hal material maupun imaterial ke seluruh
dunia, sedangkan westernalisasi digambarkan sebagai satu bentuk dari
universalisasi dengan semakin menyebarnya pikiran dan budaya dari barat
sehingga mengglobal. Berbeda dengan keempat pengertian di atas,
transplanetari dan suprateritorialitas digambarkan sebagai dunia global
yang memiliki status ontologi1 tersendiri, bukan sekadar gabungan negara-negara.
Melihat cakupan definisi globalisasi di atas, maka makna globalisasi
keperawatan pun dapat diartikan sebagai bentuk berkurangnya batas-batas
negara, semakin cepatnya informasi tersebar diseluruh dunia, dan semakin
mudahnya perawah-perawat asing masuk ke Indonesia serta semakin
sengitnya kompetisi para mahasiswa keperawatan dalam mempersiapkan diri
untuk bersaing dalam dunia kerja kelak. Mahasiswa yang dapat
berkompetisi dalam era globalisasi adalah mahasiswa yang mempersiapkan
diri dengan baik sejak dini. Untuk menjadi profesional yang matang,
tugas seorang mahasiswa adalah menumbuhkan rasa kecintaan terhadap
profesi sebagai perawat, semangat yang tinggi, dan belajar berpikir
kritis. Oleh karena itu, mahasiswa keperawatan yang bisa menjawab
tantangan globalisasi adalah mahasiswa yang cinta akan profesi
keperawatan, senantiasa bersemangat dengan menjadikan masalah yang
dihadapi sebagai sebuah tantangan dan selalu belajar untuk berpikir
kritis.
Dalam mengikuti proses belajar, tugas pertama mahasiswa adalah
terlebih dahulu harus merasakan rasa kecintaannya terhadap bidang
keperawatan dengan mengenalnya terlebih dahulu. Fenomena yang terjadi
saat ini adalah masih banyak mahasiswa keperawatan yang belum menemukan
kepuasan tersendiri dalam belajar terutama pada mahasiswa tingkat awal.
Mahasiswa mengerjakan tugasnya hanya untuk memenuhi tuntutan tugas dan deadline.
Hal ini wajar apabila dirasakan oleh mahasiswa tingkat awal karena
merasa belum terbiasa dengan perubahan cara belajar mereka, tetapi akan
dapat menyulitkan pada masa depan mahasiswa kelak ketika menjadi seorang
perawat apabila belum juga menemukan rasa cintanya terhadap
keperawatan. Alhasil, pandangan masyarakat yang mengaggap bahwa perawat
itu galak, tidak ramah, dsb tidak akan terelakkan. Oleh karena itu,
semangat untuk mencintai dunia keperawatan adalah suatu keniscayaan.
Apabila seorang mahasiswa telah mencintai apa yang ia pelajari, maka ia
pun akan meresapi kalimat demi kalimat dalam materi tersebut, dan ketika
bekerja kelak ia pun senantiasa bekerja dengan hati. Salah satu cara
untuk menimbulkan rasa cinta terhadap keperawatan adalah mencoba untuk
berkonsentrasi terlebih dahulu dalam setiap kesempatan belajar, mencoba
untuk selalu duduk di depan ketika orang lain presentasi, menolak kata
“malas” untuk mendengarkan, mencoba belajar sesuai dengan karakter
belajar, apakah visual, audio atau pun kinestetik, contohnya mahasiswa
dengan tipe visual akan lebih menyukai dan mencintai apa yang ia
pelajari ketika belajar dengan melihat video-video animasi proses
perjalanan suatu penyakit dari pada mendengarkan orang lain menjelaskan,
dsb.
Tugas kedua mahasiswa keperawatan adalah senantiasa bersemangat
dengan menjadikan suatu hambatan atau masalah yang muncul sebagai
tantangan, bukan suatu ancaman. Permasalahan mahasiswa yang banyak
terjadi biasanya mengenai menejemen waktu. Mahasiswa terkadang
menyalahkan banyaknya aktivitas organisasi atau pun kepanitiaan di luar
akademik yang mengakibatkan proses belajar akademik terganggu, alhasil
masih banyak mahasiswa yang menganggap bahwa merupakan suatu hal yang
wajar apabila seorang aktivis kampus memiliki indeks prestasi dibawah
rata-rata. Padahal, dibalik itu banyak juga mahasiswa yang mampu
menyeimbangkan antara kedua hal tersebut, karena selain mereka berusaha
untuk senantiasa bersemangat, mereka pun menjadikan masalah menejemen
waktu sebagai tantangan yang harus diselesaikan, bukan ancaman yang
harus ditakuti. Oleh karena itu, untuk menjadi mahasiswa yang senantiasa
bersemangat dalam belajar, cara yang dapat dilakukan adalah dengan
selalu bergabung dengan orang-orang bersemangat itu, menggali ilmu
sebanyak-banyaknya dan menemukan inspirasi dari mereka yang dapat
membuat semangat kita meledak-ledak setiap hari untuk senantiasa belajar
dan belajar, tidak hanya akademis tetapi juga keterampilan-keterampilan
yang tidak ditemukan dalam proses belajar di kelas.
Tugas mahasiswa selanjutnya untuk menjawab tantangan globalisasi
adalah selalu berusaha belajar berpikir kritis. berpikir kritis dapat
didefinisikan secara sederhana, yaitu ketika seseorang menemukan suatu
permasalahan, secara spontan ia tahu langkah-langkah apa yang harus
dilakukan untuk berusaha menyelesaikan masalah tersebut. Contohnya,
apabila dalam proses belajar seorang mahasiswa diberi kasus oleh
dosennya, maka ia tahu yang harus dilakukan pertama kali adalah mengkaji
informasi-informasi yang dapat ditemukan dalam kasus tersebut, kemudian
menganalisa dan mengelompokkan data-data tersebut sehingga dapat
dirumuskan menjadi suatu diagnosa keperawatan. Setelah itu, mencari tahu
intervensi atau tindakan apa yang harus dilakukan sesuai tingkat
kebutuhan dasar klien dalam kasus tersebut. Berpikir kritis tidak hanya
dapat dilakukan oleh orang-orang tertentu, melainkan semua orang bisa
melalukannya selama ia mau untuk senantiasa berusaha, baik itu bertanya,
mencari referensi diperpustakaan, dsb. Perawat yang bisa berpikir
kritis tidak semata ditentukan oleh seberapa tinggi IQnya atau seberapa
besar indeks prestasinya, tetapi berpikir kritis merupakan hasil dari
suatu proses belajar dalam perjalanan hidup. Berpikir kritis membutuhkan
latihan dalam kehidupan keseharian seorang mahasiswa, tidak hanya
ketika ia mengikuti proses belajar di kelas tetapi juga dalam kehidupan
sehari-hari. Salah satu cara sederhana yang bisa dilakukan untuk melatih
diri untuk berpikir kritis adalah mencoba untuk memposisikan diri
sebagai pengambil kebijakan atau keputusan dalam penyelesaian masalah
tertentu, dan menuangkan opini yang terpikirkan untuk menyelesaikan
masalah tersebut kedalam bentuk lisan maupun tertulis, baik itu hanya
diskusi, catatan harian atau pun sebuah esai. Hal tersebut bertujuan
untuk melatih kebiasaan berpikir kritis yang spontan terlintas dalam
pikiran ketika suatu permasalahan muncul, baik itu masalah yang
sederhana maupun masalah yang kompleks. Pentingnya opini tersebut harus
disalurkan baik lisan maupun tulisan adalah untuk melatih kemampuan
mahasiswa untuk menyampaikan pemikiran-pemikirannya. Sehebat apapun
sebuah pemikiran apabila tidak disampaikan maka tidak ada hasil apapun
yang bisa didapatkan dan masalah pun tidak terselesaikan.
Globalisasi keperawatan memiliki cakupan makna yang luas sebagaimana
yang telah dipaparkan di atas. Tantangan demi tantangan pun kian
menghampiri dan mau tidak mau mahasiswa keperawatan harus dapat menjawab
tantangan globalisasi tersebut jika tidak ingin tertinggal, dengan cara
mempersiapkan diri untuk berkompetisi. Berusaha mencintai terlebih
dahulu profesi keperawatan, bersemangat dalam belajar, dan senantiasa
belajar untuk berpikir kritis merupakan bekal yang sangat baik untuk
dijadikan tameng pelindung dalam berkompetisi menghadapi globalisasi
keperawatan kelak, dan ketiga hal tersebut merupakan tugas masing-masing
mahasiswa keperawatan yang harus diimplementasikan dalam proses belajar
sehari-hari.